W E L C O M E

WELCOME READERS !! 

Sebelum kalian membaca FF di blog ini, baca ini dulu ya readers ^^

Ini adalah peraturan singkat di blog ini yang juga mungkin ada di sejumlah blog yang lainnya :

1. Kita harap semua pengunjung / readers wajib untuk ninggalin komentar / like setelah membaca sebuah FF yang readers baca!

2. Dilarang membuat keributan / masalah di sini!

3. Wajib menghargai sesama readers maupun author di sini!

Okay, kita hanya butuh para readers untuk patuh pada peraturan ini .. So, silakan menjelajahi blog ini!

———————————————————————————————————————————————————————-

Tambahan :

  • Bagi yang mau menjadi author tetap / freelance silakan mendaftar di sini —-> KLIK!
  • Dan yang mau affiliates dengan kita ( funsoshifanfiction ) bisa langsung comment di sini —-> KLIK!
  • Terakhir, untuk lebih gampang mencari FF Oneshoot maupun Series, silakan klik link ini ——> Series | Oneshoot

 

Sekian dan Gamsahamnida –

 

[TEASER] My Lost Sister

Image

Author POV

Flashback

 

“mianhae saya terlambat… saya..” belum sempat wanita itu berbicara, dengan tidak sopannya lelaki yang berdiri seperti seorang petinggi itu menyelanya dengan perkataan kasar, “sudahlah! Aku tidak mau berlama – lama di kawasan kumuh seperti ini. Cepat serahkan bayinya!”

Sempat tergambar suatu keragu – raguan pada wajah wanita itu. Sejenak berpikir, wanita itu menyerahkan sebuah keranjang rotan pada lelaki itu. Lelaki itu menerima keranjang dan menaruh keranjang itu ke dalam mobil miliknya. “bagus… kau beri yang sulung kan?” wanita itu segera mengangguk takut.

“great… oke, hutangmu dan JeonHee telah lunas. Tenang saja…” ujar lelaki itu lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya menghantam sepinya jalanan Seoul pada dini hari, meninggalkan sang wanita sendirian.

TES

Tetesan air hujan membasahi tanah, dari gerimis hingga deras. Membiarkan sang wanita yang terus menatap jalanan kosong dengan wajah menyedihkan. Dia menangis, meratapi perginya anak sulung kesayangannya.

“Im Yoona….”

yuhuuu… aku kembali!!! *munculdarikantongdoraemon*

bagaimana? mau dilanjutkan atau tidak nih ff?

untuk info aja, ini SeoKyu dan YoonHae lhooo…. wkwkwk..

karena sempat kemarin ada readers yang minta YoonHae, yasudah.. aku buatin aja. kebetulan ada ide yang lewat. capcusss…

pendapatnya aku minta ya.. supaya aku tau, mau lanjutkan atau tidak. OK READERS?? GO ON!!

Bertanda , , ,

MOKPO IN LOVE [II]

Image

Annyeong~

 

Author comeback nih dengan karya terbaru author..

Di FF ini memang bukan SeoHyun-KyuHyun seperti biasa, tapi SeoHyun-DongHae

Soalnya author lagi jatuh cinta banget sama DongHae-Yesung. Tapi kali ini DongHae yang menurut author lebih klop gitu. Hehehe

Kalau ada readers yang gak ngerti jalan ceritanya, bilang aja ya.. soalnya di tahap ini masih perkenalan tokoh JooHyun dulu. Hehe

So, Welcome to “ MOKPO IN LOVE “

 

Title:

 MOKPO IN LOVE

Cast:

Seo Joo Hyun

Lee Donghae

Genre:

Romance, Comedy

Length:

Chapter

Don’t to be a silent reders please…

If you don’t like the pair, don’t read

I accept a bash…

~~~

MWO?! Pulang ke Seoul?

 

ANDWAE!!!

 

“aissh~ kenapa begitu tiba – tiba, ahjumma? Bukannya liburanku masih 3 minggu lagi. Aisssh~” gerutuku sambil mengacak rambut panjangku. Bibi Lee Ah hanya membalasku dengan tersenyum simpul tanda tidak tau.

 

“ahjumma~ jebal, katakan pada appa kalau aku masih betah di Mokpo. Aku tidak mau pulang ke Seoul sekarang…” pintaku dengan puppy eyes andalanku. Semoga saja Bibi Lee Ah mau menerima permintaanku ini. “ahjumma~”

 

Dan kalian tau jawaban apa yang dia berikan, penolakan. Dia menggelengkan kepalanya pelan, tanda tidak. “mianhaeyo Seohyun.. tapi ini kemauan appamu. Pulanglah.. bukankah kau masih bisa berlibur di Mokpo lain waktu? Ayolah..”

 

“ahjumma~” pintaku terus, tapi tetap satu jawaban ‘tidak’

 

“AHJUMMA JAHAT!!!” akhirnya aku menyerah meminta terus. Teriakan itu akhirnya menggema. Aku berdiri lalu berlari dengan sedikit tertatih-tatih menuju kamarku. Kubanting pintu kamar dengan keras. Kesal. Itu yang kurasakan sekarang.

 

“AAAHHHHH~!!!!” aku berteriak sekeras yang aku bisa. Kenapa hari ini begitu sial bagiku? Sudah bertemu dengan orang – orang sombong, malah sekarang disuruh pulang ke Seoul tanpa alasan. Frustasi!!!

 

Oke… aku sudah berkeputusan untuk menelepon appa sekarang juga. Harus. Kuraih handphone LG hitam kesayanganku lalu mencari nomor kontak appa, ahaa! Ini dia.

 

“APPA!” aku berbicara saat mendengar telepon diangkat, bahkan sebelum appa bicara aku sudah bicara terlebih dahulu. Sekali – kali boleh donk aku kurang ajar. Heheh…

 

“aduuh Seohyun sayang.. waeyo? Kenapa harus berteriak di telepon? Nanti kalau gendang telinga apa rusak bagaimana?” suara appa terdengar dari seberang. Bahkan dia masih bisa bercanda? Hah.. tidak dapat kupercaya.

 

“aku tidak ingin bermain – main appa.. aku mau minta penjelasan, kenapa appa harus menyuruh aku pulang ke Seoul besok? Aku tidak mau secepat itu appa..” kataku to the point. Saat – saat seperti ini memang tidak ada waktu untuk berbasa basi.

 

“oh soal itu.. ya, kau harus pulang besok. Ada alasan tersendiri appa menyuruhmu pulang, sayang”

 

“aissh~ alasan tersendiri itu apa? Aku tidak mau pulang!” tolakku

 

“aniyo.. tidak bisa appa beritahukan sekarang. Nanti juga kau bakal tau besok. Pokoknya kau harus pulang ke Seoul…!” nada bicara appa mulai meninggi. Sepertinya beliau marah karena aku menolak kemauanya untuk pulang.

 

“andwae! Tidak mau!”

 

“kalau kau tidak pulang, appa akan mengirim asisten park untuk menyeretmu pulang ke Seoul. Tak ada alasan. Harus pulang besok!!!” tit… appa langsung menutup telepon bahkan sebelum aku membuka mulut. Menyeretku ke Seoul? Dengan asisten park? Tidaak… aku tidak mau. Tapi disatu sisi, aku tidak mau pulang..

 

Haissh.. ottokhae?!

 

~~~

Author POV

 

Dengan kecepatan sedang, mobil Ferrari putih itu memasuki pekarangan rumah bergaya tradisional dengan bahan kayu. Rumah itu terlihat sangat sederhana namun juga terlihat cukup mewah. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu kayu yang akan mengantarkannya menuju ruang tamu rumah itu.

 

Seorang pria keluar dari mobil dan berdiri tegak bak seorang petinggi Negara. Dengan tangan yang dimasukkan dalam saku jas yang dikenakannya, pria itu berjalan dengan tegas. Langkah kakinya sangat menunjukkan bahwa ia adalah salah satu orang dari keluarga berkodrat tinggi.

 

“Annyeonghaseyo Tuan Lee Donghae” hormat seorang kepala pelayan dengan membungkuk. Donghae, nama dari lelaki itu. Teguran seorang kepala pelayan membuat langkah kakinya berhenti, tetapi tetap memandang lurus ke depan.

 

“Mr. Kang, antarkan aku ke ruangan ahjumma” perintah Donghae yang disambut dengan anggukan hormat dari Mr. Kang

 

Sepuluh menit kemudian, kini Donghae berada di depan pintu kayu berukir aksen korea. Pintu di dorong pelan oleh Mr. Kang lalu masuk ke dalam ruangan diikuti Donghae. Seorang wanita paruh baya tengah duduk di sofa seraya meminum teh hijau, sontak wanita itu mendongakkan kepalanya. “Donghae-ah” sambut wanita itu lalu berjalan ke arah Donghae dan memeluknya. Donghae hanya dapat membalas dengan pelukan ringan dan senyum khasnya.

 

“ahjumma… ada apa memanggilku ke sini?” Tanya Donghae to the point setelah Mr. Kang meminta undur diri dari ruangan itu.

 

“oh.. ayolah Donghae kecilku. Kau masih sama seperti terakhir kita bertemu, selalu berbicara to the point. Berbasa – basilah sedikit” tawa wanita itu seraya membawa secangkir teh hijau hangat.

 

“kau tau aku tak suka berbasa – basi bukan” mata Donghae mendelik saat wanita itu menyuguhkan teh itu di hadapannya.

 

“aku tau… aku tau dirimu yang terlalu menghargai waktu. Tapi ayolah… sebentar lagi kau akan memiliki seorang istri”

 

“mwo? Maksudmu apa? Istri? Aku bahkan…”

 

“ne.. seorang istri. Istri yang akan selalu menyediakan sarapan dan memakaikanmu dasi saat pergi kerja” potong ahjumma itu memotong perkataan Donghae.

 

“aku bahkan belum memiliki yeojachingu, ahjumma!”

 

“pria sepertimu takkan pernah mendapat yeojachingu. Kau akan merasa sayang jika waktumu terbuang hanya untuk berkencan, bukan?” nada suara ahjumma itu masih tenang, walaupun lawan bicaranya sudah terlihat sangat gusar.

 

“ YAK!” jawab Donghae tidak terima.

 

“ Sahabatku di Seoul, mengajukan suatu penawaran kepadaku agar menjodohkanmu dengan anaknya. Dan melihat kondisimu sekarang, aku tak keberatan.” Lanjut ahjumma

 

“MWO? MAKSUDMU PERJODOHAN?!”

 

Donghae POV

 

Aku masih tak habis pikir dengan jalan pikiran ahjumma. Aku memang adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu. Tapi bukan berarti aku tidak ada akan pernah memilki seorang kekasih apalagi istri. Ada waktunya itu semua.

 

“Sahabatku di Seoul, mengajukan suatu penawaran kepadaku agar menjodohkanmu dengan anaknya. Dan melihat kondisimu sekarang, aku tak keberatan” lanjut ahjumma

 

Tunggu. Dari perkataannya, aku seperti mendapat suatu maksud tersirat, apa ini artinya..

 

“MWO? MAKSUDMU PERJODOHAN?!” ahjumma menangguk. “AHJUMMA!” sentakku lagi. Tapi seperti biasa, seperti apapun aku membalasnya dengan nada tinggi, tetap saja dia akan tenang tanpa suatu tanda akan kesal.

 

“kau hampir berkepala tiga, Donghae” jawabnya tenang. Aku berdecak kesal, usiakah alasannya? Tak masuk akal. Umurku 25 tahun, suatu umur yang tidak terbilang tua. Wajahku juga masih seperti para anak muda sekarang.

 

“itu tak masuk akal, ahjumma! Jangan seenaknya menjodohkanku!”

 

“kau tak kasihan pada appamu? Kau tak ingat janjimu padanya sebelum dia meninggal?” janji… ya, aku ingat janji itu. Janji dimana kalau dia akan segera melihatku mengikrar janji suci pernikahan di depan altar dan memberinya seorang cucu. Tapi takdir berkata lain, appa meninggal bahkan sebelum aku mendapat seorang yeojachingu.

 

“tapi…”

 

“tak ada tapi – tapian. Besok kau harus pergi ke Seoul untuk melihat calon istrimu itu!” tegas ahjumma.

 

“MWO???”

~~~

Author POV

 

“APPA!!! KENAPA HARUS MENYURUH ASISTEN PARK YANG MENUNGGUKU DI STASIUN?!!” teriak Seohyun jengkel saat memasuki ruang keluarga rumahnya. Penglihatannya menangkap sosok appa dan eommanya yang sedang menonton berita pagi.

 

“Seohyunnie sayang sudah pulang…”ucap appa Seohyun tanpa menggubris pertanyaan keras Seohyun.

Seohyun merenggut kesal sambil melipat tangan di dada. Ia memandang ke arah lain tanpa melihat appa maupun eommanya.

 

“aigoo… hyunnie eomma ngambek” seru eomma Seohyun mengikuti jejak suaminya yang terus menggoda Seohyun.

 

“ayolah.. aku lagi tak suka bercanda” sahut Seohyun tetap dengan perasaan kesal.

 

“oh.. ne ne. tapi duduk dulu ya sayang, nanti appa jawab sebisa appa” jawab appa Seohyun dan membawa Seohyun ke sofa untuk melepas lelah.

 

“perjalanan dari Mokpo dengan kereta pasti sangat lelah. Mau eomma buatkan makanan kecil?” Tanya eomma Seohyun lembut.

 

“terserah eomma.. tapi berbahan kentang ya eomma” pinta Seohyun dengan wajah bernafsu *eh?* , maklumlah, kentang adalah salah satu makanan favoritnya.

 

Seohyun POV

 

Aku menghela nafas lega setelah menempuh perjalanan dari Mokpo ke Seoul dengan kereta api. Kuregangkan tanganku lebar – lebar, menghirup udara dingin dari AC ruangan yang terpasang. Kulirik appa yang hanya geleng – geleng melihat kelakuanku.

 

Aku tersadar apa yang sekarang harusnya aku proteskan. Begitu banyak pertanyaan yang harus kuajukan sekarang. “appa….!” Kulipat tanganku di depan dada lalu mengerucutkan bibirku, sikapku bila sedang ingin ngambek atau marah.

 

“hmmm..” jawab appa tanpa melihatku. Aku merenggut kesal, “kenapa appa menyuruhku pulang ke Seoul? Kenapa appa terus memaksaku untuk pulang? Ada apa appa? Liburanku kan masih setengah bulan lagi. Lalu apa lagi itu, kenapa harus asisten park yang menjemputku di stasiun kereta? Appa tau kan kalau aku kurang suka dengan asisten park.” Semprotku pada appa dengan banyaknya pertanyaan. Aku mesti mendapat jawaban jelas.

 

Appa melongo melihatku, “aigoo.. Seohyun sayang, jangan bertanya dengan bertubi – tubi seperti itu. Satu – satu ya..”

 

“isshh… ayolah appa. Walaupun banyak pertanyaan, appa pasti bisa jawab kok” cerocosku.

 

“oh.. baiklah, appa memang tak pernah menang darimu.” Aku memutar mata kesal. Masih bisa juga dia bercanda.

 

“ada alasan tersendiri kenapa appa menyuruhmu segera pulang. Kau akan tau itu malam nanti. Lalu masalah asisten park, appa tau kau kurang suka dengan dia. Tapi hanya dia, yang akan membuatmu patuh melakukan segala sesuatu tanpa harus menggunakan bentakan” benar – benar jawaban yang tidak aku harapkan. Malam? Ada apa… kenapa tidak sekarang saja sih.

 

“tapikan..!” baru akan kulanjutkan omonganku dengan kata – kata pedas, eomma sudah menyela dengan bau cake kentang kesukaanku. “hmm.. cake kentang!” seruku lalu bergegas menuju dapur. Appa hanya kembali menggeleng – gelengkan kepalanya lalu memfokuskan dirinya pada berita yang sedang disebarkan.

 

‘Pengusaha muda Lee Donghae, baru saja terpilih sebagai pria idaman para wanita Seoul. Karismanya sebagai seorang pria dan seorang yang sangat berwibawa , didukung dengan ketampanan serta postur tubuh tegap dan tinggi, membuatnya dipilih banyak wanita Seoul sebagai seorang pria idaman sebagai seorang pendamping hidup. Terpilihnya dia sebagai pria idaman membuat banyaknya para netizen berkomentar akan berita ini, berikut tayangannya’

 

~~~

Jarum jam menunjukkan tepat pukul 5 sore. Sedangkan berdasarkan appa, aku akan mendapat jawabanku jam 7 nanti. Bukan hanya itu, appa bahkan menyuruhku berdandan secantik mungkin. Menggunakan dress resmi dan bersikap layaknya wanita berkelas.

 

Untuk penampilanku malam ini, aku tidak terlalu heboh seperti biasanya aku pergi ke pesta. Karena menurut alibiku, appa akan mengajakku makan malam bersama rekan – rekan kerjanya atau bisa dibilang sahabatnya semasa sekolah dulu. Appaku memang paling bersahabat. Dia juga sering mengajakku dengan eomma untuk sekedar berkenalan saja.

 

dress panjang berwarna pink dan sepatu ber-hak tinggi berwarna kuning  melengkapi penampilanku. Sudah kubilang kalau penampilanku akan sangat biasa, bukan. Rambut hitam bergelombang kugerai saja. Simple bukan? Make upku juga tidak mencolok. Hanya sedikit riasan yang kupakai.

 

 

 

“Eomma.. Appa” panggilku pada kedua orang tuaku yang telah siap di ruang keluarga. Eomma seperti biasa berpenampilan sebagai seorang wanita berkelas. Pakaiannya tidak pernah terlepas dari kata anggun. Dan appa? Jangan kalian tanya pria yang sudah berkepala lima ini, jas hitam serta kemeja abu – abu dilengkapi dengan dasi hitam serta sepatu hitam khas pejabat telah dikenakannya. Gaya andalan.

 

“woo… neomu yeppeo!” ucap Appa saat melihatku. Aku tersipu malu mendengarnya, walau sudah berulang kali appa mengatakan kata itu, tapi aku tak pernah bosan mendengarnya. Siapa sih wanita yang akan menolak dibilang cantik? Eomma hanya manggut – manggut menanggapi ucapan appa. “Seohyunnie memang tak pernah jelek. Siapa dulu eommanya,” bangga eomma dengan senyum lembutnya.

 

“ahahahaha… itu benar” tanggap appa. Beliau segera menuntun kami menuju mobil van yang akan mengantar kami. Tentu saja ada supirnya.

 

~~~

Restoran bergaya italia merupakan tempat tujuan kami sekarang. Elegan. Satu kata yang dapat kucetuskan untuk restoran ini. Benar – benar sangat elegan dan tentu saja, berkelas. Aku berjalan dibelakang eomma dan appa. Aku mengekori mereka, benar – benar seperti anak itik yang sedang mengikuti induknya kemana saja induknya pergi.

 

Pandanganku menyapu seluruh restoran ini. Oke,, aku jujur saja. Aku belum pernah datang ke tempat seperti ini. Karena memang appa lebih suka mengajakku ke restoran bergaya tradisional korea.  Tak ada satu sudutpun yang kulewatkan. Kebanyakan pelanggan disini sepertinya adalah orang – orang yang memegang banyak uang. Lihat saja gaya mereka.

 

Tiba – tiba saja,eomma dan appa berhenti pada sebuah meja kosong. Dimana teman – teman appa? Apa mereka belum datang? “ayo duduk Seohyunnie” ucap eomma. Aku hanya menurut saja lalu duduk sebelah eomma.

 

“appa!” panggilku.

 

“ne?”

 

“apa ini adalah family dinner?” tanyaku antusias. Tentu saja antusias, walaupun terbilang appa yang baik dan perhatian, appa sangat jarang mengadakan makan malam keluarga. Appa hanya tertawa kecil lalu menjawab pertanyaanku, “oh.. tentu saja” aku tersenyum girang mendengar jawaban appa. Kutegakkan badanku menunggu pelayan yang akan memberi daftar menu, aku akan memesan makanan termahal disini!

 

5 menit, 10 menit, pelayan itu tetap saja belum datang. Dan anehnya, appa dan eomma tetap saja tenang tanpa ada raut wajah akan melabrak para pelayan karena tak kunjung melayani kami. “issh… appa”

 

“ne. waeyo?”

 

“aku sudah lapar. Ayolah…”

“sabar sebentar ya…” appa mengeluarkan hp touch screen hitamnya lalu seperti mengetikkan sms kepada seseorang. Aku merenggut kesal, perutku sudah minta diisi sedari tadi.

 

“sajangnim.. mianhae saya terlambat” suara seseorang dari belakangku membuatku segera menoleh. Seorang pria tegap tengah berdiri dengan nafas yang cukup tersengal. “ohh.. Donghae-ssi. Untung saja kau sudah datang. Kukira kau takkan datang” ucap appa dengan raut wajah senang. Berbeda dengan appa, aku tentu saja langsung berdiri dan berteriak, “KAU!”

 

Sontak seluruh restoran melihatku. Sadar atas apa yang kulakukan, appa langsung menunduk tanda maaf. “errrr… kau lagi!” pria ini tentu saja tak jauh beda dariku. Pria sombong yang sudah mendapat pelajaran dengan pengrusakan body mobil itu.

 

Appa terlihat bingung melihat kami berdua. Aku merenggut kesal dan melipat tangan di dada. “kenapa kau ada disini?!” ucapku setengah berteriak. Tentu saja agar tidak menghasilkan malu.

 

Bukannya dia yang menjawab, malah appa yang berkata “kalian sudah saling mengenal?”

 

“Tentu saja tidak!” ucap kami bersamaan. Mwo? Bersamaan? Dasar pengikut!

 

“Seohyunnie.. duduklah” “Donghae-ssi, mari duduk” ucap appa dan eomma. Dengan kesal aku kembali duduk. Tapi mataku tidak lepas dari pria mokpo sombong yang juga duduk dihadapanku. Tatapan kami terus berseteru.

 

“ohoho… ada apa ini?” tanya appa lagi. Pria ini langsung menutup matanya lalu memandangi appa, “mianhamnida tuan atas sikapku yang aneh” ujar pria sombong itu.

 

“oh.. gwenchana. Kalian sudah saling kenal?”

 

“sudah kubilang tidak, appa!” jawabku dengan kesal.

 

“baiklah.. nona, perkenalkan. Lee Donghae imnida” ucap pria ini errr.. sopan. “Seohyun.” Balasku singkat. Masih ada rasa kesal karena kejadian tabrakan tak bertanggung jawab dan pengrusakan body mobil itu. Donghae –pria sombong ini– mengulurkan  tangannya, dengan malas aku menyambutnya untuk bersalaman.

 

Appa tersenyum melihat kami, “sepertinya akan sulit ya, istriku” ujar appa pada eomma. Eomma hanya membalas dengan kekehan kecil. Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa makanan, padahal aku belum memesan, mungkin appa sudah membooking dan memesan lewat telepon. Steak dan beberapa minuman menemani makan malam ini.

 

Dengan sadis, kupotong steak yang menjadi santapanku. Donghae juga terlihat kesal, dia terus makan tanpa mengangkat kepalanya sama sekali. Terus ditatapnya steaknya dengan mata kesal. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

 

“ehhmm…” appa sepertinya akan berbicara

 

“apa kalian tau kenapa saya mengundang kalian kesini?” tanya appa dengan sifat wibawanya. Aku menggeleng.

 

“aku dan Lee Ah, berencana  untuk menjodohkan kalian” aku terbatuk. Apa? Perjodohan? Bibi Lee Ah?

 

“MWO? YANG BENAR SAJA?!” Aku berteriak saat itu juga. Tidak kugubris tatapan mematikan dari setiap orang yang seakan berkata -diamlah-kau-. Tapi Donghae tetap saja tenang. Apa dia sudah tau tentang hal ini? Pantas saja matanya terasa kesal saat melihatku. Aku tak mau!

 

“ne Seohyunnie.. eomma rasa, kau sudah pantas untuk memiliki seorang suami.” Kata eomma.

 

Kuhempaskan pisau dan garpu yang sedari tadi kupegang, “tidak! Aku menolak perjodohan ini! Aku tak mau dijodohkan dengannya!” tolakku mentah – mentah. Appa, aku bukan bonekamu lagi yang dapat kau mainkan seenaknya.

 

Donghae tersenyum kecil lalu angkat bicara, “sudahlah.. percuma kau tolak”

 

Aku mendelik tajam dirinya. Andai saja aku jahat, sudah kutusuk perutnya itu dengan pisau steak. “maksudmu apa? Siapa kau, ha!” balasku kasar.

 

“hahaha…Seohyun sayang, appa harap kau tidak menolak. Karena jika kau menolak, sama seperti kata Donghae, percuma”

 

“percuma kenapa appa?”

 

“kau sudah diikatkan benang merah sedari kecil dengannya. Jadi, kalian tetap saja tidak bisa terpisah” tak masuk akal. Appa masih saja percaya dengan tradisi benang merah itu?  Benar – benar diluar nalar.

 

“aku tak peduli. Pokoknya aku…”

 

“KAU MESTI MENIKAH DENGAN DONGHAE!” bentak appa dengan memotong perkataanku. Aku terdiam. Aku memang tak pernah bisa mengelak jika appa sudah mengeluarkan suara bentakan.

 

“aissh…”

 

~~~

What the hell! Sekarang dengan sengaja appa menyuruhku pulang dengan pria mokpo sombong berwajah ikan ini? Appa berkata dia dan eomma  akan mengunjungi teman lama yang baru saja tiba dari London. Benar – benar trik kuno, appa!

 

“sudahlah.. sudah kubilang percuma bukan, nona kodok” namja stress itu kini membuka keheningan yang terjadi dalam mobil.

 

“apa maksudmu nona kodok, ha?! Dasar namja stress!” balasku sengit. Seenaknya saja mengataiku nona kodok.

 

“ahjumma yang memberitahuku. Katanya, kau suka sekali dengan animasi kodok jelek yang apa namanya? Kekero?”

 

“MWO? Apa maksudmu kekero?! Namanya  keroro! Aku merasa terhina kau mengatakan keroro jelek! Setidaknya keroro masih lebih tampan dan lebih baik darimu, namja stress!” cerocosku. Seenaknya saja dia mengatakan keroro itu kekero dan mengatakan kodok jelek. Menjengkelkan.

 

“aku punya nama! Namaku itu Donghae, dan satu lagi, sejak kapan kekero, eh.. kerero atau apalah itu menjadi lebih tampan dan baik dariku?! Dia hanyalah seekor kodok jelek berlendir!” balasnya tak terima.

 

“KERORO!!!! DASAR IKAN!!!”

 

“NONA KODOK JELEK!!!”

 

“IKAN!”

 

“KODOK!”

 

“IKAAAAAN!!!!”

 

“KODOOOK!!!!”

 

“IKAAN!”

 

“KODOOOK!!!”

 

“IKAAAAAANN…!!!!!!”

 

“KODOOOOKK!!”

 

“IKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

“Hhh.. CUKUP!!!!”pekikan kami akhirnya berhenti. Benar – benar namja ini selalu mengajakku untuk melakukan pertengkaran atau pengataian. “huh! Dasar ikan!” gerutuanku masih saja berlanjut, tapi aku berusaha untuk tidak memandang wajah namja ikan nemo ini.

 

Aku mendengar kekehan kecil dari mulutnya walau matanya tetap fokus menyetir. Untuk mengurangi rasa penasaranku, aku bertanya “apa yang kau tertawakan?” tetap saja dengan ketus.

 

“kita saling mengatai seperti anak kecil yang sedang berebutan mainan. Benar – benar kekanakan..”

 

“kau sendiri yang mulai dengan mengataiku kodok.. menjengkelkan”

 

“baiklah.. aku menyerah. Hmm.. seo-ssi” tidak kuhiraukan panggilannya, aku tetap menatap pemandangan malam seoul yang masih hiruk pikuk.

“Seohyun-ssi” panggilnya lagi.

 

“wae?” tujuan semulaku untuk tak menjawab runtuh. Entah mengapa lelaki ini selalu membuatku semangat untuk membalas ucapannya.

 

“ apa kau.. menerima perjodohan ini?” aku mengernyit bingung mendengar ucapannya. Tentu saja tidak. Harusnya dia tau itu. Penolakanku saat di restoran tadi seharusnya sudah menunjukkan kalau aku benar – benar tidak ingin ada perjodohan ini. Tetapi dia sendiri bilang, percuma saja aku menolaknya, karena appa akan tetap menikahkan kami berdua. Benar – benar…

 

“ani.. kau tau itu”

 

“oh.. ya. Aku tau itu. Hanya,,, jika memang takdir mengharuskan kita untuk menikah. Apakah kau..”

 

“cukup berkata hal yang tidak jelas, Donghae-ssi” aku langsung membuka pintu mobil saat aku melihat mobilnya telah berhenti tepat di rumahku. Donghae pun  begitu, dia segera menyudahi perkataannya dan ikut turun dari mobil, masuk ke dalam rumah.

 

KLEK

 

Cahaya lampu menerangi rumah yang sedari tadi gelap. Aku tau kebiasaan asisten park yang akan mematikan lampu rumah pada saat malam jika tidak ada orang di rumah, ataupun jika ada pekerja, hanya ruangan yang digunakan saja yang dinyalakan lampunya. Benar – benar suatu wujuh penghematan yang baik.

 

“appa-nim dimana?” aku melongo tak percaya menatap lelaki yang mengikutiku dari belakang dan kini telah berdiri tepat di sampingku. “berani sekali kau memanggil appaku dengan panggilan appa-nim sedangkan kita saja belum terikat pernikahan” sahutku.

 

“appa-nim yang tadi menyuruhku memanggilnya seperti itu” aku menggeleng kesal.

 

Aku segera melepas sepatuku dan berjalan menuju kamarku yang berada di lantai dua. Sedangkan Donghae langsung meraih remote tv dan menonton salah satu siaran hari ini, entah apa itu. Jika melihat keadaan rumah, sepertinya appa dan eomma belum pulang. Keadaan rumah sangat sepi, tak ada seorang pekerja pun yang tampak. Mungkin ini karena libur yang appa berikan selama musim panas ini.

 

Drrt.. drrrt.. getaran dari ponsel cerdas milikku membuatku segera melihat pesan masuk. Sudut bibirku tersungging naik saat membaca pesan itu

 

From: Kyuhyun oppa

 

Chagi.. aku sudah tiba di Korea. Maukah kau ke club untuk bertemuku?

Aku mencintaimu :*

 

TBC

 

Haduh.. rencananya gak bakal masukkin Kyuhyun disini. Tapi otakku benar – benar sparkyu, akhirnya ada cast Kyuhyun deh. Tapi readers ingat ya.. ini ff SeoHae. Jadi, endingnya pasti SeoHae *dilempar wires*

 

Sekali – kali Seohyun dengan member suju lain gak papa donk XD

Tapi kan hanya fanfic. Di kehidupan nyata, mesti seokyu donk.

RCL readers…

Bertanda , ,

Last Time

Last Time

 

Wuhuu… author Priskila kembali dengan ff terbaru nih.

Tenang saja chinguya, gak bakal series lagi kok.

Oneshoot saja. Hehehe

Gak mau nambah utang ff series mulu. Makanya untuk mengulur waktu (?) aku buat ff oneshoot. Moga – moga readers pada suka ya..

So, cekidot~

 

Title: Last Time

Author: Priskila

Cast: Seo Joo Hyun, Cho Kyuhyun

“Seo-ah, kau bisa tunggu aku di café biasa? Aku mau kita bertemu sekarang”

 

“ada apa oppa? Kenapa tiba – tiba oppa menyuruhku bertemu sekarang?”

 

“sudahlah.. jangan  banyak tanya. Temui aku sekarang di café!”

Kling.. kling..

 

Gerakan lonceng di pintu masuk café tanda ada orang masuk terdengar jelas. Sontak aku berbalik melihat siapa yang datang, hatiku berharap dialah yang datang. Namun apa yang kudapat, bukan dia. Kyuhyun oppa menyuruhku untuk segera datang ke café karena katanya ada urusan penting. Aku bingung dengan perintahnya semula, karena tidak biasanya dia menyuruhku.

 

“Hhhh…” helaan nafasku terdengar samar di pendengaranku. Mataku bergerak menuju jam dinding yang tergantung di dinding cafe. Jarum jarum jam itu menunjukkan pukul 3 lewat 5 menit. Dan aku tau apa artinya, artinya aku sudah menunggu satu setengah jam semenjak telepon tadi.

 

Aku berusaha menelponnya, tapi bukannya dia yang menjawab, operatorlah yang menjawab “maaf, nomor yang anda tuju sedang dalam keadaan tidak aktif”

 

Jawaban itulah yang sedari tadi kudapat. Tidak aktif. Lalu aku bagaimana? Menunggu dia hingga café tutup? Itu gila!

 

“aissh.. Kyuhyun-ah” kesebutkan namanya untuk kesekian kali. Berharap lagi dia akan datang secepat mungkin. Pikiranku mulai menggila, aku mulai berpikir dia sengaja membuatku menunggu lalu menyuruh orang untuk mengatakan bahwa dia tidak datang. Atau mungkin, dia akan datang tetapi itu saat café akan tutup. Atau,,, dia diculik keroro saat dalam perjalanan kesini? Aihh.. keroro! Kenapa kau menculik Kyuhyun oppa?!

 

“mana mungkin ? keroro menculik Kyuhyun oppa? Aihh~ Seo, sadarlaaah!!” aku mengacak rambut panjangku yang tergerai pelan. Aku sepertinya sudah gila karena penantian ini. Ganti berpikiran gila, aku mulai memijit mijit pelan jemari tanganku. Ibu jari, telunjuk, tengah, manis… pandanganku mendapatkan sesuatu dan membentuk lengkungan yang disebut senyum di bibirku. Cincin.

 

Oke. Ini bukanlah cincin mahal seperti emas, berlian atau apa. Tapi ini berharga, sangat berharga. Cincin couple yang kubeli di China tahun lalu. Cincin yang mungkin hanya seberat 2 gram namun mengandung arti yang sangat berharga. Tahukah kamu? Aku memberikan ini pada Kyuhyun oppa saat ulang tahunnya ke 23 lalu. Dapat kuingat wajahnya yang berseru senang karena akhirnya kami memiliki tanda bukti fisik cinta kami. Kyuhyun oppa memang bukanlah lelaki romantis seperti yang diidamkan banyak wanita. Dia cuek, terbilang sangat cuek. Bahkan untuk bertemu saja aku harus memaksa dan merengek. Dia jarang menghadiahkanku sebuah buket bunga atau candle dinner romantis, hal – hal seperti itu hanya akan dilakukannya pada hari penting, seperti ulang tahun atau hari jadian kita, itupun jika dia ingat.

 

Tapi aku menyukainya. Ya, aku juga mencintainya. Dia memang sering menomor satukan pekerjaan pada aktivitasnya ketimbang menanyakan kabarku atau mengatakan cinta padaku, tapi setidaknya aku masih berada pada urutan 3 besar hal terpenting di hatinya. Yang ku tau aku berada pada nomor 3, ha~ kasian sekali kau Seohyun, kau dikalahkan pekerjaan dan starcraft, game kesukaan Kyuhyun. Dia rela tidak tidur demi starcraftnya itu. Kelakuannya membuatku cemburu pada game satu itu. Cemburu pada game. Aneh dan.. tidak masuk akal. Tapi inilah aku, aku bahkan dapat cemburu pada laptopnya yang bisa setiap waktu ditatap dan menatap Kyuhyun oppa.

 

Kuelus pelan cincin yang terlingkar di jariku dan kutau juga melingkar di jari Kyuhyun oppa. Lalu kukecup cincin itu lama hingga suatu tepukan menyadarkan aktivitasku barusan. “Seo-ah..”

 

Ah. Akhirnya dia datang juga. Kyuhyun oppa seperti biasa lengkap dengan pakaian kerjanya berdiri disampingku. Wajahnya menampakkan kelelahan yang amat sangat, kasihan dia. Pekerjaannya menuntut dirinya untuk terus bekerja tanpa berhenti, hingga dia sangat kelelahan.

 

“oppa kenapa lama sekali? Aku sudah lumutan menunggumu!” aku berpura – pura ngambek seraya melipat kedua tangan didepan tangan saat dirinya sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan kursiku.

 

“…….”

 

Dia tak menjawab? Tumben sekali. Biasanya dia akan menjawab, “issh~ kau ini, masih untung aku mau datang. Aku meninggalkan pekerjaanku dan aku yakin bosku akan memarahiku saat aku kembali nanti!!” atau “jalanan macet pabo! Kalau tak percaya, lihat sana!” tapi sekarang apa yang aku dengar? Hanyalah udara dingin yang berhembus pelan dari AC café yang letaknya tak jauh dariku.

 

“oppa? Kau kenapa?” tanyaku melihat dirinya yang diam saja menatap ke bawah. Kuikuti arah pandangannya tapi tak ada yang menarik di bawah sana. Hanyalah ubin lantai kotak dan sepatu miliknya. “ada apa?” tanyaku lagi. Tapi sama saja, dia diam.

 

Keheningan menyelimuti kami untuk beberapa saat. Aku tak ingin terus bertanya takut dimarahi. Mungkin dia ada masalah dengan bosnya, dan mungkin dia ingin menyimpan rasa itu sendiri. Ya sudahlah~ tak apa.

 

“Seo Joo Hyun” namaku disebut olehnya membuka keheningan yang tercipta. Aku mengernyit, tidak biasanya dia akan menyebut nama lengkapku. “wae oppa?”

 

“kau mencintaiku?” pertanyaan bodoh terlontar dari mulutnya. Aku memutar kedua bola mataku lalu menjawab, “kau kehabisan pertanyaan ya? Tentu saja aku mencintamu, pabo! Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau bertahan dengan namja evil sepertimu!” ketukan pelan kudaratkan di kepalanya. Dia tak meringis, gantinya hanyalah senyum kelu. Sebenarnya ada apa?

 

“tapi… kalau takdir tidak membiarkan kita terus bersama, apa kau akan melepasku?” DEG! Pertanyaan barusan membuatku pikiranku mulai menggila, otakku seakan mengerti apa maksud perkataannya. Tetesan air mata membasahi pipiku. Aku menangis. Aku tidak tau kenapa aku menangis tapi air mata ini tak dapat berhenti.

 

“maksudmu apa oppa? Kau mau hubungan kita… berakhir?” kata terakhir dari kalimat yang kulontarkan terasa sangat menyakitkan diucapkan. “aniyo~ aku tak mau mengucapkan kata itu. Tapi… ini” Kyuhyun oppa meraih sebelah tanganku lalu meletakkan cincin bukti cinta kami di atasnya. Aku cukup terkejut dengan perlakuannya, dia sungguhan? “oppa..”

 

“maaf.. aku tidak bisa menyimpan dan membiarkan benda ini terlalu lama ada di diriku. Aku tak dapat”

Aku terus menangis mendengar ucapannya. Setelah 3 tahun kita berpacaran, haruskah kita berpisah dengan cara ini? Aku tak mau. Jika bisa, aku rela menukarkan apapun untuk menghapus kejadian ini.

 

“aku tak bisa bertahan lebih lama denganmu, maafkan aku. Kau bisa cari yang lebih baik dan setia daripadaku. Mianhae Seohyun-ah” perkataanku adalah perkataan terakhir yang kudengar dari dirinya. Kusadari sekarang Kyuhyun telah pergi. Pergi meninggalkan luka yang begitu menoreh dalam hatiku. Aku memandang cincin yang masih berada pada genggamanku. Bibirku tersenyum miris meratapi kejadian yang baru saja aku alami.

 

“kau jahat oppa~ kau jahat!” desisku pelan lalu mengeluarkan air mata.

 

“bagaimana.. kau sudah memberikan cokelatnya?”  tiba – tiba aku mendengar sebuah suara. Ya,, aku tau suara itu. Suara Kyuhyun.

 

“tidak. Kau kasih saja sendiri.. buat apa aku memberikan cokelat ini pada Yuri? Aku tidak mau” aku masih ingat. Kyuhyun yang saat itu masih berstatus sahabatku memintaku agar menyerahkan cokelat cinta yang sesungguhnya buatan Ryewook oppa tapi dibeli Kyuhyun untuk diserahkan kepad Yuri. Aku tentu menolaknya, mengingat aku mencintai namja ini.

 

“aish.. Seohyun, ayolah. Berikan itu pada Yuri”

 

“tidak”

 

“jebal…”bahkan dia memohon hingga berlutut dan mengeluarkan jurus puppy eyesnya, yang sesungguhnya sangat menjijikkan.

 

“aissh.. baiklah”

 

“mwo? Dari Kyuhyun?” Yuri menerima cokelat itu dengan keterkejutan. Tentu saja, tapi aku sungguh tidak ikhlas melakukan hal ini.

 

“ne.. dia juga memberi surat ini. Semoga saja kau menerima namja setan sepertinya ya~” kuserahkan semua lalu berjalan menjauh. Kalimat terakhir itu sebenarnya sangat tidak ikhlas kuucapkan. Tapi apa daya, sekarang tinggal menunggu saat mereka bermesraan di hadapanku.

 

Yuri tersenyum membaca surat itu juga tertawa kecil. “Seohyun-ah. Tunggu!”

 

“waeyo?” tanyaku lalu berjalan mendekati Yuri yang tersenyum senang. Apakah dia akan berterima kasih?

 

“nih..” Yuri segera memberikkan kotak cokelat itu kepadaku dan menyuruhku membukanya. Aku patuh lalu… JEONGMAL SARANGHAE SEOHYUN! BE MY GIRLFRIEND NOW!!! OKAY? :D

Aku masih ingat kalimat yang terpampang di kertas yang tertempel pada bagian dalam kotak cokelat itu. Kalimat itu memang seperti paksaan, tapi aku suka.

 

 

“oppa! Kenapa kau menceburkanku!!” memoriku terputar lagi. Kali ini kami berada di kolam renang, tepatnya aku dalam kolam karena dia menceburku, lalu dia di atas sambil menertawaiku.

 

“hahahaha… hey jelek, sudah kubilang kan kita harus selalu sama. Jadi jika aku tercebur dan basah, kau juga harus seperti itu”sentaknya diiringi beberapa cekikikan

 

“begitu ya? Kalau begitu… sinii!!!”aku menarik tangan namja itu lalu

 

BYURR

 

“nappeun! Kau membuatku makin basah!!!”

 

“hahahaha.. tidak boleh begitu oppa. Kau hanya basah setengah, sedangkan aku seluruh badan. Jadi kau juga harus seluruh badan basah. Kan kita harus selalu sama kan?”

 

“aissh… dasar! Rasakan ini…!!!” cipratan air mengenai tubuh kami tapi itu mengasyikkan. Kami larut dalam permainan itu.

 

Memoriku terputar terus. Bagaimana kencan pertama kami, ciuman pertama kami, hingga pertemuan terakhir kami tadi. Sungguh mengenaskan kisahku ini.

 

“oppa… kita harus selalu sama kan?” aku bertanya seakan ada orang didepanku. Tapi hanya dijawab oleh angin kosong. Aku tersenyum, “baiklah… kita harus selalu sama. Kau tidak bisa bersama cincin ini, kalau begitu aku juga. “ aku mencium cincin itu terakhir kalinya dan melepasnya. Kutaruh cincin itu di meja café lalu tersenyum lagi, “tunggu aku Cho Kyuhyun… saranghae” ucapku lalu melangkah keluar.

 

END

 

Gaje yah? T.T

Mian aku buat ff ancur gini. Soalnya moodku memang lagi sedih jadi bawaannya gini deh.

Heheh… mianhae ya. RCLnya aku tunggu readers!

dan sepertinya akan ada sequel. berhubung aku gak kuat kalau ada ff seokyu gantung gini. hehehe

Bertanda ,

MOKPO IN LOVE [1]

MOKPO IN LOVE [1]

Annyeong~

Author comeback nih dengan karya terbaru author..

Mianhae kalau ff yang lain belum author lanjutin. Soalnya laptop author rusak berat. Gak bisa nyala T.T

Readers tau gak cara perbaikinnya? Soalnya gak bisa nyala…

Di FF ini memang bukan SeoHyun-KyuHyun seperti biasa, tapi SeoHyun-DongHae

Soalnya author lagi jatuh cinta banget sama DongHae-Yesung. Tapi kali ini DongHae yang menurut author lebih klop gitu. Hehehe

Kalau ada readers yang gak ngerti jalan ceritanya, bilang aja ya.. soalnya di tahap ini masih perkenalan tokoh JooHyun dulu. Hehe

So, Welcome to “ MOKPO IN LOVE “

Title:

 MOKPO IN LOVE

Cast:

Seo Joo Hyun

Lee Donghae

Genre:

Romance, Comedy

Length:

Chapter

Don’t to be a silent reders please…

If you don’t like the pair, don’t read

I accept a bash…

~~~

Kringgg… Kringgg…

Kupacu sepedaku dengan kecepatan sedang, tidak cepat, tidak juga lambat. Santai. Tapi sebenarnya aku juga tidak boleh terlalu santai, soalnya keranjang sepedaku ini masih penuh dengan pesanan susu Bibi Lee Ah.  Ya, pekerjaan sebagai karyawan pengantar susu milik Bibi Lee Ah memang cukup melelahkan bagi kebanyakan orang, karena harus memacu sepeda menuju pemesan. Tapi bagiku,,, itu bukan suatu halangan untuk bekerja. Aku menikmati pekerjaanku ini.

na…na…na…” aku bersenandung kecil sambil menghirup sejuknya udara di pagi hari ini. Tak banyak mobil yang berlalu lalang jadi aku bisa cukup santai mengemudikan sepeda pemberian Bibi Lee Ah ini. Ah.,,, itu dia. Rumah pertama pemesan susu sudah tepat di depan mataku. Aku berhenti lalu turun dari sepeda ini mengambil beberapa botol susu sapi yang sudah dipesan. 8 botol. Botol – botol itu segera kumasukkan dalam tas kertas khas Bibi Lee Ah.

Ting Tong

“joheun achimieyo..” sapaku pada seorang wanita yang membuka pintu rumah ini. Jika boleh kuperkirakan, umurnya sekitar 40-50 tahun. Pasti dia sudah memiliki anak, dapat kulihat dari sedikit keriput di wajahnya.

“ne,, nugu?” Tanya wanita itu. Ah bodohnya aku.. kenapa tidak mengatakan selamat pagi khas Bibi Lee Ah juga. Aku tersenyum simpul, “saya pengantar susu yang sudah anda pesan. Saya dari Lee Ah Milks #sumpahiniauthorkarang -_-“

“ohh.. ya ya ya.. saya tau, mana susunya?” perkataannya membuatku segera menyodorkan tas kertas berisi botol – botol susu pesanannya. Dia mengangguk seraya mengambil tas kertas itu, “berapa semua?”

“anda memesan 8 botol, jadi semuanya 100 won” ucapku memberikan notanya. Lagi, dia menganggukan kepalanya. “tunggu.. saya ambil dompet saya dulu.” Ucapnya lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku menunggu diluar, keterlaluan memang, tapi ini resikonya menjadi pengantar susu. Pasti wanita tadi menanggap orang rendah sepertiku tak pantas memasuki rumah besar miliknya. Jika dilihat, wanita itu orang kaya, lihat saja interior rumahnya yang sepertinya import dan pakaiannya yang berkelas.

Tapi kalau mau dibilang, rumah milik appa lebih besar dan interiornya juga lebih mahal. Pakaian eomma juga lebih bagus dari wanita tadi. Terbuat dari sutra khusus yang dikirim dari China, tapi eomma tidak pernah merendahkan orang, walaupun orang miskin bagaimanapun, eomma bakal memasukkan mereka dalam rumah. Menghargai. Itu kata eomma. Wanita tadi benar benar sombong.  Hahah..

Hmm..? Hey… jangan kaget dengan ucapanku. Aku bukan sedang berkhayal atau bermimpi, ini kenyataan.

Perkenalkan.. aku Seo Joo Hyun, seorang mahasiswi yang sedang mengambil cuti dari Seoul International University, sebuah kampus berkelas tinggi milik Seoul. Appaku adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan lahan. Eommaku seorang desaigner yang cukup terkenal, karya – karya bajunya sering dipakai para artis seperti Kim Tae Hee, Yoon Eun Hye, dan sebagainya.

Mungkin kalian bakal bertanya – tanya mengapa aku bekerja sebagai pengantar susu di Mokpo, tempat kelahiran appa. Alasannya satu, aku bosan menghabiskan liburan cuti ini di Seoul. Aku lebih senang di Mokpo, masih banyak tempat yang ingin aku kunjungi disini. Juga ada Bibi Lee Ah, pemilik peternak susu sapi sekaligus teman dekat appa yang sangat dekat denganku.

“ini uangnya.. silahkan anda pergi” suara itu mengagetkanku. Ah… aku lupa, saking asyiknya bercerita hingga lupa bahwa aku sedang menunggu wanita sombong ini. Tunggu.. tadi dia bilang apa? Silahkan anda pergi? Ckckck.. sombongnya.

Segera kuraih uang itu dari tangannya lalu beranjak pergi. Dari ekor mataku, dapatkulihat dia sedang mengibas-ngibaskan tangannya karena tadi sedikit bersentuhan dengan tanganku. Huh!

Untuk meluapkan kekesalanku, segera saja kutendang salah satu pot bunganya hingga terjatuh dan tanahnya keluar dari pot itu. Berantakan. Sepertinya dewi keberuntungan berpihak padaku, wanita sombong itu tak melihat peristiwa tendangan yang terjadi.

Matahari semakin bertambah panas. Aku mengeluh karena keringatku sudah turun deras sehingga membasahi bajuku. Untung saja pekerjaanku telah usai. Biasanya jam segini, Bibi Lee Ah bakal memberikanku jam bebas. Jadi aku bisa santaaai..

Penglihatanku mendapat sesuatu yang sangat menyegarkan. Stand ice cream. Pasti itu bakal sangat enaak di dahagaku yang sedang krisis ini. “ahjussi… ice cream cokelatnya satu” pintaku pada penjual ice cream itu. Tak perlu menunggu lama, ice cream coklat sudah berada di tanganku. Uang sudah kuserahkan, jadi aku segera memakan ice cream itu seraya mengemudikan sepedaku.

Slurp.. slurp.. waa,, es krim ini memang sangat menyegarkan. Tenggorokanku yang kering serasa kembali pulih. Slurp.. slurp.. kujilati terus es krim ini. Lezat!!!

Tanpa kusadari, ada sebuah mobil yang melaju dari belakangku. Aku tidak menyadarinya walau pengemudi mobil itu sudah menekan klakson berkali – kali. “hey Agassi!!! Cepat minggir!” seruan seseorang menyadarkanku, tapi terlambat, mobil Ferrari putih itu sudah lebih dahulu menabrak sepedaku hingga aku terjatuh. “kyaaa!!!!” teriakku shock.

Mobil ferarri itu berhenti. Memang dia berhenti tapi kenapa pengemudinya tidak turun. Apa dia berharap aku yang melabraknya? Oke jika itu maunya. Dengan susah payah aku berdirih, lututku terasa sangat sakit karena aku menumpu tubuhku menggunakan lutut . kulirik lututku, oh tidak… darah terpampang jelas. Kulitku terkelupas karena gesekan aspal. Tak dapat ditoleran lagi, orang ini harus bertanggung jawab.

“hey!!! Cepat keluar!” aku mengetuk keras kaca mobil ini. Ternyata pengemudinya seorang namja, huh.. angkuh sekali dia. Dia tetap menatap lurus kedepan, tak mempedulikan ketukanku. Kuketuk lagi kaca mobil ini dengan keras, tetap tidak dihiraukan. Keterlaluan!

BUK!

Dengan tenaga yang aku punya, aku menendang body mobil ini dengan kaki kananku. Walau kakiku terasa sangat sakit akibat terjatuh tadi. Kulihat hasil tendanganku, waw… hebat juga kakiku. Tendanganku membuat body mobil ini sedikit reyot.  Namja itu kaget, dia tersentak karena bunyi yang cukup keras. Tanpa perlu menunggu lama, wajah namja itu kini berada tepat di hadapanku. Mimiknya menunjukkan bahwa dia marah besar karena kutendang bagian mobilnya hingga peyot. Siapa suruh bermain – main dengan Seo Joo Hyun?

“kau…” namja itu menunjukku dengan jari telunjuknya tepat di depan mataku. Aku memandangnya dengan raut menantang. “wae?  Kau marah karena mobilmu reyot ha?! “ jawabku dengan suara keras.

“ne! hey kau yeoja jelek,,,”

“mwo?!” dia mengataiku jelek? Hello… apa dia tidak tau? Aku ini yeoja terpopuler di kampus. Dasar!

“kenapa kau harus menendang mobilku ha?! Apa kau bisa mengganti biaya perbaikannya? Aku tak habis pikir, orang miskin sepertimu masih saja belagu!” ucapnya sambil menunjuk mobilnya yang peyot itu. lagi.. dia mengataiku miskin? Apa dia hanya menilai orang dari luar. Sekarang memang pakaianku sangatlah sederhana, hanyalah kaos lengan panjang  krem polos, dipadukan dengan celana panjang kain warna putih, serta sepasang sepatu kets. Memang tidak fashionable seperti hari – hari aku di Seoul yang bergaya bak seorang selebriti.

“siapa bilang aku tak dapat mengganti mobilmu itu?! Aku dapat menggantinya bahkan membeli yang baru untukmu! Dan satu hal lagi, aku tau.. kau pasti menilai orang hanya dari penampilan kan..!!!” jeritku menahan amarah yang membara dalam diriku. Dia amat sangat keterlaluan!

Bukannya meminta maaf, namja stress ini malah tertawa kecil lalu memandangku remeh dengan menaikkan kedua alisnya, “aku prihatin sekali dengan hidupmu. Sudah jelas – jelas kalau kau miskin, malah bermimpi menjadi orang kaya yang dapat membeli mobil dengan seenaknya. Memang benar kata orang,,, orang miskin itu tidak tau aturan dan etika”

“apa kau bilang! Tidak tau aturan dan etika? Eh pria sombong, jangan merendahkan orang dengan seenaknya! Aku bahkan seorang mahasiswi di SIU [read: Seoul International University]” kataku dengan amarah yang memuncak. Bukan hanya menghina diriku, namja stress ini juga menghina orang – orang yang bisa dibilang ‘miskin’.

“ckckck.. hidupmu pasti sungguh menderita, sampai bermimpi berkuliah di SIU. Maaf ya… aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara lagi denganmu, dan untuk masalah mobil, aku akan maklumi ini. Good bye~” seru namja itu masuk ke dalam mobilnya lalu menggasnya kencang sehingga meninggalkan asap mobil yang banyak.

“uhukk uhukk.. DASAR NAMJA STRESS! “ teriakku sambil terbatuk – batuk. Asap itu membuat pernafasanku terganggu. Dua orang sombong sudah kutemui hari ini, selanjutnya siapa lagi. Saat aku hendak berjalan, tiba – tiba rasa nyeri melanda lututku. Karena keasyikan bertengkar, aku malah lupa dengan lututku yang berdarah ini. “omona.. kalau begini bagaimana aku bisa bersepeda? Aissh..”

“SEO JOO HYUN! Kenapa dengan lututmu itu?” teriak Bibi Lee Ah melihat kedua lututku yang berdarah dan agak bengkak karena belum kuobati. “ahjumma~” ucapku manja padanya, sudah biasa aku bermanja-manja pada Bibi Lee Ah. Toh sudah nyaris 1 bulan aku disini, aku sudah kenal dekat dengan semua kenalan Bibi Lee Ah, bahkan saingannya pun aku kenal.

“appoyo ahjuma…” ucapku seraya beraegyo handalanku, yaitu menampilkan puppy eyes yang membuat setiap orang tidak tahan melihatnya. “ya ampun.. marilah sini. Ahjumma obati lukamu itu, nanti bisa infeksi kalau tidak diobati” katanya perhatian.

Bibi Lee Ah dengan cekatan mengambil kotak P3K yang memang sudah tersedia di rumahnya, lalu berlutut dihadapanku untuk membersihkan luka ini dulu dengan air hangat. Melihat luka ini, aku jadi ingat dengan kejadian tadi dan… namja stress itu. Sebenarnya sih namja itu tampan.. amat tampan malah. Tapi kejelekannya yaitu sifat sombong dan remehnya itu. Andai saja dia tidak sombong dan tidak suka meremehkan orang.. mungkin saja aku sudah…

ANIYO!

Mana mungkin.. itu tidak mungkin Seo Joo Hyun. Jangan! Tidak boleh!

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat agar khayalan gila ini segera terbang dari pikiranku. Seo Joo Hyun,, kumohon jangan gila untuk kedua kalinya!

“seo.. waeyo?” suara lembut Bibi Lee Ah menyadarkanku, aku bersyukur dia dapat menyadarkanku. “ah.. aniyo. Gwenchana ahjumma..” jawabku sambil tersenyum manis yang aku punya.

“ne.. SeoHyun..” panggilnya lagi

“ne?”

“kenapa lututmu bisa terluka seperti ini? Apa kau berulah iseng lagi pada orang hingga dia membuatmu terjatuh?”

“ah.. ani. Hanya tadi saat aku sedang mengendarai sepeda, dari belakang ada mobil yang menabrak sepedaku hingga aku terjatuh.”

“mwo? Lalu apa pengemudinya bertanggung jawab?”

“yah ahjumma.. jika memang pengemudinya bertanggung jawab, aku tidak akan pulang sambil berdarah-darah seperti ini. Pengemudinya itu benar – benar sombong, masak dia mengataiku orang miskin dan tidak dapat mengganti biaya perbaikan mobilnya akibat tendanganku. Benar – benar sombong”

“ckck.. sudahlah. Tapi tadi apa kau bilang? Akibat tendanganmu?” kaget Bibi Lee Ah seraya menyelesaikan pekerjaannya untuk mengobati lukaku.

“ne ahjumma… aku menendang body mobilnya karena dia tidak mau keluar dan berbicara karena telah menjatuhkanku..” bodohnya aku! Kenapa aku harus mengatakan aku menendang mobil namja itu… pasti Bibi Lee Ah akan menasihatiku bukannya prihatin. Aaa… seohyun paboya!

“ ya ampun Seohyun… kau berulah lagi…” kata Bibi Lee Ah menghembuskan nafasnya. Memang sih aku sudah sering seperti ini. Tapi itu pasti jika kulakukan jika memang sangat kesal dan marah.

“mianhae ahjumma.. soalnya aku terlalu kesal dengan sikapnya” ujarku berusaha membela diri.

“ne.. terserah kau. Seohyun~”

“ne ahjumma? Waeyo?”

“appamu tadi menelepon, agar kau pulang ke Seoul besok”

MWO??? Pulang ke Seoul?

TBC

Yaaa… bersambung!

Tunggu kelanjutannya yaa..

Jangan lupa RCL.. sekali lagi mianhae..

buat unnie di designurcover.wordpress.com .. gomawo sudah buatkan cover ff ini :*

ATTENTION!

Mohon maaf untuk para readers funsoshifanfiction. Saya selaku author disini mohon maaf sebesar-besarnya karena dalam jangka waktu yang lama ini sudah tidak pernah menge-post fanfic2. Dikarenakan oleh beberapa hal, kami memang belum dapat mengepost fanfic ataupun membuat lagi.

Saya tau, sebagai diri saya sendiri yang sering menunggu fanfic itu sangat menyebalkan. Terkadang rasa penasaran akan jalan cerita itu sudah menjalar dalam pikiran. Kesal, itu pasti saya rasakan jikalau menunggu fanfic yang belum di post. jadi agar tidak menaikkan emosi para readers sekalian #plak saya umumkan

 

MULAI TANGGAL 2 APRIL INI, SAYA AKAN RESMI SEMI HIATUS

Hingga waktu yang tidak dapat saya tentukan.

Tetapi saya akan tetap menulis fanfic hingga di post

Jika sudah ada 3 fanfic yang saya post, maka kehiatusan saya akan berakhir


sekali lagi saya tekankan…

MAAF BUAT SEMUA!

Chaiyoo…..

Oppa.. Thank You

Oppa Thank You

 

halo.. apakabar semua?

saya kembali dengan ff baru saya. memang ini tidak ada super generation.

hanya ada DongHyun (boyfriend) dan other cast buatan saya. dan satu lagi, Shin Ri Young, itu nama korea teman saya yang lagi ulang tahun pada hari jumat lalu. her name is ivana langi. happy birthday!

tapi, saya tetap masukin ini ke blog karena ini murni keluaran otak saya. dan maaf krn telat post yang lain. dan mungkin ff yang lain msi agak lama, soalnya saya bnyk tugas sekolah. oke oke… readers yang saya sayangi. selamat membacaa…!!!

*******

Cast:

Kim DongHyun

Shin Ri Young

Kim SooYan (other cast)

Title:

Oppa.. Thank You

Genre:

Romance, Sad, Friendship

______

“oppa.. sampai kapan oppa akan di Jepang? Oppa tidak merindukanku?”  tanya seorang yeoja dengan lemas. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang bersusah hati.

“mianhae jagiya, oppa sangat merindukanmu.. tapi comeback kami di Jepang belum usai. Minggu depan mungkin..” balas namja dari seberang. Yeoja itu mengembuskan nafas lemah, “oppa…  I miss you”

“I miss you too, RiYoung-ah. Saranghaeyo..”

TIT

Bunyi sambungan telepon ditutup terdengar. RiYoung melepas handphone putih pemberian DongHyun dengan lemas, “oppa.. tidak tau kah kamu? Penyakit ini terus menggerogoti ku” ucap Haneul lemah.

~~~

BRUK

“RIYOUNG!!!” teriak SooYan melihat RiYoung terjatuh dan pingsan. Sontak saja semua mahasiswa di sekitar situ membantu membopong tubuh RiYoung ke ruang kesehatan kampus. Dokter yang memang bertugas di situ pun langsung bertindak cepat, memeriksa keadaan RiYoung.

SooYan menunggu RiYoung dengan perasaan khawatir, bagaimana tidak? Dia melihat secara langsung temannya pusing dan ambruk di depannya. Gugup, takut, khawatir, dan semua memenjarakan hatinya, dia takut terjadi apa – apa dengan RiYoung. “Tuhan.. semoga saja tidak terjadi yang buruk” doa SooYan dalam hati dengan gelisah.

“RiYoung.. ada apa denganmu? Kenapa pingsan? Bukannya kau strong woman. RiYoung.. jangan buatku takut dan khawatir seperti ini donk” protes SooYan di dalam hati. “Kim SooYan.. ayo tenang. Mungkin dia cuma kelelahan. Ya.. kelelahan!” ucap SooYan berusaha tenang. Tidak lama kemudian, dokter yang memeriksa RiYoung keluar dari ruangan, dengan perasaan tenang sang dokter memulai pembicaraannya, “RiYoung dalam kondisi yang memang kurang sehat. Jika bisa, saya sarankan agar membawa dia ke rumah sakit.

“apa dokter? Rumah sakit? RiYoung sakit apa dok..?” tanya SooYan panik. Rumah sakit? Berarti kondisi RiYoung sangat parah. Dia bukan pingsan karena kelelahan, tapi mungkin saja karena ada sesuatu yang mengidap dalam tubuh RiYoung. “saya belum tau pasti.. oleh sebab itu saya anjurkan dia dibawa ke rumah sakit” anjur dokter. SooYan menangguk mengerti, “baik dok.”

~~~

“apa? Rumah sakit?” seru DongHyun ke arah handphone yang berada di telinganya. SooYan menjauhkan handphone RiYoung dari telinganya, seruan DongHyun membuat telinganya mungkin terganggu. “ne.. tadi di kampus dia pingsan. Dan sekarang sedang di rumah sakit.. makanya, cepatlah DongHyun oppa pulang”

“mianhae SooYan. Tapi program kami belum selesai,,” belum selesai DongHyun menyelesaikan omongannya, SooYan sudah memotong, “oppa lebih mementingkan program comeback oppa dibandingkan yeojachingu oppa sendiri?! RiYoung kritis oppa!” bentak SooYan. SooYan sudah tidak habis pikir dengan sikap DongHyun yang lebih mementingkan program comeback boybandnya, Boyfriend di Jepang. Hari itu sudah memasuki hari ke 15 RiYoung tidak bertemu DongHyun.

“bukannya aku tidak mempedulikan RiYoung. Aku mencintai RiYoung, aku tidak mau dia kenapa – napa. Tapi bagaimana aku bisa pulang? Ya sudah.. aku janji minimal 3 hari lagi aku akan pulang.”

“3 hari? Lama sekali…”

“tidak bisa begitu… ini pun aku sudah memaksa”

“baiklah. Khamsahamnida oppa..”

“ne.. sampaikan salam sayangku kepada RiYoung bila dia sudah sadar ya..”

“ne oppa.. sampai jumpa”

SooYan menatap layar handphone RiYoung yang berwallpaper RiYoung dan DongHyun sedang berfoto sambil memegang lollipop berbentuk love.  SooYan tersenyum melihatnya, melihat keceriaan sahabat akrabnya sejak kecil. Dia masih ingat, saat RiYoung berjingkrak – jingkrak senang karena ditembak oleh DongHyun yang notabanenya adalah seorang superstar. RiYoung pun dapat berkenalan dengan DongHyun karena kebetulan SooYan adalah sepupu dari DongHyun.

SooYan beranjak dari tempat duduknya memasuki kamar rawat RiYoung. Dirinya menatap sedih tubuh RiYoung yang terbujur kaku. Matanya tidak pernah terbuka sejak saat itu. SooYan telah mengetahui semua, mengetahui kenapa mata RiYoung tidak pernah kunjung terbuka. Kanker hati. Kanker membuat semua ini, RiYoung belum pernah sadar sejak pingsan, atau lebih tepatnya sekarang RiYoung mengalami koma.

SooYan mendekati ranjang RiYoung, menggenggam erat jemari RiYoung secara perlahan, air matanya mulai mengalir di pipi, meratapi nasib sahabatnya ini, “RiYoung-ah… jebal, ireona… jebal…  buka matamu RiYoung.. kumohon” SooYan menangis sejadi – jadinya di ranjang RiYoung, disamping tubuh terbujur kaku sahabatnya. Menutup kedua wajahnya dengan kedua lengannya.

“DongHyun oppa…” suara itu menganggetkan SooYan. Dia tau, itu suaranya RiYoung. RiYoung akan sadar, itulah yang terpikir di pikiran SooYan. Segera dia menghapus air matanya, dia tidak mau RiYoung kecewa karena melihatnya menangis. “RiYoung-ah… kau sadar? Ayo buka matamu…”

Perlahan kedua mata RiYoung terbuka hingga sempurna. Sesekali RiYoung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, menatap ke sekelilingnya yang berubah. “dimana ini?” tanya RiYoung lemah pada SooYan di sebelahnya. SooYan tersenyum senang, “kau dirumah sakit, chingu. Ingat kan kalau kau pingsan? Dokter menyuruh kami membawamu ke rumah sakit supaya kau menjadi lebih sehat”. RiYoung menangguk mengerti, matanya menatap sekeliling sekali lagi. Tetapi arah pandangannya berhenti di kalender, RiYoung menyipitkan matanya, “tanggal 15 Januari? Bukannya hari ini tanggal 13?”

SooYan sedikit kelabakan mendengar pertanyaan RiYoung. Dengan tujuan awal berbohong, tetapi akhirnya dia harus jujur, “ne… sekarang tanggal 15 kok. Kau… kau koma selama 2 hari” kata SooYan agak pelan. “koma? 2 hari? Lama sekali…” ucap RiYoung dengan nada yang agak mengundang tawa SooYan.

“kenapa kau tertawa, Soo?” tanya RiYoung bingung

“ani… gwenchana. Hhh..hahah..” jawab SooYan sambil menahan tawa. RiYoung mengerecutkan bibirnya kesal, “dasar..”

“ya sudahlah.. tunggu sebentar. Aku mau panggil dokter dulu..” ucap SooYan sambil melangkah keluar. RiYoung menangguk menurut. Setelah kepergian SooYan, pikirannya kembali berputar. “DongHyun oppa… kapan kau pulang? Sepertinya, kankerku sudah mulai menyerang lagi. Ssshh…” gumam RiYoung lirih sambil sesekali menahan sakit di sekitar hatinya. “ssshh.. sakit..” lirih RiYoung lagi. Air matanya menetes, “sshha.. sakitt. God, help me”

Tak perlu menunggu lama, SooYan sudah kembali dengan dokter serta beberapa orang suster disebelahnya. SooYan terkaget melihat RiYoung yang menangis sambil memegang di sekitar hati. “RiYoung-ah… gwenchana?” tanya SooYan panik. Dokter pun segera bertindak, para suster meminta SooYan untuk menunggu di luar lagi. “tapi dia temanku sus..”

“maaf, tapi anda harus menunggu di luar” ucap suster dengan tegas. Sepertinya memang sudah tidak boleh. SooYan menunggu di luar dengan berdoa, melihat RiYoung yang menahan sakit itu sepertinya sangat menderita. Beberapa saat kemudian, SooYan mengeluarkan handphone miliknya. Memencet nomor seseorang dan segera menempelkan handphonenya di telinga.

“DongHyun oppa.. lekaslah pulang” pinta SooYan sambil sesenggukan.

“………………………..”

“oppa… RiYoung sekarat”

“………………”

“baiklah oppa… sampai jumpa”

SooYan menutup telepon dengan gundah. Dia bingung harus berbuat apa sekarang. Tak lama kemudian setelah menelepon, dokter yang memeriksa RiYoung keluar. Sontak saja SooYan langsung menghampiri dokter itu, “dokter… RiYoung”

“ikut saya ke ruangan saya. Ada hal yang mesti saya bicarakan dengan anda” ucap dokter itu lalu melangkah pergi. SooYan menurut saja, dia mengikuti dokter itu sampai ke ruangannya. SooYan duduk di kursi lalu sang dokter mulai berbicara.

SooYan keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Dia tidak menyangka kanker itu parah, dan satu – satunya jalan ialah melakukan operasi. Tapi, dia tidak dapat melakukannya sekarang, orang tua RiYoung belum tau hal ini sama sekali. Tanpa basa basi, SooYan  menelpon orang tua RiYoung. Semula dia cukup takut dengan marahnya orang tua RiYoung tapi ternyata tidak, orang tua RiYoung mengizinkan operasi dijalankan, karena mereka tidak bisa ke Korea untuk melihat RiYoung. Tak ada jadwal pesawat yang terbang saat itu.

~~~

“SooYan lama ah… capek nunggu nih. Sepi..” gerutu RiYoung saat melihat SooYan memasuki ruangannya. SooYan hanya tersenyum lalu duduk di kursi di sebelah ranjang RiYoung. “bagaimana keadaanmu RiYoung? Apa masih sakit?” tanya SooYan memastikan. RiYoung menggeleng, “ani.. aku kan strong woman. Jadi tidak mungkin rasa sakit” jelas RiYoung. SooYan tertawa mendengar jawaban RiYoung, “masa?”

“iya kok..”

“oh ya?”

“SooYan!”

“ahaha.. mianhae RiYoung sayang”

“hehe… Soo!”

“waeyo?”

“tadi dokter bilang apa? Aku sudah boleh pulang? Aku bosan di rumah sakit terus”

Ucapan RiYoung membuat SooYan terkejut. Dia tidak menyangka RiYoung tau bahwa dia ada berbicara dengan dokter. Dia pikir RiYoung tidak mendengarnya. “dokter bilang… mm…”

“apa? Dokter bilang apa?”

“kau harus menjalani operasi kanker hati, Ri” jawab SooYan sambil menunduk. Ia tak mampu melihat wajah sedih RiYoung karena dia akan operasi. “mwo? Operasi?” SooYan menangguk pelan.

‘berarti penyakit kanker ini sudah parah sekali. Ya Tuhan… kenapa harus operasi?’ batin RiYoung sedih.

“ani.. aku tidak mau operasi!” tolak RiYoung. SooYan cukup kaget dengan jawaban RiYoung, tidak mau. RiYoung tidak mau operasi? Kalau tidak operasi…

“berdasarkan pemeriksaan yang telah saya lakukan tadi, pasien mengalami kanker hati seperti yang sudah saya katakan. Namun, ternyata kanker hati itu tidak seperti yang saya perkirakan. Kanker hati ini merupakan kanker lama yang kembali kambuh”

 

“maksud dokter, RiYoung sudah menderita kanker hati sejak lama?”

 

“iya.. dan satu – satunya jalan untuk mengatasi adalah operasi. Dan itupun tidak 100% dapat sembuh total. Kanker ini sudah memasuki stadium 3”

 

“haa? Tapi dok.. kalau misalkan tidak operasi, apakah akan berakibat fatal?”

 

“tentu saja… kanker akan bertambah parah dan kondisi tubuh pasien akan sangat lemah. Bahkan kematian dapat menjadi ancaman terbesar bila tidak melakukan operasi. Oleh sebab itu, diharuskan untuk melakukan operasi.”

 

SooYan mengingat kembali pembicaraannya dengan dokter yang memeriksa RiYoung. Akibat fatal, bahkan kematian dapat menjadi ancaman bila RiYoung tidak segera melakukan operasi. Tapi, disini RiYoung tidak mau operasi. Bagaimana dia harus bertindak sekarang?

“RiYoung-ah.. kau harus operasi. Kalau tidak kankermu akan bertambah parah”

“aku tidak mau SooYan. Lagipula kalau operasipun tidak berarti aku sembuh total kan.. lebih baik tidak usah”

“RiYoung-ah… jebal..”

“andwe!”

“kau mau apa deh? Pasti akan aku lakukan. Apapun itu..” kata SooYan akhirnya. Pikirnya, mungkin saja kalau dengan cara seperti ini RiYoung akan tertarik dan mau dioperasi. Toh ini juga untuk kebaikannya kan.

“jinjja?” tanya RiYoung riang. SooYan menangguk pasrah. “yee.. ne.. aku mau DongHyun oppa pulang”

“DongHyun oppa pulang?” RiYoung menangguk senang dan tersenyum-senyum. Dapat dipastikan bahwa RiYoung memang sangat merindukan DongHyun yang sudah lebih dua minggu tidak bertemu dengannnya, hanya berkomunikasih lewat media telepon atau email.

“ya,. kalau itu sih aku…”

“RIYOUNG-AH!!! AKU DATANG” teriak seorang namja dari arah pintu ruangan yang masih tertutup. Tidak perlu menunggu lama, dalam hitungan detik, pintu itu di buka dengan keras dan tampaklah seorang namja yang sangat dirindukan telah ada dihadapannya.

“DongHyun oppa!!!” tanpa sadar RiYoung melepas selang infus yang ada di pergelangan tangannya lalu memeluk DongHyun. “oppa.. bogoshippo” kata RiYoung rindu.

SooYan tersenyum puas dan senang melihat RiYoung yang sudah bisa tertawa dan tersenyum dengan sangat girang. Bagaimana tidak? RiYoung bertemu dengan seorang pangeran yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya

“waha.. kau sangat merindukanku yaa?” tanya DongHyun sambil membalas pelukan RiYoung. “ne oppa… jeongmal bogoshippoyo”

“nado bogoshippo, jagiya” DongHyun menambah erat pelukan dari RiYoung.

~~~

“mwo? Kau tidak mau dioperasi?” kaget DongHyun mendengar yeojachingunya bersikeras untuk tidak dioperasi. “percuma oppa…”

“percuma? Karena?”

RiYoung menggeleng lemah lalu mendorong kursi rodanya kea rah bawah pohon untuk berteduh. Ya.. sekarang mereka ada di taman. RiYoung memang meminta SooYan untuk mengantarnya ke taman bersama DongHyun, lalu meminta juga agar dia ditinggal berdua dengan DongHyun. Dan itu pasti aman, karena DongHyun sudah memakai penyamaran lengkap agar orang tidak menyadari keberadaannya sebagai seorang bintang.

“oppa… asal oppa tau, aku sakit oppa. Aku sakit kanker. Kanker ini sudah sangat mematikan. Jika aku operasi pun, tidak total sembuh. Kanker tidak akan 100% hilang seperti harapan. Kanker itu akan kembali lagi, oppa. Jadi itu percuma” jelas RiYoung sambil menahan air matanya yang hendak keluar. DongHyun menyadari bahwa RiYoung sedang bimbang, dia mendekat lalu memeluk RiYoung dari belakang, “apakah hidupmu akan percuma juga bila lebih berlama-lama bersama denganku?”

“itu tidak mungkin oppa… aku mencintai oppa” kata RiYoung.

“ya oleh sebab i…” RiYoung segera memotong pembicaraan DongHyun.

“tapi oppa, sakit jika harus terus berlama – lama hidup dengan penyakit ini. Penyakit ini akan terus membuatku menderita. Aku tau, aku cinta oppa, oppa cinta aku, smua orang juga mencintaiku. Tetapi oppa, hidupku juga pasti ada batasnya. Tuhan telah membatasi umurku di usia ini oppa. Di usia 23 tahun, mungkin ini sudah takdirku”

“sst… jangan bicara soal kematian, jagi. Aku belum ingin dan tidak pernah ingin untuk kehilanganmu. Jadi pliss… kamu operasi ya. kumohon.. demi aku, demi cinta kita.”

“hhh…. Baiklah oppa. Aku mau operasi. Tapi besok…” kata RiYoung akhirnya menyerah.

“begitu donk.. itu baru kekasih dari seorang DongHyun, boyfriend” senang DongHyun lalu mengacak – acak rambut RiYoung gemas hingga membuat yeoja itu hanya dapat mengerucutkan bibirnya kesal.

~~~

“oppa…” panggil RiYoung kepada DongHyun yang sedang asyik mempelajari lagu baru dari Boyfriend.

“ne?” jawab DongHyun tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas putih yang terdapat lirik dan nada dari lagu baru tersebut.

“aku mau tidur… aku capek” ucap RiYoung lemah.

DongHyun  pun menatap RiYoung lemah, “kau serius? Ini baru jam setengah 9. Bukannya biasanya kau tidur jam 10?”

“tapi aku capek oppa… aku mau tidur” ucap RiYoung lagi. DongHyun pun mendekatinya, “baiklah kalau kau mau tidur.. istirahat yang cukup ya untuk tenagamu besok saat operasi” ucap DongHyun lalu mencium kening RiYoung lembut. RiYoung terus menatap DongHyun, “saranghaeyo oppa.. terima kasih. Selamat tinggal” ucap RiYoung lirih hingga hampir tidak terdengar

“ne? kau bilang apa?” tanya DongHyun bingung karena tidak mendengar. Tetapi hanya bisu yang dibalas. Perlahan RiYoung menutup matanya dengan damai.

“selamat tidur, princess” ucap DongHyun lalu mencium pipi RiYoung.

~~~

Pagi ini, RiYoung akan melakukan operasi. SooYan dan DongHyun telah bangun lalu tinggal menunggu RiYoung bangun. “Dong oppa.. kok RiYoung belum bangun juga ya? ini sudah jam 9 pagi lho..”

“iya.. tumben banget dia telat bangun. Dibangunin saja deh, dokter sudah menunggu” DongHyun pun menggerak-gerakkan badan RiYoung yang masih terlelap. DongHyun sedikit kebingungan karena RiYoung tidak kunjung bangun, padahal biasanya dia pasti sudah marah dibangunkan dengan cara seperti ini. “RiYoung-ah… ireona”

“RiYoung? Shin Ri Young.. ireonaaa” goncangan tubuh RiYoung pun bertambah keras dibuat oleh DongHyun. SooYan yang seakan mengerti, langsung meneteskan air matanya. “RiYoung! Jangan pergi….!!!” Teriak SooYan histeris.

“ani.. andwe!!! Ri Young!!!” DongHyun pun mulai menangis histeris. Dia tidak tau dan tidak mau, kekasihnya kini telah tidur, tidur untuk selamanya. “RiYoung…!!! Ireonaaaa..”

~~~~

Banyak orang menggunakan baju serba hitam di acara ini. Sebuah nisan bertuliskan Shin Ri Young terpampang jelas di depan mereka. Suara tangisan dan jeritan terdengar melihat orang yang dikasihi mereka telah tiada. DongHyun menangis dan menangis meratapi kekasihnya yang telah tiada. Namun, rasa cintanya tidak akan pernah tiada. Dia masih dan akan terus selamanya mencintai Shin Ri Young. Kim DongHyun love Shin Ri Young always…

END

RCL ya.. saya harapkan itu.

Bertanda ,

‘I Love My Rival’ [Part 8]

halo teman semua…

author udah kembali lagi nih dengan ‘I Love My Rival’ Part 8

mianhae ya, author udah agak lama bahkan mungkin lama banget gak post

author cuma lupa dan kecapekan. Apalagi selama libur itu author gunakan sebagai refreshing

hehehe…

mianhae

sekarang kita lanjut ya..

dan, RCLnya pliss.. tolong banget. Bukan minta imbalan, tapi tolong donk dihargai pekerjaan para author. Kami juga butuh dukungan. Tolong banget

ya.. mari kita saksikan! I LOVE MY RIVAL…!!!

 

Main Cast: Seohyun SNSD, Kyuhyun Super Junior, Donghae Super Junior

Cast: Yuri SNSD, Yoona SNSD, Jessica SNSD, Yesung Super Junior, Heechul Super Junior, and other cast

Genre: Friendship, Romance, *dan lain – lain, hehehe… author juga bingung

Length: ???

 

WARNING!!!

PLEASE, DON’T BASHING OR SHARE THIS FF

IF YOU NOT LIKE THIS FF, DON’T READ

DON’T LIKE THIS COUPLE, DON’T READ

 

____ Let’s reading____

SeoHyun POV

Hari ini badanku cukup pegal. Mungkin karena kemarin terlalu lama berkencan dengan Kyuhyun oppa ya.. hmm, mungkin saja. Hehehe… kulirik jam dinding yang bergantung di kamar, sekarang sudah jam  7. Hari ini juga kebetulan hari minggu. Jadi aku punya waktu untuk istirahat dan meditasi. Aktivitas yang dapat melepas lelahku. Kuambil mp3 berwarna putih milikku, lalu memutar lagu tenang. Hanya sebuah music dengan kicauan burung dan bunyi aliran air yang dapat membuat perasaan tenang. Hufft.. lega sekali rasanya.

 

“Seohyun… ayo sarapan!” suara Taeyeon eomma cukup mengganggu meditasiku hari ini. Padahal lagi enak-enaknya.mematikan lagu alam merdu yang sedang terputar. Dengan malas, kini aku beranjak dari tempat tidurku dan menuju ke ruang makan.

 

“Seohyunnie..! aku punya berita baik!!” kata Yoona eonni  semangat saat aku duduk di kursi meja makan. Berita baik apa? Tapi kalau melihat dari wajah eonni yang ceria, seperti emang baik.

 

“apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari roti yang sedang diselai.

 

“aku akan melakukan fitting baju wedding sebentar..” ucapnya lagi. Aku terlonjak kaget, baju wedding? Secepat itukah eonni dan Yesung oppa akan menikah.   Kulirik eomma dan appa, mereka tersenyum. “ba..baju wedding? MENIKAH?!” seruku hingga membuat Yoona eonni harus agak menjauh karena suaraku yang keras. Dia mengangguk senang, “aku dan Yesung oppa akan menikah, minggu depan”

 

“APAAAA!!!” kenapa hal begini tidak diberitahukan padaku dari awal. Minggu depan eonni akan menikah!

~~~~~

“aisshh.. eonni, kenapa harus aku yang menemani eonni fitting baju. Kenapa bukan Yesung oppa saja? Yang menikah siapa sih?!” gerutuku di dalam mobil. Disebelahku ada Yoona eonni yang tengah senyum senyum tidak jelas, dia terlalu senang karena dilamar Yesung oppa. Aku masih kesal, eonni dilamar Yesung oppa tapi tidak memberitahukan hal ini padaku, yang lebih mengesalkan aku eomma dan appa tau akan hal ini dan tidak memberitahukan padaku.

 

“bawel kau! Yesung oppa kan sudah disana..” ujar Yoona eonni, lalu menggetok kepalaku dengan kepalan tangannya.

 

“aww…kenapa dia tidak menjemput eonni?!” kataku dengan membalas getokan eonni.

 

“aaa…dia sibuk~”

~~~~

“Yesung oppa…!!!” seru Yoona eonni saat kami sudah tiba dibutik khusus baju pernikahan. Banyak wedding dress yang dipajang di patung. Baju – bajunya beragam, ada yang panjangnya selutut, sampai menutupi kaki, bahkan ada juga yang ekor belakangnya sepanjang 5 meter. Semoga saja eonni tidak memilih yang panjang sekali itu, pasti sangat ribet jika menggunakannya.

 

“Jagiya…” mereka pun berlari slow motion lalu saling berpelukan seperti sudah tidak pernah bertemu selama 10 tahun. “oppa… I miss you” ucap Yoona eonni lalu mengecup pipi Yesung oppa, sehingga membuat Yesung oppa agak salah tingkah. Maklum dehh.. ~_~

 

“ehhm… uhukk” aku berpura-pura batuk agar tidak terlalu berlama – lama melihat acara yang menyedihkan ini. Yoona eonni dan Yesung oppa melepas pelukannya. Yoona eonni sekarang malah mendelik tajam ke arahku, seakan aku menganggu mereka. Aku hanya dapat mengangkat kedua bahuku lalu melihat ke tempat lain. “Seohyunnn…” begitulah geramnya.

 

“hmm… b-brings the boys out, b-brings the boys out” untuk menghindari kesalahan, aku menyanyi-nyanyi tidak jelas. Yesung oppa hanya cengingiran melihat tingkahku.

“dasar..” kata Yoona eonni tapi untung saja Yesung oppa mengerti, dia segera merengkuh pundak Yoona eonni dan membuat amarah Yoona eonni agak mereda.

 

“jagiya… kau mau coba baju pernikahan yang mana?” tanya Yesung oppa mengalihkan pembicaraan. Yoona eonni langsung antusias ketika ditanya, dia segera menuju baju – baju  pernikahan yang menurutku cukup bagus, ya maklum.. selera kami sama, tapi tidak untuk asmara. Aku menghembuskan nafas lega, untuk melepas bosan, aku juga pergi ke arah mini dress yang sepertinya menarik.

 

Kuamati satu per satu desain baju – baju ini. Cita-cita lamaku, hehhee.. aku dulu juga bercita –cita menjadi designer atau pengusaha butik, tapi sayang, sekarang aku lebih tertarik pada bidang seni. Ada satu mini dress yang menarik perhatianku, dress yang berlengan yang sangat manis. Berwarna cream kecoklatan, yah bisa dibilang warna gold muda gitu yang ada layer bersusun, dengan bawahan berwarna hitam polkadot putih, pitanya sebagai ikat pinggang juga semakin membuat penampilan dress ini begitu manis. Aku jadi ingin beli baju ini.

 

 

“sepertinya jika kau menggunakan dress ini akan begitu cantik..” sebuah suara mengagetkanku. Aku segera berbalik karena suara itu sepertinya dari belakangku.

 

“k..kau..” sungguh! Aku sangat terkejut dengan keberadaannya. Senyumnya, wajahnya, apalagi matanya.. dia.. MINHO

“annyeong hyunnie.. kau tidak berubah ya. Tambah cantik..” ucap Minho. Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawab. Pikiranku berpikir kencang, Minho,, masa laluku yang kelam, orang yang tidak ingin aku temui lagi, musuhku, orang terkejam yang pernah kutemui.. kini dia.. muncul di hadapanku.

 

“hyunnie-ah..” dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Aku menggeleng cepat. Wajahku berubah menjadi pucat pasi. Ingin sekali aku pergi dari hadapannya, tapi entah kenapa kakiku tidak bisa bergerak. Aku seperti patung hidup sekarang. “hyunnie…jawablah”

 

“pergi..” kata  itu begitu saja meluncur dari mulutku. Aku berteriak sekencang – kencangnya. “pergi… pergi… PERGI” kataku lagi. Aku jatuh terduduk, kututup kedua mataku dengan satu tangan lalu tangan yang satu lagi kugunakan untuk mendorongnya. “hyunnie-ah… jangan begini hyunnie. Hyunnie..” pintanya mencoba mendekatiku yang rapuh. Kusingkirkan tangannya yang mencoba memegang kedua pundakku. “AKU BENCI KAU! PERGI!!!” teriakku lagi

 

Kini, Yoona eonni dan Yesung oppa mendekati kami berdua. Begitu juga semua orang, mereka melihat kami dengan tatapan bingung, merasa aneh, dan sebagainya. Tidak kupedulikan. Yang kupedulikan sekarang cara membuatnya pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin dia ada, aku ingin dia pergi sekarang juga dan selamanya. “Seohyun… kenapa ka.. minho” aku bisa menebak, Yoona eonni juga kaget dengan kehadiran Minho sekarang. Bagaimana tidak? Orang ini dulu mencoba menodaiku, menodai dongsaeng Yoona eonni. Apakah tidak kaget melihat orang yang berusaha menodai orang yang kita sayangi kini berada di depan kita? Pasti sangat kaget dan rasa benci itu kembali.

 

“buat apa kau ada disini?!” kata Yoona eonni sinis. Dari sorot matanya, dapat dipastikan dia membenci dan marah kepada orang didepannya. Yesung oppa membantuku untuk berdiri, dia berbisik, “dia itu Minho..?” aku mengangguk pelan. Sepertinya Yoona eonni pernah menceritakan siapa itu Minho, karena Yesung oppa seakan mengerti akan keadaan karena adanya Minho.

 

“wae? Ibuku pemilik butik ini.. dan, aku bisa bebas berada disini. Tapi, kenapa kalian melihatiku seperti itu. Kalau aku ada salah, aku minta maaf” ucap Minho dengan tatapan selembut mungkin. Kalau ada salah?! Dia sangat salah. Dasar, masih sempat – sempatnya dia berpikir kalau dirinya itu suci, tidak memiliki kesalahan apapun. Menyebalkan..

 

“tidak punya salah.. cihh… KAU SUCI SEKALI KAH” emosi Yoona eonni meluap. Dia tidak tahan melihat tingkah Minho yang berlaku seakan tidak pernah ada yang salah terjadi di antara kita semua. Minho tersenyum, tapi senyum itu lebih kugambarkan seakan senyum Lucifer. Terlihat manis namun licik, itulah Minho. Dia orang bejat!

 

“Yoona eonni…” dia berusaha bicara namun omongannya dipotong oleh Yoona eonni

 

“aku bukan kakakmu. Aku… membencimu, aku ini musuhmu. Musuh adikku adalah musuhku. Dan ini butik eommamu.. ohh,, bagus, tapi sayang aku tidak berselera memakainya karenamu, Choi Minho. Ayo Seohyun/Oppa” ucap Yoona eonni lalu menarikku yang masih menangis. Aku bukan sedih karena Minho dimarahi Yoona eonni, hanya.. aku terlalu membencinya hingga harus menangis. Aku bukan tipe orang yang akan menggunakan cara kekerasan, aku lebih lemah, aku hanya bisa menangis.

 

“hyunnie-ah… jangan pergi” dia mencoba memegangi tanganku tapi Yoona eonni memukul tangannya hingga dia melepas pegangannya. Dalam mobil, aku menangis. Aku kembali mengingat itu, mengingat masa indah yang seakan jebakan yang dibuat Minho.

 

Flashback

 

“hyunnie…? Ini buatanmu?”dia menatap bingung syal biru muda yang kini melingkar di lehernya. “Aku semalaman membuat syal ini. Kalau tidak percaya, tanya saja Yoona eonni, eomma, dan appa. Mereka malah marah karena aku begadang” kataku sambil tersipu malu, karena dia kini tengah tersenyum manis. Senyum yang sangat aku senangi.

 

“pantas saja hangat.. yang membuatnya saja sangat hangat. Gomawoyo hyunnie…” kupastikan wajahku memerah saat ini. Pipiku memanas karena ucapannya, aku senang sekali dia menyenangi syal buatanku.

CUP ***

Dia mencium kilat pipiku. Aku cukup terkejut, namun rasa senang kini menyelimuti hatiku. Hatiku bergejolak senang, dicium pangeran, apa tidak senang? Pasti sangat!

 

Dalam hati aku berkata “saranghae” tapi sayang, itu hanya dapat kuucapkan dalam hati, tidak secara langsung. Huh! Seo Joo Hyun, pengecut!

 

End flashback

 

Saranghae? Itu kata yang ingin kuucapkan. Namun, jika melihat wajahnya kini, ingin rasanya kuludah dan kuremukkan. Tapi itu tidak bisa, aku yeoja lemah. Yeoja yang hanya bisa menangis dan menangis.

 

“berhentilah menangis~ buat apa kau tangisi namja seperti dia?! Tidak berbobot!” Yoona eonni membentakku karena air mataku terus mengalir di pipi. Air mata ini tidak kuinginkan untuk keluar tapi, ini seperti secara spontan keluar. Sebegitu bencikah diriku hingga harus menangis karenanya, atau.. apa aku memang masih…. AAAA!!! Itu tidak mungkin!

 

“sudahlah Yoong.. dia mungkin masih terpukul” lerai Yesung oppa melihat kekesalan Yoona eonni, aku bersyukur karenanya. Dia memang cocok menjadi kakak iparku, dia selalu membelaku, juga.. dia sepadan dengan Yoona eonni. Yoona eonni memang agak kasar, tapi jika dibilangi oleh Yesung oppa, pasti Yoona eonni akan patuh.

 

“oppa~ dia itu..”

 

“sudahlah.. urusan anak muda!”

 

“aku kesal bukan karenanya. Tapi, aku jadi tidak membeli baju di butik itu karena ternyata milik eomma namja jahat itu. Padahal aku ada menyukai salah satu baju disana..” ucapan Yoona eonni jadi malah mengesalkanku. Kukira dia marah karena aku menangis, tapi ternyata.. karena ada minho dia jadi tidak bisa membeli baju kesukaannya. Parah..!

 

“ya ampun Yoona.,,, sudahlah. Nanti kuantar kau ke butik teman eommaku. Kebetulan dia itu lagi di Paris, jadi baju – bajunya itu asli buatan Paris”

 

“waa.. Paris! Aku mau!” ucap Yoona eonni girang. Aku malah semakin kesal, tapi bagusnya, aku berhenti menangis karena ucapannya.

 

The hope is love

Love love Oo..

The hope is

 

“Seohyunnie!!!” suara Kyuhyun oppa dari seberang sangat menyakitkan telingaku. Aku belum sempat berbicara, dia sudah berbicara dari sana. Sadis…

 

“kenapa oppa?” tanyaku dengan suara sepelan mungkin namun masih dapat jelas didengar Kyuhyun oppa. Aku tidak mau Yoona eonni mendengar pembicaraanku lewat telepon, untung saja di mobil sedang terputar lagu beat yang keras, jadi Yoona eonni sulit mendengar dengan jelas pembicaraanku.

 

“kenapa suaramu pelan sekali.. aku nyaris tidak mendengar tau” protes Kyuhyun oppa. Aku merenggut kesal, kenapa dia harus bertanya hal tidak penting seperti itu? Tidak taukah dia aku bisa digoda Yoona eonni karena berteleponan dengan Kyuhyun oppa.

 

“aissh oppa.. aku sedang dimobil. Jadi tidak bisa berbicara keras. Sudahlah.. kenapa oppa meneleponku?”

 

“aku ingin mengajakmu ke rumah. Ada hal yang ingin kuberitahukan. Tunggu aku jam 7 nanti ya.. aku jemput nanti” belum lagi sempat aku berbicara, dia menutup telepon. Dasar! Apa dia irit pulsa. Sebentar sekali dia berbicara. Dasar pelit!!!

 

“ahhh… Kyuhyun oppa~” Yoona eonni kini mulai lagi. Dia menyebutkan nama Kyuhyun oppa. Apa tadi dia tau kalau yang menelepon adalah Kyuhyun oppa? Ahh.. tidaak!! “eonni…!” kesalku sambil ngambek.

 

“Kyuhyun oppa~” mulai lagi. Kini dia berbuat seakan akan Yesung oppa adalah Kyuhyun oppa. “Seohyunnie~” SHOCK! Yesung oppa juga ikut menggodaku dengan membalas perkataan Yoona eonni. Tidakk!! Dimana Yesung oppa calon kakak iparku yang akan membelaku saat digoda Yoona eonni?!

 

“ANDWEEE!!!!”

 

~~~~

“eonni,,, aku tidak mau” pintaku mencoba agar tidak terus – terusan dijadikan boneka Barbie oleh Yoona eonni. Bagaimana tidak., dia tau Kyuhyun oppa akan mengajakku ke rumahnya. Oleh sebab itu, dia menyuruhku berdandan cantik layaknya seorang putri. Dia berkata, Kyuhyun oppa akan mengajakku ke lembaran yang lebih serius. Yang benar saja!

 

“eonni… jangan terlalu menor !” aku menolak. Soalnya, eonni sekarang tengah memberikan eye shadow pada kelopak mataku. Aku benci eye shadow, cukup bedak tipis saja kan. “seo-ah, ini supaya kau terlihat cantik di depan Siwon ahjussi, appanya Kyuhyun”

 

“eonni…!eonni berlebihan ah. Kyuhyun oppa itu hanya mengajakku ke rumahnya, bukan untuk bicarain soal..”

 

“pertunangaaaann~” potong Yoona eonni sebelum aku menyelesaikan bicaraku. Pipiku bersemu merah. Entah apa yang kupikirkan, tapi sejak Yoona eonni mengatakan pertunangan, aku jadi berpikiran soal itu. Mungkinkah Kyuhyun oppa akan mengajakku bertunangan? Kurasa itu tidak mungkin. Mungkin hanya dinner biasa saja.

 

Tak lama kemudian, penampilanku sudah berubah 180o oleh Yoona eonni. aku kini mengenakan dress berwarna soft pink yang cukup manis. Ya.. aku cukup menyukai styleku saat ini. Aku memandangi penampilanku di cermin seraya sedikit berputar – putar agar merasa lebih cocok, ya… aku jujur, aku agak merasa kurang cocok dengan pakaian ini.

 

“Seohyun.. Kyuhyun sudah menunggumu!” seru Yoona eonni serta membuka pintu kamarku sedikit.

 

“aaa.. kau itu sudah cantik kok” goda eonni ketika melihatku sedang bercermin. Aku malu sekali, aku kedapatan sedang berkaca. “eonni-ah” kesalku malu.

 

“sudahlahh… cepat keluar! Mau kau kupanggil Kyuhyun untuk masuk ke dalam kamar?!”

 

“EONNI!!!”

~~~~

“aigoo~~~ cantik sekali kau Seohyunnie..” kata Kyuhyun oppa kagum saat melihatku duduk di sofa. Aku tersipu malu mendengarnya. Dia tersenyum sangat indah, siapa sih yang tidak akan tersenyum melihat senyumnya? Pasti semua akan tersenyum dengan manisnya, termasuk aku. “khamsahamnida oppa..” jawabku.

 

“aduhh~ jangan bermesraan disini donk” goda Yoona eonni. Untung saja Taeyeon eomma dan Leeteuk appa lagi pergi ke rumah habeoji, kalau tidak, mampuslah aku. Memang mereka takka

n menggodaku, hanya saja, pasti aku akan malu digoda di depan kedua orang tuaku.

 

“eonni..!” gerutuku. Kesal sekali rasanya digoda terus sama eonni.

 

“sudahlah Seohyunnie.. ayo kita pergi” ucap Kyuhyun oppa mengenggam tanganku pergi. Aku hanya dapat tersenyum malu melihat perlakuannya terhadapku, juga.. tawa dari eonni.

 

Di dalam mobil, aku hanya dapat memandangi kaca luar. Aku terlalu malu untuk melihat Kyuhyun oppa. Mataku terlalu silau melihat ketampanan dan karisma dirinya *seo lebay ah -_-“*

 

KRING KRING..

 

Bunyi dering handphone Kyuhyun oppa terdengar jelas dalam mobil ini. Kyuhyun oppa dengan sigap mengambil handphonenya di saku celana menggunakan satu tangan, sedang satu tangan lagi tetap konsetrasi pada stir mobil. “ne appa. Wae?” dapat kupastikan yang menelpon adalah Siwon ahjussi, appa Kyuhyun oppa.

 

“ohh.. aku harus kesana sekarang? Tapi kan appa tau ada Seohyunnie yang akan datang”

 

“umm.. ne. aku akan kesana. Tunggu aku dan Seohyunnie” telpon ditutup terlebih dahulu oleh Kyuhyun oppa. Aku menatapnya penuh pertanyaan kepada Kyuhyun oppa, berharap dia mau menjawab pertanyaan dari raut mukaku. Dia menatapku sebentar lalu tertawa kecil, “hahaha.. tidak perlu menggunakan raut muka itu, Seohyunnie”

 

Aku berhembus lega, “ada apa oppa?”

 

“gini.. appa menyuruhku ke restoran. Mengajak makan malam bersama. Ada anak teman appaku yang akan melanjutkan perusahaan milik appanya.”

 

“lalu hubungannya dengan Siwon ahjussi apa?”

 

“perusahaan itu memiliki saham yang cukup besar di perusahaan appa. Bisa dibilang pendekatan lah..”

Aku mengartikan maksud Kyuhyun oppa sebagai ‘mencari muka’. Hal biasa yang sering dilakukan oleh pemilik perusahaan besar. Aku mengangguk tanda mengerti. Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah restoran modern bergaya klasik. Saat masuk ke dalam, alunan biola mengalun halus. Kyuhyun oppa menelepon kembali Siwon ahjussi menanyakan letak tempat duduknya sekarang. Secara disini itu besar sekali tempatnya.

 

Kyuhyun oppa kemudian menarik tanganku menuju suatu meja, padahal aku sedang asyik melihat air mancur krim vanilla coklat yang sangat bagus. Cukup kesal aku dengan sikap Kyuhyun oppa. Mungkin dia melihat meja Siwon ahjussi. “appa… Minho!”

 

DEG!

 

Minho? Minho lagi?

 

“Kyuhyun… saudaraku. Apa kabar bro?” Minho menyapa Kyuhyun oppa dengan ramah. Mungkinkah mereka berkenalan. Kulihat Minho kemudian melirikku lalu menyunggingkan senyum penuh arti, menyeringai tepatnya. “seohyunnie.. duduk” Kyuhyun oppa mengajakku duduk. Aku menurutinya kemudian menyapa Siwon ahjussi, “annyeong ahjussi..” sapaku dengan ramah dan menyembunyikan ketakutan yang masih terselip dihatiku saat melihat.. Choi Minho.

 

“annyeong Seohyun. Apa kabarmu hari ini?” tanya Siwon ahjussi berwibawa.

 

“baik ahjussi…” jawabku agak sedikit gugup. Bukan masalah karena disapa calon ayah, tapi Minho terus mencuri pandang melihatku. Padahal dia sedang larut dalam obrolan beserta Kyuhyun oppa.

 

“kenapa canggung sekali Seohyun?” tanya Siwon ahjussi

 

“oh ya,,, Seohyun, mungkin kamu canggung ya karena belum kenal dengan Minho yaa.. ehmm,, Minho, perkenalkan ini Seohyun, yeoja chinguku.” Kata Kyuhyun oppa tiba – tiba. Minho mengulurkan tangannya tanda kenalan, dia berpura – pura tidak mengenaliku?

 

“Choi Minho imnida, hyunnie” katanya. Nafasku memburu sesak, hyunnie. Lagi..

 

“yak Minho! Jangan sok akrab pada Seohyunnie..” tegur Kyuhyun oppa. Minho hanya memamerkan senyum dan dehamannya. “ehm.. mianhae Kyuhyun. Aku hanya berusaha untuk menjadi dekat, setidaknya dia akan menjadi sepupuku kelak bukan.”

 

Sepupu? Maksud Minho sepupu?

 

Siwon ahjussi sepertinya mengetahui kepertanyaanku. “oh Seohyun. Kyuhyun tidak memberitahukan padamu? Aa.. ayah Minho dan ahjussi adalah saudara kandung, Seohyun. Dengan kata lain, Kyuhyun adalah sepupu kandung Minho.”

 

Sesak. Sepupu kandung? Kenapa aku tidak pernah mengetahui hal ini dari dulu. Kenapa minho tidak bilang dia punya sepupu dari dulu? Kenapa Kyu oppa tidak bilang tadi yang akan bertemu itu bukan hanya Siwon ahjussi tapi Minho, kenapa dia bilang itu hanya anak pemilik perusahaan yang memiliki saham besar di perusahaan Siwon ahjussi? Ada apa dengan ini semuaa??!!!!

 

“aku ijin ke toilet dulu” keputusan diambil. Aku lebih memilih menenangkan diri di toilet. Ya setidaknya mencuci mukaku. Untung saja sekarang toilet sedang sepi… tidak ada orang di dalam. Aku bisa menenangkan diri, ya setidaknya untuk beberapa waktu.

 

“tenang Seohyun.. tenang.. Minho hanya masa lalu. Ayo tenang..” aku masih mengingat kejadian tadi siang. Saat Minho datang lalu membuatku hampir seperti orang gila. Dan kini secara tak langsung dia akan selalu datang dalam kehidupanku. Dia telah kembali…

 

Sudah 15 menit aku tidak kembali. Untung saja aku sudah mengirim sms ke Kyuhyun oppa kalau aku pulang karena kurang enak badan, semula dia ingin mengantarku tapi aku menolak. Aku belum ingin keluar dari toilet ini hingga memastikan mereka sudah pulang.

 

From: Kyuhyun oppa ^^

Seohyunnie… aku dan appa sudah pulang ke rumah. Aku jenguk kamu dirumah yaa..

 

To: Kyuhyun oppa^^

Aniyo oppa.. tidak perlu. Aku butuh istirahat. Sampai jumpa besok ya oppa. Selamat malam~

 

Kuhembuskan nafasku lega, setidaknya aku bisa keluar dari sini.

 

KLEK

 

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……………”

 

TBC

Hahaha… ada yang teriak tuh. Bagaimana ya kelanjutannya?

Ya stidaknya readers harus pada nunggu lagi.. wkwkwkwk..

RCLnya ya readers, dan saran sangat author butuhkan. Terima kasih utk yang telah membaca. Annyeong…

 

Bertanda , , , , ,

“Oppa… Saranghaeyo!”

Halo para readers ku yang kusayangi…

Author akan melanjutkan ff author yang berjudul “oppa… saranghaeyo!”

Sebenarnya ff ini terinspirasi dari beberapa orang. Baik dari ff karangan author lain *tp bukan berarti plagiat ya*, novel, serta kehidupan nyata author sendiri.

Ya… mungkin ada akan sedikit kesamaan cerita dengan ff lain yang kalian baca, tapi itu cumaa sedikiiiitt saja. Jadi jangan ambil kesimpulan plagiat ya..

So, pair kali ini juga SeoKyu, so bagi yang gak suka, gak usah baca. Dan jika emang mau baca, ninggalin comment. Tapi inget jangan ngebash…

 

“oppa… saranghaeyo”

Main cast:

-. Seohyun

-. Kyuhyun

Other Cast:

-. Sooyoung

-. Ryewook

-. Sunny

-. Yoona

-. Member sm entertainment *hanya beberapa

Genre: Romance, Friendship, Comedy, dll

Length : Series

 

________

Tapi, entah kenapa Kyuhyun sunbae seperti sudah menyihirku dengan sihir cintanya. Aku tidak bisa mencintai yang lain selain dirinya. Ya Tuhan ada apa dengan diriku. Kenapa aku lemah dalam asmara? Hufft… sungguh menyakitkan bila memikirkannya. “Seo Joo Hyun…” seseorang memanggil namaku. Aku, Sunny, dan Yoona membalikkan kepala. Minho kini sedang membawa sebuah buket bunga mawar putih. “saranghae…”

Aku melihat Yoona dan Sunny meminta pertolongan. Tapi jahatnya, mereka malah melihat ke arah lain seakan tidak mau tau. Aku menjadi kesal. Aku berdiri, Minho tersenyum saat aku berdiri. Mungkinkan dia menyangka aku akan menerimanya? Oh my god…

“Minho…” ucapku

“ne seohyun?”

“jangan pernah dekati aku lagi. Tidak capekkah dirimu mendekatiku terus. Aku saja bosan, minho..!!!” aku menggebrak meja sehingga Yoona dan Sunny serta Minho kaget. Mungkin juga yang lain sangat kaget mendengarku. Ya..  aku kan tidak pernah seperti ini. semua namja yang mendekatiku hanya kubalas dengan diam.

“se…seohyun..  ka..u kenapa?” minho berusaha bertanya. Aku memutar kedua bola mataku dan kembali menatapnya dalam “aku… tidak… mencintaimu… minho” aku mengeja kata – kata itu agar lebih jelas didengar oleh telinga rusaknya itu.

“se…se…seo…hyun” ucapnya terbata – bata. Dasar… terlalu dramalistis banget sih nih anak, katanya cool. Kok kayak gini…

“wae? Pergi sana!” dia berjalan pergi dengan lesu. Aku mencibir dirinya. Kulihat Yoona dan Sunny menggeleng. Biar saja! “seohyun…..” geram mereka berdua. Aku tersenyum getir dan mengangkat tanganku menjadi V “hehehe… peace”

Saat istirahat tiba, aku segera menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku – buku yang kupinjam. Aku berlari kecil menuju perpustakaan. Ingin sekali aku cepat sampai ke perpustakaan, karena… setauku disana ada Kyuhyun sunbae. Perpustakaan kini telah dekat, tapi… tiba – tiba aku melihat Kyuhyun oppa keluar dari perpustakaan bersama… Victoria sunbae?

“ahahahaha.. kyu, ada – ada saja kamu. Itu gak mungkin..” ucap Victoria sunbae sambil memukul lengan Kyuhyun sunbae. Kyuhyun oppa hanya meringis,”Vic… jangan gitu. Sakitt..” Ukhh.. kenapa ini terjadi di depanku? Menyebalkan. Aku segera pergi ke kantin yang kebetulan berlawanan arah dengan perpustakaan. Aku menyampari Yoona dan Sunny yang sedari tadi sudah makan. “menyebalkaan!!!”

“kenapa lagi, Seo? Kyuhyun sunbae lagi?” ucap Sunny seperti sudah menghafal kelakuanku. Dan lagi, aku mengangguk. “aku bosan dengan nama itu deh…” kata Yoona seperti menyindirku. “Yoona… kau tidak pernah jatuh cinta sihh..”

“mwo? Siapa bilang? Aku lagi jatuh cinta kok..” Yoona membuat aku dan Sunny terkejut. “ha? Kenapa tidak bilang – bilang sihh..siapa?” sunny mengangguk lalu melanjutkan perkataanku “kita kan best friend, ayolaahh…”

“iya – iya.. asal kalian tutup mulut ya” aku jadi semakin antusias dan penasaran sama siapa yang membuat Yoona jatuh cinta padanya. “aku menyukai….” Dia memotong bicaranya yang membuat kami semakin penasaran.

“donghae oppa…” kami berdua terkejut dan saling berpandangan, dan bersamaan berkata “DONGHAE???”  dia mengangguk.

Donghae itu adalah anak cowo yang cukup ating juga sih di sekolah ini. Banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, tapi… dia itu playboy dan sedikit manja. Aku pernah berpacaran dengan Donghae dan.. ukhh,. Sangat menyebalkan. Dia sangat manja, dia setiap malam pasti ating ke rumah sehingga Ryewook oppa jadi kesal dan menyuruhku putus dengan Donghae. Semula aku tidak mau, tapi ketika aku pikirkan dengan matang, itu sangat benar.

“aku menyukainya.. sangat malah” lanjut Yoona. “Yoona.. kau tidak tau ating tentangnya yang terbaru?” ucap Sunny. Hmm… pasti tentang itu.

“ha?” sepertinya Yoona belum tau. Ya sudah, kasih tau saja. “gini lho.. gosipnya tuh, si Donghae lagi deket dengan Jessica. Bukan Jessica lho yang pdkt, tapi Donghae. Magic bukan? Ya.. setidaknya Jessica adalah wanita kedua yang pernah didekati oleh Donghae setelah aku” jelasku yang sukses membuat mata Yoona terbelalak. “mwo?”

“dan juga, mereka itu udah jadian lho.. kau tidak lihat? Setiap hari Donghae akan antar jemput Jessica ke sekolah. Juga sepertinya di rumah lebih mesra lagi..” lanjut Sunny. Ehm.. muka Yoona jadi geram nihh. Tiba – tiba si Ice Princess *baca: Jessica* lewat, langsung disamperin sama Yoona dan Yoona… astaga! Menjambak rambut Jessica.

“aww…. Apa – apaan kau Yoong?! Sakitt!!!” jerit Jessica. “Yoonaa…” kami berusaha melerainya, namun apa daya…“jangan dekat – dekat dengan Donghae oppa!!!” seru Yoona dengan volume yang keras sehingga seluruh kantin melihat kejadian sadis *(?)* itu. “haaaa!!! Gak salah dengar nihh! Wajar kan.. Donghae itu namja chinguku. Jadi wajar aku dekat dengan dia, pabo!” balas Jessica tidak kalah kerasnya.

“tapi aku menyukainya, dan tidak boleh ada seorang yeoja pun yang memilikinya, kecuali aku…!!!!” teriak Yoona. “DONGHAE ITU NAMJA CHINGUKU!!!” teriak Jessica juga. Dan kini telah terjadi perang, Yoona menjambak rambut Jessica, Jessica juga membalas menjambak rambut Yoona, dan seterusnya.

“sunny…” panggilku. Sunny melihatku, “Seohyun…” kami berdua mengangguk lalu segera pergi. Biar saja si Yoona, sudah dilerai, gak mau didengar sih. Kami berdua kembali ke kelas. Lelah banget, Yoona terlalu lebay deh. Masa karena Donghae aja langsung buat perang dengan Jessica gitu, ya ampun… nanti menyesal nangis deh..!

“Yoona pernah jatuh cinta, aku jatuh cinta… sepertinya hanya kamu yang belum pernah deh Sunny.” Ujarku asal. Ya, setidaknya mengusir sepi lah..

“oh ya.. hehehe.. bagus donk” kata Sunny cekikikan. Aku memutar bola mataku. “kau harus berusaha jatuh cintaa..!”

“mwo? Wae? Haruskah? Aku takut orang itu tidak menyukaiku”

“aduuhh… siapa orang itu? Awas saja kalau dia tidak menyukaimu. Akan kuhajar dia…” aku mengepalkan kedua tanganku untuk meyakinkannya. Dia tertawa. “kurasa itu tidak mungkin. And, kita juga masih sma. Gak mungkin kan kita pikirin itu. Pendidikan dulu lahh..”

“up to you dehh… pasrah!”

Ryewook POV

“ini susah Hyo…” keluhku pada Hyoyeon sahabatku. “haisshh.. kau aneh, Wook. Dulu kau yang paling hebat masak, masa makanan perancis ini kau tidak tau. Ini mudah” omel Hyoyeon.

“tapi… aisshh… aku capek”

“katanya mau untuk  Seohyun, masa menyerah di tengah jalan…” mendengar nama Seohyun aku langsung berdiri lagi dari kursi yang tadi aku duduki. “baiklahh.. demi Seohyun!” aku kembali memasak dengan sangat antusias hingga membuat Hyoyeon tertawa. “wae? Kenapa kau tertawa?”

“wahahahahaaaaa….. jujur.. hiiihiihi.. kau aneh.. sangat aneehh.. menyukai adikmu sendiri. Ckckck.. matamu buta dengan wanita luar ya. Wkwkwkwk…” katanya sambil memegang perutnya karena tidak sanggup menahan tawa. Aku mendengus kesal. Apa apaan dia? Terserah aku donk. Seohyun memang adikku tapi aku mencintainya, lebih mencintai daripada seorang adik, tetapi sebagai wanita dan pria.

“heyy.. ingat kau! Seohyun itu bukan adik kandungku. So, aku berhak mencintainya. Karena tidak ada hubungan darah dengannya.”

“wahahahaaa…” tawanya pecaah..!

“seo.. seohyun… kau belum pulang?” aku memasuki kamarnya pelan – pelan. Takutnya dia sedang mandi atau apa gitu. Tidak ada jawaban. Apa berarti dia belum pulang. Kulirik jam di kamarnya, jam 5 sore. Sesore ini dia belum pulang? Lagi buat apa ?

Aku mendekati meja belajarnya, ada  buku berwarna pink yang dikunci. Diary. Ya.. itu diarynya. Boleh kubaca tidak ya? Mm.. jangan. Tapi aku penasaran, mm.. buka saja. Aisshh.. tapi bagaimana kalau dia ating dan melihatku membaca diarynya. Oh tidak!

Lebih baik aku pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam. Setelah aku masak, kuhidangkan makanan itu di atas meja. Lengkap dengan lilin untuk membuat suasana atingc. Hehehe… aneh emang. Tapi pikiranku emang lagi sedikit yadong. Maklum, ketularan Eunhyuk. Hahaha… tiba – tiba hapeku berbunyi.

Tit..tit..tit

From: My Seohyun

Oppa.. Ada tugas kelompok di rumah Sunny.oppa jemput aku di rumah Sunny ya… oppa tau kan?

 

To: My Seohyun

Ne Seohyun,, oppa akan menjemputmu

 

Sekarang sudah jam setengah 8, lebih baik aku bersiap untuk menjemputnya. Juga, rumah Sunny cukup jauh dari rumah ini. Kuambil jaketku dan dompet, takut-takut Seohyun melihat keroro lalu menyuruhku untuk membeli barang itu. Ya.. seohyun itu sangat menyukai keroro. Hampir semua barang miliknya ada keroronya. Aku saja bosan… ckckck…

Selama perjalanan, aku terus memikirkan seohyun. Aku merasa terkadang aku ini gila. Betul kata Hyoyeon, ini gila. Menyukai adik sendiri. Walaupun aku tidak mempunyai hubungan darah dengan Hyoyeon, tapi ini sebenarnya tidak boleh. Mataku telah buta oleh seohyun, dia membuatku jatuh cinta pada dirinya, walau ku tau, dia menyukai seseorang di sekolahnya dan itu bukan aku. Dan aku yakin, dia tidak akan bisa mencintai diriku yang notabanenya kakaknya sendiri. Seohyun juga belum tau, kalau aku bukan oppa kandungnya. “Wook oppa..” panggilannya terhadap diriku. Aku masih ingat saat dia menyebutkan namaku saat masih kecil. Wook oppa, nama yang singkat. Tapi aku menyukai nama yang diberikannya itu.

Tiba tiba handphoneku berbunyi, ada sebuah panggilan dari handphoneku. My Seohyun. Nama itu tertera di layar handphone Lgku. “yeobseo..”

“oppa… lama banget sihh.. cepat dikit donk!” suara seohyun terdengar dari seberang sana. Sebegitu lamakah aku? Padahal aku rasa udah cepat nih.

“ow nee.. mian kalau oppa lama..” ucapku lalu memutuskan sambungan telepon.

Seohyun POV

“Yoong.. tunggu sebentar lagi ya.. pliss..” mohonku pada Yoona agar mau menunggu sebentar lagi sampai aku dijemput Ryewook oppa. “Seo.. aku ngantuk tau!Emang kalau kamu ngantuk , kamu gak mau pulang?” omel Yoona, huhh.. gimana nih!

”heii.. ya sudah kalian ini. Yoona, tunggulah sebentar. Aku ambilkan kalian cemilan atau kue ya…” kata Sunny mencoba menenangkan. “hufft… baiklah. Kalau ada cemilan, aku mauu…!!!” Yoona langsung menjadi semangat setelah mendengar kata ‘cemilan’

Sunny pun pergi meninggalkan kamar miliknya yang bernuansa light blue ini. Aku dan Yoona diam dalam kamarnya, namun pandanganku mengarah pada sebuah buku diary milik Sunny yang tergeletak di atas meja. Aku melirik Yoona lalu kami tersenyum menyeringai. Kami hampiri diary itu dan kami membuka halaman demi halaman dari diary itu.. hahaha… kami jahil sekali ya. Namun, kami melihat dia telah menulis untuk hari ini.. wahh…

 

18 november…

Hari ini, Seohyun sedih karena Kyuhyun sunbae. Hari ini juga, Yoona mengungkap siapa yang dia sukai.donghae. namja manja dan playboy bagiku dan pastinya bagi Seohyun yang pernah menjadi yeoja chingunya. Aku jadi merasa terkucilkan. Aku juga ingin menungkap siapa yang aku suka. Tapi, aku takut dia tidak menyukaiku. Karena rasanya dia menyukai yeoja lain. Hufft.. andai saja white prince dapat mengerti perasaanku. Saranghaeyo White Prince..!!!

 

“mwo? White prince?” ucap kami berdua bersamaan. Jadi.. selama ini Sunny lagi menyukai seseorang. Tapi siapa… dia selalu mengatakan tidak ada. Padahal ada. Dasar Lee Sunkyu…!!!

“nahh.. ini…” sunny ating dan melihat kami memegang diarynya. Raut mukanya menjadi kesal. Aku jadi serba salah, Yoona segera menyembunyikan diary itu di belakang badannya. “mianhae Sunny…” kompak kami berdua. “kaliaaannn..!!!”

“heheheheee.. tapi kamu harus ngaku sekarang” ucapku

“ngaku a..atas hal? Kurasa aku tidak me.. lakukan apapun..” sergah Sunny agak gagap

“atas siapa itu White Prince… ayo ngaku…” sambung Yoona

“gakk…!!!” Sunny berteriak histeris tidak ingin.  “ayooo….. janji deh kami akan bantu kamu…”

“hhhmmm.. tidaaaakk.. andweee!!!”

“ayoo…” kami terus merujuknya, tapi.. kayaknya gak bakal berhasil melihat keteguhan hatinya itu. Huft.. baiklah. Aku menyerah.. tapi Yoona kayaknya juga gak menyerah. Terserah saja..

“ANDWE!!!” teriak Sunny dengan suara khasnya yang harus membuatku menutup kedua telingaku. Aku tidak mau gendang telingaku pecah karena dia.

 “Wook oppa!!!” seruku saat melihat mobil berwarna putih terparkir di depan rumah Sunny. Tidak salah lagi, itu Ryewook oppa. Dia melambaikan tangan saat melihatku dan sepertinya menyuruhku untuk turun. Segera kubereskan segala perlengkapanku, Yoona dan Sunny yang sedari tadi masih perang bingung melihatku.

“kau sudah dijemput?” tanya Yoona dengan memiringkan kepalanya. Aku menangguk, “tugas kita sudah selesai makanya aku meminta oppa untuk menjemputku. Wae Yoong? Kau mau ikut?” tawarku

“ani.. aku akan menginap di rumah Sunny. Orang tuaku lagi ke Jepang”

“sudah ya…” desis Sunny lirih. Aku hampir tidak bisa mendengar. Aku menatapnya bingung, dia seperti takut, khawatir, dan apalah itu. Dia seperti aneh.

“Sunny-ah, gwenchana?”

“ha?! Ne… gwenchana!” katanya seperti agak kaget. Dia melamun?

“oh ya.. aku turun ya. Oppa sudah menungguku dibawah” ujarku lalu memanggul tas di punggungku. “aku ingin ikut ke bawah..” seru Yoona, tapi tidak dengan Sunny, dia malah duduk pasrah di atas tempat tidurnya. “kau tidak ikut, Sunkyu?” goda Yoona

“Sunny, Yoong!”

“oh ne.. Sunny, tidak ikut ke bawah mengantar Seohyun?” tanya Yoona ulang.

“mm… baiklah”

“Wook oppa, mianhae lama..” seruku lagi saat sudah berada di depan mobil bersama Sunny dan Yoona. Dia tersenyum manis tanda tidak apa – apa, menurutku.

“gwenchana.. Sunny dan Yoona mau ikut?” tanyanya bingung saat melihat Sunny dan Yoona ada disampingku.

Yoona sudah langsung menggeleng, tapi Sunny aneh lagi, dia malah menunduk seperti tidak mau melihat wajah Ryewook oppa.

“Sunny-ah” kata Ryewook oppa lagi tapi tidak dibalas hingga Yoona menyikunya, “Sunny!” bentak Yoona

“ohh.. wae? Waeyo?” tanyanya terkejut. Ada apa dengan anak satu ini? Dia mulai seperti ini sejak Ryewook oppa datang, apa mungkin…

“kau mau ikut?” tanya Ryewook oppa sabar. Sunny tersenyum, “aniyo…”

“ohh.. baiklah. Sampai jumpa..”

“daa teman-teman” ucapku melambaikan tangan dan dibalas dengan lambaian tangan mereka berdua. Ada – ada saja..

~~~

“kau sudah makan?” tanya Ryewook oppa membuka pembicaraan yang sedari tadi hanya diam.

“belum.. aku kan mau makan makanan oppa yang sangat enaak” kataku semangat.

“jeongmalyo?”

“ne oppa…”

“baiklah… kita makan dirumah ya. Oppa juga sudah masak makanan special..” Masakan special?! Waahh.. bakal makan enak deh malam ini. Yipii….

~~~

“oppa… kenapa mataku harus ditutup sih?” gerutuku pada Ryewook oppa karena kini dia sedang menutup mataku dengan kain hitam. Maksudnya apa coba? Sureprise? Ahh.. tidak perlu seperti ini juga kan.

“sabar.. sedikit lagi kita sampai”

Beberapa saat kemudian, aku merasakan kalau oppa menuntunku untuk duduk di kursi. Dari arah perjalanan, aku dapat mengetahui kalau ini di meja makan rumah. “oppa….” Kataku tidak sabar. Aku semakin penasaran dengan apa yang sedang diatur Ryewook oppa.

“sabar…. Oke.. 1….2…3…” ucap Ryewook oppa sambil membuka lilitan kain yang menutupi mataku. Aku tidak percaya dengan mataku, fatamorganakah? Aku menggelengkan kepalaku berharap fatamorgana ini dapat berakhir, tapi.. tidak.

Makanan ala italia, lilin, dan sebuket bunga mawar yang sudah ditata rapi terletak manis di meja. Lampu ruang makan kini dalam keadaan padam. Hanya ada penerangan dari lilin yang begitu… romantis?

Makan malam romantis?

“oppa…?!” tanyaku tidak percaya dengan penglihatanku. Dia kini tersenyum padaku dan tidak membalas pertanyaan singkat dariku. Aku memandanginya sebentar, dia tetap tersenyum. Lama kelamaan, tatapanku berubah menjadi tatapan bingung dan aneh tanda tidak mengerti.

“Seo Joo Hyun…” katanya setelah sekian lama hanya tersenyum dan tersenyum.

“ne?”

“mungkin ini aneh, tapi.. sesungguhnya aku itu..” katanya terpotong karena sepertinya grogi. Apa yang akan dikatakannya?

“wae oppa?”

“aku… aku.. sarang…”

Titt titt titt… handphoneku berbunyi! Segera aku mencari tasku tapi tidak ada. Aku menyalakan lampu ruangan, dan ahaaa… ada di atas sofa. Aku merogoh tasku mencari handphoneku.

End Seohyun POV

Ryewook POV

Aku hanya dapat tersenyum dan tersenyum. Memandangi wajah imutnya itu sangatlah tidak membosankan. Dia menawan, baik saat sedang marah, senang, bahkan bingung seperti inipun dia tetap cantik. Ingin sekali aku lebih lama lagi, tapi tidak mungkin. Aku harus segera menyatakannya, sudah cukup kupendam perasaan ini sejak aku berumur 12 tahun hingga sekarang, sudah hampir 10 tahun kupendam perasaan ini.

“Seo Joo Hyun” kataku kemudian. Mukanya langsung cukup berseri seri. Mungkin dia terlalu bosan menunggu aku berbicara, “ne?”

““mungkin ini aneh, tapi.. sesungguhnya aku itu..” perkataanku terhenti oleh perasaan grogi yang tiba-tiba saja muncul. Aku menghembuskan nafasku berusaha agar grogi ini berakhir, tapi tidak. Tapi.. aku harus tetap menyatakan perasaanku. Tidak bisa ditunda lagi.

“wae oppa?” tanyanya bingung. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku.

“aku… aku.. sarang…hae Se”

Titt tit tit…

SHIT! Kenapa di keadaan seperti ini ada yang menelepon?! Sial! Dapat kupastikan Seohyun sudah tidak memperdulikanku, yang dia perdulikan adalah handphonenya yang lagi berdering dengan kerasnya. Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Malah sekarang dia menyalakan lampu ruangan hingga dari suasana romantis yang sudah kubuat berakhir sudah. Kini dia telah mendapatkan handphonenya dan aku kesal. Yaa… aku kesal! Kusumpahi orang yang meneleponnya tidak akan dapat pacar!

“Sunny-ah.. waeyo meneleponku?” aku terkejut. Sunny yang menelpon? Oh tidakkk.. sumpahku tadi? Semoga sumpah itu tidak berjalan. Kasihan jika Sunny tidak punya pacar, yeoja lucu sepertinya jomblo. Jangan.. jangan…

“ohh.. mianhae. Bawa besok saja yaa… daa” dia menutup telepon lalu duduk kembali, tapi matinya tidak dimatikan. Mana ada suasana romantis

“tadi oppa mau bicara apa?” tanyanya polos. Aku sudah tebak, dia tidak mendengar kata ‘saranghae’ itu. Haruskah kuucapkan sekali lagi? Keberanianku sudah hilang. Aku masih terlalu kesal untuk beromantis.

“sudahlah.. bukan pembicaraan penting. Sekarang, ayo makan. Nanti supnya keburu dingin” kataku sambil merutuk diriku sendiri. Bukan pembicaraan penting?! Hello.. ini pembicaraan yang sungguh sangat penting bagi masa depanku, bagi asmaraku.

“jinjja?” tanyanya seperti kurang yakin dengan perkataan ‘bukan pembicaraan penting’. Aku berusaha untuk tersenyum tanda itu betul, dan dia mengangguk lalu mulai makan.

Baiklah.. mungkin lain kali aku bisa melakukan itu lagi. Kim Ryewook,, Semangat!

End Ryewook POV

~~~

Keesokan paginya, seperti biasa. Ryewook mengantar Seohyun ke sekolahnya lalu pergi kerja mengurus hotel bintang lima milik keluarga mereka. Sedangkah Seohyun, sudah berdiam diri dalam kelas.

“Seohyun…”

“annyeong Joo Hyun”

“pagi yang cerah. Selamat pagi seo…” sapaan demi sapaan terekam dan itu menjadi kegiatan rutin para penggemar Seohyun. Seohyun hanya dapat memberikan senyuman untuk membalas sapaan mereka, kerongkongannya tak  mampu membalas satu per satu kata untuk mereka semua. Mungkin cuma ‘hai juga’ dan ‘gomawo’ yang dapat dia lontarkan. Tapi lain hal jika yang menyapanya adalah,, “annyeong princess Seohyun” sapa seorang namja idola Seohyun, Cho Kyuhyun.

Tak dapat dipungkiri, melihat wajah Kyuhyun, pipi Seohyun akan merona merah apa lagi mendengar sapaan gombal dari Prince Charmingnya ini. “Kyuhyun sunbae.. annyeong” balasnya. Mungkin hanyalah kakak senior pujaan hatinya ini yang dapat membuatnya luluh.

“sepertinya hari ini kau begitu banyak penggemar yaa..” kata Kyuhyun yang hanya dapat membuat Seohyun tersenyum malu. “haduuh… aku capek denganmu. Sudah kubilang tidak perlu malu jika berhadapan denganku. Aku tau aku tam.”

“annyeong two hyun” sapa seorang yeoja tinggi yang tidak salah lagi adalah Sooyoung.

Two Hyun?

Seohyun POV

Two Hyun?

Sooyoung sunbae mengatakanku dan Kyuhyun sunbae itu two Hyun? Apa dia menyukai bila aku dan Kyuhyun oppa menjalani sebuah hubungan? Yahh.. seperti artis – artis sekarang ini. Sebut saja aktris Taeyeon dan Leeteuk itu, mereka kan disebut TaeTeuk dan itu terdengar sangat romantis.

“Sooyoung!” bentak Kyuhyun sunbae. Dia membentak Sooyoung sunbae. Apa dia tidak suka jika..

“waeyo? Kau marah?” tanya Sooyoung sunbae dengan nada meledek.

“ne! pagi – pagi kau sudah buat ulah. Dasar evil!” bentak Kyuhyun sunbae. Aku hanya dapat diam melihat tingkah kedua sunbaeku yang sangat kekanak-kanakan. “ha! Aku evil? No! kau itu yang evil, pabo…!!!” ucap Sooyoung sunbae tidak terima dengan perkataan Kyuhyun sunbae.

Tingkah mereka sungguh menggelikan. Tapi aku merasa sedih, apa artinya Kyuhyun sunbae tidak menyukai bila aku dipasang-pasangkan dengannya.

“ehmm…” aku mencoba untuk merubah suasana mencekam ini. Mereka bertengkar seperti tidak merasakan bahwa ada aku disini. Kurasa dengan berdeham, mereka dapat sedikit merasa malu.

Mereka berdua akhirnya berhenti dari aktivitas ribut itu, dan saat melihatku mereka merasa agak malu. Bagaimana tidak? Bertengkar tanpa mempedulikan orang  di sekitar? Ini sudah kedua kalinya!

“oh Seohyun.. mianhae.. mianhae” kata mereka bersamaan. Bersamaan?! Oh tidak… mereka semakin dekat saja.

“ani.. gwenchana. Aku permisi dulu ya sunbae..” ucapku. Aku memutuskan untuk pergi dan mencurahkan isi hatiku ini pada kedua sahabatku.

~~~

“Sunny-ah,, Yoona-ah” kataku saat sudah berada di depan mereka. Kutampakkan wajah sedihku, aku memang sedih.

Mereka memandangiku sekilas, lalu kembali bercengkrama seakan aku ini tidak ada. Aku mengerucutkan bibirku lalu duduk di bangku tepat di depan mereka. “kalian mengacuhkanku?!” kataku tak percaya dan sedikit membentak.

“Seo, kami bukan mengacuhkanmu” kata Sunny

“kami hanya bosan melihatmu setiap pagi begini mulu. Aku tebak, kali ini kau mau curhat soal kedekatan Kyuhyun sunbae dan Sooyoung sunbae kan?” sambung Yoona. Gotcha! Dia benar. Aku memang mau curhat soal itu. Karena aku… aku tidak mau memendam ini sendiri. Aku tidak mau tersakiti sendiri, egois memang. Tapi, mereka juga harus mengerti

“kalian bosan?” mereka menangguk mantap. Aku menundukkan kepalaku lalu kembali berbicara, “tapi.. kenapa aku tidak pernah bosan dengan Kyuhyun sunbae? Kenapa aku masih terus menyukainya? Aku tidak tau.. bantu aku” entah kenapa kata – kata itu meluncur saja dari mulutku. Aku tidak tau kenapa aku dapat mengucapkan kata sepuitis itu.

“seo-ah…” ujar  mereka berdua. “kenapa… kenapa kalian bisa bosan dengan semua ini? Tapi kenapa aku tidak bisa bosan untuk menyukai dan tergila gila dengan Kyuhyun sunbae.. kenapa?”

“seo… itu semua karena kau memang mencintainya… mianhae seo” ucap Sunny

“ne seohyun.. mianhae kami mengacuhkanmu” lanjut Yoona.

Aku menangguk tersenyum, “gomawo~”

~~~

Kyuhyun POV

Sooyoung memalukan diriku! Tega-teganya dia mengatakan hal seperti itu di depan Seohyun. Two Hyun? Cih! Lelucon macam apa itu… aku tidak pernah menyukai Seohyun. Ya memang nama belakang kita berdua sama, hyun. Tapi bukan berarti kita berjodoh kan. Aku menyukai seseorang dan tidak akan pernah terganti di hatiku.

Yeoja itu lebih manis dari siapapun. Sifatnya dan sikapnya membuatku jatuh cinta padanya. Ya memang agak sedikit buruk depan seorang namja, tapi menurutku itulah keunikan darinya. Sepertinya kalian dapat mengetahui siapa yeoja itu. Ya.. benar.

Sooyoung

Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku sangat menyukai saat kami diberi julukan evil couple, karena kejahilan kami yang tidak ketulungan. Aku menyukai semuanya… tapi Sooyoung tidak pernah dapat mengerti perasaanku, dia selalu mengangguku dengan juniorku yang satu itu, Seohyun. Dia mengatakan kami cocoklah, inilah, itulah, dan sebagainya. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai Sooyoung dibanding Seohyun, aku hanya menganggap Seohyun sebagai adik kelasku. Itu saja..

“Kyuhyun… Kyuhyun…!!!” teriak Sooyoung di depan wajahku. Aku tersentak kaget karena teriakannya, “ya pabo! Kalau aku tuli karena teriakanmu bagaimana, ha?!”

“salahmu sendiri melamun… melamun apaan sih? Jangan – jangan soal yeoja yaaa…” DEG! Kenapa dia dapat mengetahui kalau aku melamunkannya, apa dia dapat membaca pikiranku. Aniyo… aku belum siap menyatakan cintaku sekarang. Aku belum menyiapkan bunga, dinner, dan sebagainya. Semuanya itu belum siap.

“hmm.. aku..”

“ahh.. pasti si Seohyun kan! Waaa.. bilang saja kalau kau memang menyukainya, Kyu” ucap Sooyoung yang membuatku sangat kesal. Ingin sekali aku menggebrak meja lalu meluruskan semua ini. Aku tidak menyukai Seohyun! Biar dia itu populer kek, cantik kek, pintar.. pokoknya aku dan dia hanya sebatas senior dan junior.

“Sooyoung… aku dan Seohyun hanya senior dan junior. Tidak lebih..” ucapku tegas. Bukannya terdiam, Sooyoung malah memutar kedua bola matanya dan kembali menatapku, “kapan kau bisa jujur?”

“SOOYOUNG!”

“Kyuhyun-ah!!!!” gertakannya lebih menyeramkan dibanding gertakanku. Kalau aku bukan sahabatnya, aku pasti akan menyangka dia yeoja jadi jadian.

“kau.. ekh! Dasar yeoja aneh!” kesalku lalu pergi keluar dari kelas. Aku tidak mau mukaku kelihatan tua karena yeoja aneh ini, walaupun aku sebenarnya menyukai Sooyoung.

Author POV

“week.. dasar Kyuhyun jelek!” ucap Sooyoung seraya menjulurkan lidah kea rah Kyuhyun yang sudah di dekat pintu kelas. Orang yang merasa dipanggil pun berbalik

“mwo?! Apa kau bilang?!” marah Kyuhyun karena dikatakan ‘jelek’. Kata yang paling dibencinya selama ini. “jelek? Wae? Marah?” kata Sooyoung dengan santai. Dia tau, dia tau kalau Kyuhyun pasti marah jika mengatakan Kyuhyun jelek. Ini sudah kebiasaan dari mereka berdua, ejek dan mengejek. Satunya mengejek, satunya pasti marah.

“dasar kau Choi Sooyoung,,,!!!” Kyuhyun mengambil langkah untuk mengejar yeoja satu ini. Namun, Sooyoung sudah terlebih dahulu lari sehingga terjadilah aksi kejar – kejaran. Ciri khas mereka berdua yang pasti akan membuat semua orang iri, dengan berpikir, itulah cara mereka mengungkapkan sayang.

Aksi mereka sampai di tengah lapangan, entah apa tidak ada rasa capek dalam aksi itu. Dengan riang mereka saling kejar mengejar.

“sunbae..” lirih seorang yeoja yang melihat aksi itu. Titikkan air mata mulai menetes di pipinya. Berlebihan? Mungkin saja. Tapi dia merasakan itu, merasakan cemburu yang amat dalam. Seohyun bisa saja kesana dan menghentikan semua, tapi, kakinya terlalu berat untuk melangkah.

“Seo-ah?” sapa seseorang yang bingung melihat Seohyun bersedih dekat tiang.

“ahh.. Key-ah. Annyeong,” ucap Seohyun membalas sapaan Key seraya membungkuk dan menghapus air matanya. Orang yang disapa pun hanya tersenyum renyah melihat tingkah Seohyun yang dapat berubah sedemikian rupa itu.

“kenapa…?” tanya Key halus, berusaha agar orang yang ditanya tidak terlalu canggung. Tapi kenyataan pahit *(?)* menimpa Key, Seohyun hanya dapat memandang lurus menuju lapangan, melihat orang yang dicintainya sedang bermain riang bersama yeoja terdekatnya.

“Seo…Seohyun” Key mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Seohyun, mata Seohyun pun tersadar. “aa… a, mianhae Key-ah”

“gwenchana.. tapi, lebih baik kau masuk kelas. Sebentar lagi bel pasti akan berbunyi” ujar Key. Seohyun hanya dapat tersenyum mendengarnya, tapi matanya terus mengekor Kyuhyun dan Sooyoung yang kini sudah duduk di tengah lapangan sambil tertawa ria.

“ne.. gomawo”

 ~~~~

“Seohyun… Seo joo Hyun” tangan Sunny terkibas jelas di depan mata Seohyun yang hanya dapat diam dan diam. Dia sudah melakukan ini selama istirahat penuh, dan kini saat ada mata pelajaran kosong, aktivitas sama dilakukan Seohyun kembali. Kedua temannya hanya dapat pasrah dengan keadaan Seohyun. Patah hati. Satu kata yang paling tepat untuk Seohyun.

“dia.. kenapa?” tanya Yoona pada Sunny yang sedari tadi berusaha menyadarkan Seohyun. Sunny hanya dapat mengangkat bahu melihat kelakuan Seohyun. “broken heart.. maybe” ucap Sunny.

“sedari tadi dia seperti ini terus. Apa kau pikir ini karena sunbae?” lanjut Sunny. Yoona mengambil kursi lalu duduk di sebelah Sunny. “ mungkin.. tadi aku lihat, sunbae dengan Sooyoung sunbae sedang duduk berdua di kantin. Makan bersama..” jelas Yoona

Sunny kembali menatap Seohyun, masih sama saja. Tak ada gerakan sama sekali. “dasar sensitif” gumaman itu yang dapat keluar dari mulut Sunny. Tak ada unsur marah atau apa, tapi beginilah. Seohyun patah hati.

“sampai kapan dia akan terluka terus karena sunbae? Aku kasihan melihatnya..” kata Yoona lirih. Tatapannya menuju Seohyun yang sedang memandang lurus, hanya tangannya yang bergerak sesekali.

“semua namja ditolaknya hanya untuk sakit hati. Menyedihkan~” sambung Sunny.

“Kyuhyun sunbae~”

TBC

Hehehe…. Bagaimana

Bagus tidak? Pasti readers pada bête kan. Ya.. authornya aja bête #plakk

Maaf banget ya readers. Author jarang banget ngepost ff lagi. Soalnya belum dapat ide cerita yang pas.

Maaf..

RCL masih author harapkan. Author janji akan berusaha untuk cepat. Oke ;)

Bertanda , , , , ,

Love Is Hurt [1/2]

Halo semuaa.. halohaa

Sekarang author kembali lagi dengan ff baru author. Love Is Hurt

Dari judulnnya aja sih udah ketahuan jalan cerita dan endingnya.

Sebenarnya ini mau jadi oneshoot, tapi karena otak author yang kumat banget, susah buat oneshoot, makanya ini jadi twoshoot saja lagi. Hehehe

Author lagi demen banget sama Fanny nih makanya Fanny lagi yang jadi tokoh di ff ini. Tapi secara keseluruhan ini smua snsd kok dan ada unsur persahabatan dan kekeluargaan. So, jangan bosan bosan ya baca. Author tau terkadang membosankan, tapi author ingin nyukain hatinya para readers, jadi jangan bête.

Tenang aja… ff yang lain akan author lanjutkan. Hanya inspirasi ini lagi lewat makanya author nulis. Okk okk…

—————————————————————-à

Title: Love Is Hurt

 

Cast: SNSD, Super Junior

 

Length: Twoshoot

 

Genre: *cari sendiri ya..

 

—————————————————————-à

 

Tiffany POV

 

Ukhh.,,! Menyebalkan! Aku sekarang hanya berjalan – jalan sendiri di mall tanpa namja chinguku, Siwon oppa. Sungguh sangat menyebalkan. Aku tau, dia itu adalah seorang entertainer yang tenar juga seorang member boyband ternama Super Junior. Akupun adalah seorang member SNSD, girlband korea yang bisa dibilang sangat dikenal masyarakat. Bahkan kemana – mana kami harus menggunakan pengawalan bodyguard atau tidak kami harus menyamar. Aku tau itu..

 

Tapi sekarang, jadwal kami sedang kosong, baik SNSD ataupun Super Junior. Dan aku butuh refreshing, semua juga begitu. Tapi aku tidak mau sendiri, aku mau ada Siwon oppa disisiku saat ini, tapi mau apa dikata, dia itu sekarang lagi syuting film dramanya yang menyedihkan itu. Ukhh.. menyebalkan.

 

Terpaksa aku harus berkeliling dan melepas lelah seorang diri. Beberapa toko yang aku datangi tidak begitu menarik perhatianku. Aku lama – lama jadi bosan disini, ingin sekali aku pergi ke mall lain. Tapi, ini adalah Seoul Mall Center, mall terbesar di Seoul dan paling terkenal. Banyak artis disini, oleh sebab itu aku tidak menggunakan penyamaran sekarang. Tempat aman para artis untuk berbelanja tanpa harus menyamar. Dan jika di tempat lain, pasti kita sudah diserbu fans.

 

“Fany unnie..” suara seorang anak kecil menghentikan langkah kakiku. Aku berbalik. Sekarang tepat dihadapanku ada seorang anak kecil lucu yang sedang memegang fotoku dan sebuah spidol. Tanda tangan. Aku tau itu

 

“ne?”

 

“bisakah kau memberikan tanda tanganmu di posterku ini? Aku fans dengan unnie..” ucap anak kecil lucu itu. Aku tertawa kecil lalu mencubit pipi chubbynya, “baiklah adek manis..” kububuhkan tanda tanganku di foto anak kecil ini, fotoku yang lucu, ini fotoku saat pemotretan J.Estina. um..  cantik!

 

“gomawo unnie… saranghae <3” ucap anak kecil itu senang saat kukembalikan foto yang sudah ditandatangani itu kepadanya. “cheonma..” anak kecil itu segera pergi. Aku cukup senang, setidaknya aku telah menghibur anak lucu seperti dia, yaaa,, walau sebenarnya aku kurang suka dengan children. You know that..

 

Beberapa lama kemudian setelah aku berjalan, aku menemukan sebuah toko yang sangat unik dan kupastikan aku suka dengan toko ini, bagaimana tidak, nama tokonya saja THINK PINK *wkwwkwk.. bagi yang pernah nonton film Disney Sharpay faboulus adventure, pasti tau kan…*

 

Kumasuki toko ini, sesuai dengan namanya, semua barang disini berwarna pink. Warna kesukaanku. Yes,, you know that, I love pink. “Tiffany?”

 

“sungmin oppa?” aku terkejut saat melihat sungmin oppa di depanku. Waw.. sedang apa dia di toko yang serba warna pink ini?

 

“annyeong Tiffany.. sedang apa kamu disini?”

“annyeong Sungmin oppa.. oppa masa gak tau? Aku sedang shopping oppa” ucapku seraya memperlihatkan barang – barang lucu yang ada di keranjang kecil yang telah disediakan.

“ow… aku juga. Hehehe… “ aku kembali terkejut saat melihat banyaknya barang berwarna pink dalam keranjang yang lebih besar dari milikku. “ini semua punya oppa?” ucapku

“ne.. ya.. masa kamu tak tau, hampir semua orang tau kesukaanku, pink!” katanya sambil memamerkan senyum manisnya. Manis memang, tapi kan masih lebih manis senyum Siwon oppa >.<

“bagaimana kalau kita berburu barang pink?” lanjut Sungmin oppa. Hmm… penawaran menarik. Setidaknya barang pink milikku akan melipat ganda jumlahnya. Yes…

“boleh boleh boleh..” girangku sambil meniru gaya bicara upin dan ipin *Author: emang di Seoul udah ada upin ipin yaa? Aneehhh… | Tiffany: gak ada… Cuma pernah nonton di youtube. Hahahaha| author: parahh… #jatuh lalu pingsan*

 

Beberapa lama kemudian, keranjang kami sudah benar – benar tidak dapat memuat barang – barang lucu ini. Sebenarnya kami masih ingin berbelanja, tapi melihat waktu yang sudah sangat malam, lebih baik kami sudahkan dulu. Sungmin oppa mengantarku sampai di depan dorm, “gomawo Sungmin oppa sudah mengantarku. Oppa baik sekali..” ucapku saat sudah dekat dengan dorm snsd

 

“ne.. lagipula kan aku hanya kebetulan bertemu denganmu yang juga berbelanja. Kesukaan kita sama, jadi gak papa” kata Sungmin oppa. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Aku mengetuk pintu dorm

 

“yeobseo?” Sunny membuka pintu dan melihati kami berdua. “sungmin oppa?tiffany?” tatapan sunny seakan berkata kenapa-kalian-bisa-bersama-berdua?

 

“hmmm… Sunkyu..”

 

“Sunny, oppa!”

 

“oh ne.. sunny bunny, aku dan tiffany tadi hanya kebetulah bertemu di toko. Kau taukan aku ini suka dengan warna pink, kebetulan Fany juga suka warna pink. Dan kami akhirnya bersama…”

 

“mencari barang berwarna pink? Berdua? Waww…” ucap Sunny sinis dan seperti tidak suka atau mungkin cemburu. Aku jadi tak enak hati seperti ini, “Sunny-ah, aku dan Sungmin oppa itu…” aku mencoba berbicara tapi dipotong oleh Sunny

 

“sudahlah.. masuk kau, sudah malam..” ucap Sunny lalu meninggalkan kami berdua di depan pintu.

Kami berdua saling berpandangan. Ada rasa bersalah terselip di hatiku. Aku takut, hubunganku dengan Sunny akan renggang, aku takut Sungmin oppa dan Sunny jadi berakhir. Aku khawatir..

 

“oppa…”

 

“tidak apa – apa.. masuklah. Aku yakin, Sunny akan mengerti” aku menangguk. Ya setidaknya ada keraguanku agak hilang. Just five percent.

 

“ne oppa.. selamat malam.”

 

“malam..” kutinggalkan Sungmin oppa. Lalu masuk, kututup pintu dorm dan pergi ke dapur. Kurasa air dingin dapat mengurangi sedikit rasa bersalah ini. Aku tidak tau, Sunny dapat sesensitif ini.

 

Kubuka kulkas lalu mengambil air dingin dan menuangkannya dalam gelas.

“kurasa hubunganmu dan Sungmin oppa sangat dekat ya. Cih, kau sudah tau kan milik siapa Sungmin oppa itu? Masih punya nyali juga” suara sunny menghentikan aktivitasku. Jantungku rasanya tertusuk oleh kata – katanya. Sangat… sangat menyinggung menurutku.

 

“Sunny!! Aku dan Sungmin oppa itu hanya kebetulan..” emosiku meluap. Aku harus meluruskan ini semua.

“dan kalian berkencan” lagi, omonganku terpotong. Sungguh keterlaluan.

“berikan aku kesempatan berbicara, Sunny!!!”

“buat apa? Tidak ada gunanya. Lagipula, sekarang aku sudah tau sifatmu. Akan kau kemanakan Siwon oppa?! Kau buang begitu saja haa!” ucapnya sinis

“Sunny!!!!” kalau saja aku tidak mengingat dia adalah partnerku, kalau saja aku tidak mengingat dia adalah member snsd dan akupun member snsd, jika aku tidak mengingat dia lebih tua beberapa bulan dariku. Mungkin saja sudah kuambil pisau dan kucamkan di tubuh mungilnya.

 

“wae?! Kenapa! Merasa terpojok? Iyaa…!!! Perebut namja orang!”

“Sunny!!!!!! Dengarkan aku!”

“kurasa tidak perlu, dan… itu sangat membuang waktuku…”

 

“ukhh… ada apa ini? Kenapa kalian ribut – ribut di dapur sihh?” Hyoyeon datang saat itu. Aku rasa dia dapat menyelamatkanku sementara ini. “tidak.. hanya saja kurasa kita harus mengeluarkan seorang member dari snsd” ucap Sunny dengan tatapan sinis. Ingin sekali aku menangis, tapi aku harus ingat, aku adalah Tiffany. Tidak ada dalam kamusku untuk menangis dan merasa terkalahkan. Itu tidak akan terjadi.

 

“mwo? Mengeluarkan seorang member? Siapa?” ucap Hyoyeon terkejut. Aku menutup mataku erat, aku pasti akan merasa sangat marah jika melihat wajahnya saat menyebutkan namaku.

 

“dia…”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINII???” teriak Sooyoung dan saat itu dapat kulihat, semua member datang mengerubungi kami. Mereka seperti sangat kaget, karena muka mereka masih seperti mengantuk.

 

“a..aku..” ucapku terbata. “aku ingin kalian mengeluarkan perempuan ini dari snsd!” seru Sunny sambil menunjukku. “maksudmu… Mushroom?” Tanya Jessica kaget. “IYA!!!”

 

PLAKK

 

“apa-apaan kau, Taeyeon?!” rintih Sunny sambil memegangi pipinya. Ta..taeyeon menampar… Sunny? A..apa?

 

BRUKK

 

“tiffany eonni…” seru Yoona saat melihat tubuhku tumbang. Mereka membopong tubuhku menuju kursi makan. “eonni sudah makan?” Tanya Seohyun. Aku menggeleng. Ya.. tadi aku sama sekali belum makan. Pulang dari shopping, baru aku berencana meminta Hyoyeon membuatkanku makanan. Tapi, masalah tadi membuatku lupa untuk makan.

 

“kau belum makan? Ya ampun.. Hyoyeon.. bisakah kau memasakkan Tiffany sesuatu?” minta Yuri. Hyoyeon menangguk.

 

“tidak perlu” kata Sunny. “Sunny! Diam kau!!!” bentak Taeyeon. Baru kali ini, kulihat Taeyeon segeram dan semarah ini.

 

“Kenapaa! Apakah kau akan diam, saat Leeteuk oppa pulang bersama orang lain dan orang itu sahabatmu!!! Diamkah kau! Haaa…!!!” Taeyeon terdiam lalu memandangiku sesaat. “ja..jadi masalahnya itu?” kata Taeyeon seperti menahan tangis.

 

“ya.. itulah masalahnya!”

 

“Sunny,, kau sepertinya yang salah. Kau berlebihan” ujar Sooyoung dengan wajah sinis.

“ne Sunny.. pikirkanlah dengan baik – baik. Kau dikuasai emosi. Mungkin Sungmin oppa dan Tiffany kebetulan bertemu..” jelas Jessica

“kebetulan? Kebetulan? Cihh… kudengar kata itu berkali – kali sedari tadi. Bosann..”

 

Hyoyeon menaruh mangkuk ramen di meja, lalu berbisik, “sabarlah.. palingan besok dia tidak akan marah lagi” aku tersenyum, “gomawo”

“unniee.. makanlah. Ayo makan..” Seohyun menyuap ramen itu ke mulutku. “gomawo Seohyunnie..”

“cheonma… ^^”

 

“sunny~sadarlah.. Tiffany dan Sungmin oppa tidak ada hubungan apa pun. Aku janji Sunny, bila Tiffany dan Sungmin oppa lebih dekat lagi. Dan hubungan mereka sudah lebih lagi, aku akan keluarkan Tiffany dari snsd” ucapan Taeyeon membuatku tersentak. Kukira selama ini dia respek denganku, dia sayang padaku. Tapi, kenapa sekarang dia mengambil keputusan yang lebih membuat ruang gerakku sempit. Shit!

 

“Taeyeon! Keputusan apa itu! Itu seperti kau lebih berpihak pada Sunny!” bentak Jessica sambil memukul meja.

 

“tidak.. aku tidak ada dipihak manapun. Ini keputusan terbaik..” ucap Tayeon lalu meninggalkan kami dengan wajah lesu. Kulihat wajah satu per satu member. Ada rasa takut, khawatir, dan ahh.. pokoknya mereka seperti sangat shock. Hanya seorang member yang berbeda, Sunny, dia malah tersenyum sinis.

“kurasa itu memang keputusan terbaik untuk semua.. bukankah begitu, Fany?” ucap Sunny lalu melihat ke arahku. Sorot matanya menandakan dia masih punya rasa benci padaku. “mm,,n..ne” ucapku terbata lagi. Sunny pun meninggalkan kami semua, lalu masuk ke kamar

 

“oh ya.. sebelum itu, aku mau minta maaf.. semoga kau tidak mengulanginya lagi” ucapan Sunny membuat senyuman di bibirku juga di member lain. “ne.,. ne… gomawo Sunny!!!” aku langsung memeluknya dari belakang.

 

“ukhhh!!! Sesakk.. sesak napaas..” aku langsung melepas pelukanku. “hehehe.. gomawo gomawo..”

 

“ne!”  ucapnya. Tapi sekarang aku dapat melihat bahwa dia tersenyum. Setidaknya, dia telah memaafkanku.  Hufft. .. aku jadi sedikit lega

 

_OOO_

Keesokan harinya, aku bangun dengan sedikit rasa takut. Aku takut Sunny sebenarnya masih marah padaku. Tapi,, aku harus coba kuat

 

“morning fany..” Sunny membuatku tersentak. Dia kini tersenyum ramah padaku,sangat berbeda dari kemarin.  “aa..aku?”

 

“emang di snsd yang bernama fany selain kau siapa?” ucapnya sambil memutar mata kesal. Aku tersenyum, “hehehhe.. morning too. Did you sleep well?” kataku

“well…”

“annyeng unnie…” sapa Seohyun pada kami berdua. “annyeong..”  jawab kami bersamaan.

“sunny unnie dan tiffany unnie sudah..”

“sudah kok. Kemarin itu aku terlalu emosi saja. Jangan khawatir” ucap Sunny ramah.

“hufft,, syukurlah. Oh ya, unnie bisa mengantarkanku ke toko? Aku ingin membeli keroro~” minta Seohyun

 

“gak mau ah Seobaby. Aku capek. Lagipula keroromu itu sudah sangat banyak. Tidak usah beli lagilah” ujar Sunny. Mm.. mungkin aku harus membantu Seohyun hari ini. Ya walau aku sesungguhnya benci keroro.

“Sunny unnie…! Keroroku masih sedikit..” kesal Seohyun lalu memasang puppy eyesnya padaku. Ah aku tidak kuat jika dia memasang puppy eyesnya. Sungguh lucu. “Seohyun.. aku saja yang mengantarmu. Ayoo…” ujarku. Mata Seohyun langsung berbinar – binar mendengar perkataanku.

 

“eonni… kajja!” dia segera menarik tanganku setelah aku mengambil jaket.

“aww.. pelan – pelan Seohyun”

 

~OoO~

“OMO! Masa kamu mau membeli boneka sebesar ini?!” ujarku melihat Seohyun tengah membayar boneka keroro yang besarnya hampir setinggi dadaku. Besar sekali…

 

“ne eonni. Aku dari dulu ingin sekali membeli keroro sebesar ini. Pesonanya sangat membuat hatiku.. bla bla bla..” jelasnya panjaaaang sekali. Telingaku saja sampai hampir puyeng dengar penjelasannya yang panjang.

 

“ne ne ne… aku mengerti. Sekarang siapa yang” belum sempat kuselesaikan perkataanku, hp seohyun berdering. “yeobseo oppa?”dapat kupastikan dia menerima telepon dari Kyuhyun, namja favoritnya di SuJu. Emang belum jadian sih, tapi masih batas PDKT. Kulihat itu dari raut mukanya, senang sekali.

 

“ahh.. ne oppa. Ne.. gomawo oppa. Daa”

 

“EONNI!!!!” dia berteriak pas di telingaku. Oh,, tambah puyenglah sudah. “WAEYO?” balasku berteriak juga.

“eonni.. telingaku sakitt..”

 

“aku juga lebih sakit dari padamu”

 

“mianhae eonni.. eonni,,, kyuhyun oppa!”

 

“wae dengan Kyuhyun oppamu?”

 

“hmm.. dia mengajakku jalan-jalan berdua” kulihat wajahnya mulai bersemu merah. “ahh.. baiklah. Pergilah”

 

“tapi eonni..” ucapnya, tapi belum selesai sudah kupotong. “sudahlah.. gwenchana. Let’s go with Kyuhyun oppa” . terlalu berlebihan sekali dia mengkhawatirkanku. Aku bukan seorang little girl yang perlu dikhawatirkan. Umurku sudah lebih dari 20 tahun, dan aku sudah besar.

 

Seakan mengerti akan apa yang aku pikirkan, Seohyun mengerutkan keningnya, “maksud eonni apa?.. aku memang akan berkencan dengan Kyuhyun oppa. Tapi yang kukhawatirkan sekarang adalah keroro. Kyuhyun oppa pasti takkan suka jika aku membawa keroro. Soalnya Kyuhyun oppa belum tau gimana lucunya keroro. Jadi…”

 

“kau memintaku membawa keroromu ini?! Andwee!!!” jeritku sambil menutup mataku dengan kedua tanganku. Aku sangat malu dan tidak rela membawa boneka keroro yang besar begini. Kalau sebesar handphoneku sih boleh, tapi ini sangat besar,, sepinggang!

 

“eonni.. ayolahh” pintanya dengan puppy eyes. Arghh!!! Dasar! Dia tau kalau aku tidak mempan pada puppy eyesnya,.. bagaimana ini,, “eonni… kumohon bantu aku”

 

Aku bersikukuh untuk tidak membawa keroro besar ini, enak saja. Tiffany yang jadi trendsetter dunia harus membawa keroro? Oh my god! Aku tidak mau itu terjadi. “eonni.. kyuhyun oppa pasti akan marah”

 

“kalau gitu bilang dia, kau tidak akan ikut jika keroro itu dilarang ikut juga. Susah amat sih?!” jelasku. Mukanya jadi agak aneh, “eonni.. eonni tau kan perasaanku pada Kyuhyun oppa?” tanyanya. Ya aku memang tau Seohyun itu sangat menyukai Kyuhyun, apalagi saat dia diajak berduet dengan Kyuhyun saat konser smtown. Senangnya minta ampun! “ne.. I know” kataku sambil menyilang kedua tanganku. “ dan.. jika aku buat Kyuhyun oppa mar..”

“ne.. baiklah, aku akan membawa keroromu ini. Tapi, kau berhutang budi padaku jika kalian jadian ya..” kataku menyerah. Aku mengambil boneka keroro itu dari dekapannya lalu memeluk boneka hijau ini.

 

“ah.. gomawo unnie. Gomawoyo” Seohyun mencium pipiku kilat. “gomawo unnie” ucapnya.

“Joo Hyun!” suara Kyuhyun membuat Seohyun berpaling. Seberkah senyuman terpampang jelas di wajahnya. “Kyuhyun..oppa” gumamnya senangnya. Matanya tidak berhenti memandang Kyuhyun yang sedang berjalan mendekati kami berdua. “Seohyun.. Seohyun…” aku mengibas – ngibaskan tanganku di depan wajahnya, tetap saja tidak dihiraukan. “ugh.. dasar orang yang lagi kasmaran!” kesalku.

 

“JooHyun, ayo..” Kyuhyun menarik tangan Seohyun lembut. Matanya Seohyun tetap saja tidak berhenti memandangi Kyuhyun yang mungkin dimatanya seperti seorang pangeran berkuda putih tampan. Ya kuakui Kyuhyun itu tampan, tapi.. tetap saja yang tertampan itu Siwon oppa! Tapi,, beberapa hari ini juga aku lagi kesal pada oppa, dia tidak pernah mengangkat telponku lagi. Terlalu sibukkah dia sehingga telponku saja tidak diangkat? Kurasa bisa masuk akal. Tapi setidaknya 5 menit saja kan aku mendengar suaranya, masakan aku harus mendengar suaranya lewat video atau mp3.

 

Kini aku melangkah menuju salah satu café disekitar sini. Cukup untuk melepas lelah saja karena terlalu lama berdiri. “permisi… anda mau pesan apa?” ujar pelayan sambil menyodorkan menu saat aku duduk.

Kuamati beberapa saat menu – menu di daftar ini, hampir semuanya lezat. Karena kebetulan aku lagi lapar dan haus, kuputuskan untuk membeli hamburger, French fries, dan cola yang kebetulan sepaket.

 

“menu paket nomor 5 saja” kataku lalu menunjuk menu itu. “ohh.. baiklah. Dimohon untuk tunggu sebentar” ucap pelayan itu lalu mengambil menu yang ada di depanku, setelah itu pergi. Kupalingkan mukaku menuju jalan raya,untung saja aku mengambil tempat yang dekat dengan pemandangan jalan, jadi aku bebas memandangi hiruk pikuknya kota Seoul. Kyaa!!! Gelap!!! Kenapa pandanganku jadi gelap begini? Kurasakan ada tangan yang menutup mataku. “omo,.. nuguya? Lepaskan aku..” jeritku sambil memukul-mukul tangan tersebut. Ahh.. bodohnya aku tidak memakai kacamata saja

 

“tebak aku siapa” ujar suara itu. Dapat kupastikan itu namja, kyaa!! Namja siapa ini. Suaranya seperti tidak asing bagiku, tapi sulit untuk kutebak siapa dia. Mungkinkah dia itu..

 

“sungmin oppa?!” kataku sehingga dia melepaskan tangannya dari mataku lalu duduk di depanku yang kosong. “betul sekali. Hebat kau dapat menebakku..” kata Sungmin oppa lalu tersenyum. Aku juga tersenyum tapi aku tidak mau kali ini terlalu akrab dengannya. Masih trauma karena kejadian kemarin malam.

 

“uhmm.. lapar nih aku”

 

“kalau oppa lapar, lebih baik oppa pesan makanan saja” ujarku

 

“ohh..benar juga. Baiklah…panggil pelayan sana gih” kata Sungmin oppa.

 

“ahh oppa.. yang benar saja. Oppa yang pesan,oppa yang panggil. Masa aku?!” cibirku lalu mengerucutkan bibirku sehingga dia tertawa. “hahaha.. ne ne.. pelayan!”

 

“ne.. anda mau pesan apa?” kata pelayan itu ketika sudah tepat berada di depan meja kami berdua.

 

“yeoja ini tadi pesan apa?” ucap Sungmin oppa seraya menunjuk padaku, sehingga aku melotot padanya. Dia hanya terkekeh pelan lalu memamerkan tangannya yang berbentuk V, “peace bunny”. Haa! Bunny?! Itukan…

Pelayan itu mengecek daftar pesanan yang dia pegang, “paket nomor lima” kata pelayan itu kemudian.

“baiklah. Aku pesan yang sama” pelayan itu segera pergi setelah mencatat pesanan Sungmin oppa.

 

“maksud oppa bunny apa?” kataku sambil cemberut

 

“aigoo~ jangan cemberut seperti itu. Aku sengaja. Kalau kupanggil kau Fanny, apakah pelayan itu tidak akan mengenalmu?” katanya. Betul juga ya katanya, emang sih nama Fany itu banyak, hanya untuk jaga – jaga saja, walau penyamaranku ini tidak akan terkenali.

 

“oh.. baiklah. Tidak apa – apa”

 

“bunny…”

 

“ne oppa?”

“bagaimana kemarin? Apakah matahari marah padamu?” katanya.

 

“matahari? Siapa lagi itu?” kataku bingung. Siapa lagi yang dikatakannya. Apa maksudnya Sunny?

 

“Sunny, pabo” kata oppa sambil mencubit pipi kiriku. Aku hanya meringis kesakitan. “oppa!”

 

“soalnya sih kamu. Sudah aku kasih tau nama matahari, masih aja bingung. Pakai logikamu donk..”

 

“nee.. aku tau aku pabo” kesalku sambil mengembungkan kedua pipiku. “sudahlah.. sekarang kembali ke pertanyaan tadi, apa dia marah padamu kemarin?”

Apa yang harus kukatakan. Aku takut, kalau aku bilang iya, Sungmin oppa bakalan marah pada Sunny, secara hubunganku dengan Sunny baru baikan. Aduh.. apa aku jawab tidak saja ya? Hmmm~ baiklah. Kurasa itu yang terbaik.

 

“anio.. dia tidak marah kok. Jangan khawatir” ucapku sambil mencoba tersenyum. Dia juga tersenyum, “syukurlah.. kupikir dia bakal mencelakaimu. Karena jika dia emosi, biasanya dia akan kelewatan batas” ucap Sungmin oppa sambil mengelus rambut panjangku. Aku hanya tersenyum melihat perlakuannya. Dia terus saja mengelus rambutku , tapi tak lama kemudian pesanan kami berdua datang.

 

“ini pesanannya.. maaf menunggu lama” ucap pelayan itu seraya memberikan makanan yang sudah kami pesan itu. “hmm…Hamburgernya pasti lezat” kata Sungmin oppa menatap makanannya seperti orang yang sudah kelaparan. “hahaha.. oppa” tawaku.

 

End Tiffany POV

 

Jauh dari keramaian dan hangatnya hubungan Tiffany dan Sungmin, sesosok yeoja mungil tengah mengamati mereka dengan tatapan kesal. Sorot matanya melihat mereka seperti ingin merampas kehangatan dan tawa yang tercipta, bibirnya sedari tadi hanya melipat – lipat khawatir.

 

“sudah kubilang.. dia ingin merebut Sungmin oppa dariku. Dasar yeoja murahan!” ucap yeoja mungil itu sinis. Kemudian dia mengeluarkan handphonenya dari tas. Bukan untuk menghubungi atau mengetik sms untuk dikirimkan ke seseorang, melainkan diarahkannya kamera yang ada di handphone tersebut ke arah Tiffany dan Sungmin yang sedang tertawa ria. Sunggingan senyum licik terpampang jelas di wajahnya yang hampir tertutup semuanya, kacamata hitam dan jaket hitam berlengan panjang membuat identitasnya sebagai seorang superstar tidak diketahui.

 

Sorot matanya terus mengikuti aktivitas dua manusia itu, tawa dan canda yang tercipta seakan ingin ditelannya. “sempat – sempatnya mereka bercanda ria,sedangkan harga diri mereka akan hancur. Cihh.. dasar. Kalian yang memulai semua ini bukan..”

 

Sesaat kemudian, Tiffany dan Sungmin beranjak dari kursi yang ditempati. Mereka melangkah keluar, membuat yeoja ini kelabakan mengatur barang – barangnya yang ada di meja. Kamera handphonenya tidak putus-putusnya dia arahkan ke arah Tiffany dan Sungmin yang masih berjalan bersama.

Saat Tiffany dan Sungmin memasuki sebuah toko, dia mulai putus asa, bagaimana cara merekam dua manusia itu dalam toko yang cukup sempit ini? Bukankah mereka akan curiga dan identitasnya akan terbongkar? Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam kepalanya, dia masuk ke dalam toko tersebut menuju tempat terdekat mungkin dengan mereka, handphonenya dimasukkan dalam kantung celana sedangkan kamera itu dikeluarkan sedikit hingga tetap masih bisa merekam. Jaketnya disibakkan sedikit agar tidak menganggu gadget itu untuk merekam. Dalam hatinya, sudah tersusun rencana untuk menghancurkan Tiffany dan Sungmin, dua orang yang kini dibencinya dengan sangat dalam. Kebencian dan cemburu membuatnya menjadi yeoja yang ingin melakukan apa saja untuk menghancurkan.

 

“kalian belum tau siapa aku? Jangan meremehkan aku bodoh. Cihh..” gumam yeoja itu.

 

~OoO~

Malam harinya, dia merasa puas melihat hasil rekaman yang didapat. Dia terus memutar video itu sehingga membuat sedikit bingung yeoja yang sedang berbaring di sampingnya.

 

“Sunny-ah.. apa yang kau lihat?” Tanya yeoja itu.

 

“ah,, anio Sooyoung. Aku hanya lagi melihat video lucu” jelas yeoja yang ternyata bernama Sunny itu. “video lucu? Boleh aku lihat?” katanya semangat

 

“tidak boleh! Ini dari… dari Sungmin oppa untukku. Dan hanya untukku. Jadi aku tidak boleh memperlihatkan ke orang lain selain diriku sendiri” elak Sunny sambil menyembunyikan handphone yang sedang memutar video tersebut dibalik tubuhnya.

 

“hu.. pelit!” kata Sooyoung. “sudahlah. Lebih baik kau keluar dan makan. Sepertinya Hyoyeon sudah selesai masak makan malam” kata Sunny sehingga membuat Sooyoung kembali bersemangat lalu melangkah keluar dengan girang karena akan makan, kegiatan favoritnya selama ini.

 

Setelah dirasanya aman, Sunny mengeluarkan kembali handphonenya lalu memutar video itu ulang. Bibirnya merekah membentuk sebuah senyuman licik melihat video itu, “kalian pikir hanya kalian yang dapat mempermainkanku? Tidak. Kali ini, aku yang mengambil alih permainan, bodoh..”

 

~OoO~

Keesokan paginya, di dorm super junior. Seperti biasa, keadaan dorm pasti akan sangat ramai walau tak ada jadwal sama sekali.

 

“Wookie!!! Dimana bajuku?!” teriak sang leader, Leeteuk. Leeteuk berlari ke sana kemari mencari bajunya. “aissh.. ini. Hyung sendiri yang menaruh di keranjang kok..” ujar Ryewook dengan wajah kesal. Bagaimana tidak, dia itu sedang memasak masakan yang baru dia dapatkan dari dunia maya. “dimana sih…” bingung Leeteuk sambil mengaduk – aduk isi keranjang, hingga baju – baju itu berantakan.

 

“ahhh… hyung! Kenapa bajuku kau lempar? Ini baju pemberian Tiffany!” ujar seorang namja tampan dan tegap memungut salah satu baju yang dilempar.

 

“haissh… dasar! Aku juga lagi mencari baju pemberian Taeyeonku..” hampir saja adu mulut terjadi di antara mereka, jika Heechul menengahi mereka. “Teuki.. bajumu itu ada di lemari bagian bawah, pabo!” ujar Heechul kesal. Mendengar itu, Leeteuk langsung senyum-senyum tidak jelas karena telah marah seenaknya bahkan membongkar baju para member. “hehhee… mianhae Siwon-ah” pinta Leeteuk pada namja yang bernama Siwon itu. Siwon hanya mengangguk namun rasa kesal masih ada dalam dirinya.

 

TING TONG

 

Bunyi bel tanda ada tamu berbunyi. Segera, Ryewook, member yang sering membuka pintu. Tapi tidak ditemuinya ada orang disana, hanya sebuah paket yang dibungkus kertas berwarna cokelat. “untuk  Choi Siwon” gumamnya membaca tulisan di paket itu. Rasa penasaran hampir pada dirinya, dia ingin membuka paket itu seperti kebiasaan member lainnya, tapi akal sehatnya bertarung mengalahkan rasa penasaran itu, dia yakin, dia tidak boleh membuka paket ini.

 

“WOOKIE~ SIAPA SIH?” seru EunHyuk dari arah ruang makan dorm. Dia agak gusar karena lamanya Ryewook membuka pintu hingga dia jadi terlambat makan, padahal perutnya sudah minta diisi. Mendengar suara EunHyuk, Ryewook segera berjalan membawa paket itu ke dalam mencari Siwon.

 

“untuk choi siwon..” ucap Ryewook saat sudah bertemu dengan Siwon yang ada di ruang tv bersama Kyuhyun, Sungmin, Shindong, dan Leeteuk.

 

“untukku? Dari siapa?” yang ditanya malah menggeleng tanda tidak tau. Siwon menatap paket itu aneh, tidak ada nama pengirim, tapi ada nama penerima yaitu untuk dirinya, siapa pengirim itu? Apakah ini berasal dari fans atau orang yang ingin memberi kejutan, padahal seingatnya hari ini bukan ulang tahunnya.

 

“dari fans mungkin..” ucap Kyuhyun sambil tetap focus pada game yang sedang dimainkan di psp.

 

“isinya apa?” tanya Leeteuk

 

“ani.. belum kubuka. Tapi kira-kira apa? Paket ini ringan” ujar Siwon sambil menaik turunkan paket itu seakan sebuah barbel.

 

“mungkinkah itu bom” celeteuk Shindong. Berawal ingin menjadi canda, malah mengerikan, para member semua menatapnya dengan tatapan tajam, sehingga dia terdiam kembali dan tetap mengamati Siwon yang tengah bingung.

 

“mana mungkin ada bom ringan, bodoh” kesal Leeteuk seraya mendorong Shindong pelan. Shindong hanya dapat mengangguk pelan dan tersenyum.

 

Perlahan, Siwon membuka paket itu. Menyobek kertas coklat yang membungkus paket,dan wajahnya yang semula penasaran berubah menjadi sebuah keterkejutan.

 

“apa ini? Foto?”

 

TBC

 

Hehehe… bagus gk readers?

Buat yang lain author masih dalam proses kok pembuatan.

N, author ingetin RCL nya yaa,… okk

Gomawoyo…

 

Bertanda , , , , ,

Love Pop! [ 3 of 3 - END ]

Annyeong haseyo readersku ^^

Saya kembali dengan part END-nya Love Pop! nih ><”

Mianhae karena FF ini di publish lama banget .. itu karena pulsa modem author abis -_- #PLAK

Mian juga kalo readers udah pada lupa alur ceritanya :(

Nah, lebih baik langsung aja baca yuk :)

 

Part Sebelumnya : Part 1 | Part 2

 

Title : Love Pop!

 

Author : Flaviaa 

 

Length : Three Shoot

 

Genre : Romance, Comedy, Family [?]

 

Cast : Cari sendiri ! *dasarauthorgakbergunaa* Yang penting ada SeoKyu ama YoonHae -_-

 

                    

WARNING  !!

 

DON’T LIKE THIS COUPLE —>  DON’T READ !!

 

AND

 

DON’T BASHING + DON’T SHARE THIS FF !!

 

 

Leave a comment please ^^

 

 

♥  Happy Reading 

Yoona POV

 

Sepulang kampus ..

 

Bukannya dar itadi dia ada di kelas?

Aku melirik ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan namja yang bernama Lee Donghae itu.

Ah, lebih baik aku merapikan buku-buku ini dulu. Aku pun mengangkat buku-buku yang tergeletak di atas meja, dan memasukkannya ke dalam tas.

 

“Kau mencariku?”

 

Suara ini … aku kenal suara in …. Donghae!

 

“Ya! Darimana saja kau? Bukankah kau sudah berjanji mengajakku jalan-jalan?” ucapku.

 

“Ne, mianhae. Tadi aku barusan dari toilet .. lebih baik kita sekarang pergi .. ” jawabnya sambil menarik tanganku.

 

DEG

 

Kenapa perasaan ini muncul saat ia menarik tanganku?

Perasaan apa ini? Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

 

Aku hanya mengangguk kepadanya sambil membetulkan letak tas di pundakku.

 

-o0o-

“Kau siap?” tanyanya di atas mobil.

 

“Ne. Sudah, cepatlah! Kau kira aku anak kecil?” jawabku.

 

“Kau baru tahu? Memang kau seorang anak kecil.” ucapnya dengan nada mengejek.

 

“Ya! Apa yang kau katakan Lee Donghae?” ucapku kesal.

 

“Aku bilang kau seorang ‘anak kecil’.” jawabnya sambil mencubit kedua pipiku.

 

DEG

 

Perasaan ini lagi, sebenarnya apa maksudnya ini?

 

“Lepaskan!” ucapku kesal sambil melepaskan cubitan dari tangannya.

 

“Heheh .. peacee!” jawabnya sambil memamerkan barisan gigi-giginya padaku.

 

“Ne, ne ..” ucapku menyerah.

 

Aku langsung terdiam sambil mendengar alunan musik dari dalam mobil.

Sepertinya aku mulai hanyut dalam suasana ini.

“Hei, kenapa kau diam? Sebentar lagi kita akan sampai ..” ucapnya sambil melirik ke arahku.

 

“Aniyo, lanjutkan saja.” jawabku santai.

 

Tiba-tiba, terlintas wajah Seohyun di pikiranku.

Oh, tidak!!! Aku baru ingat!! Aku lupa memberitahu Seohyun kalau aku akan pergi dengan seorang teman.

Bagaimana ini?!

Mobilku masih berada di parkiran sekolah. Berarti …. Seohyun akan pulang dengan siapa??

Pabonya aku!

Lebih baik, aku harus mengirim pesan ke Seohyun.

 

Aku langsung mengambil ponsel di dalam tasku dan melihat ke arah layar ponsel.

Mati? ANIYO!! Aku benci hal ini!

 

“Lee Donghae, cepat kesinikan ponselmu! Aku ingin meminjamnya sebentar saja ..” ucapku sambil menyodorkan tangan terbuka kepadanya.

 

“Ada apa? Kenapa kau ingin meminjam ponselku?” tanyanya.

 

“Sudah, cepatlah! Ini sangat penting!” jawabku.

 

“Ne, ne .. ini.” ucapnya sambil meletakkan ponselnya di atas tanganku.

 

Aku langsung memencet nomor ponsel Seohyun pada ponsel Donghae.

 

CKLIK!

 

Mwo? Ponsel ini kenapa lagi? Mati? Apa mungkin …. kehabisan baterai?

 

END Yoona POV

 

-o0o-

Seohyun POV

 

Aku sekarang sedang berdiri di depan kelas Yoona unnie. Hm. Sepertinya kosong …

Apa unnie sudah keluar ya? Aku melanjutkan langkahku sampai ke taman belakang kampus.

Sepi juga. Ah, aku tidak mau berlama-lama disini. Aku langsung berjalan keluar dari gedung kampus dan mencari keberadaan Yoona unnie.

 

Sebenarnya di mana unnie? Sulli juga sudah pulang.

Hmm .. aku kirim pesan ke unnie saja!

 

To : Yoona Unnie

 

Unnie, kau dimana?

 

Ya, sudah terkirim. Aku tinggal menunggu saja.

 

6 MENIT

 

7 MENIT

 

8 MENIT

 

9 MENIT

 

10 MENIT

 

Ah, lama sekali unnie tidak membalas pesanku. Apa mungkin ponsel unnie mati?

Ya, Seohyun pabo! Kenapa aku harus lupa membawa tasku saat aku mencari unnie. Lebih baik, aku harus cepat ke kelas untuk mengambil tasku.

 

END Seohyun POV

 

-o0o-

Kyuhyun POV

 

Argh! sekarang Donghae hyung dimana? Aku ingin pulang dan langsung bermain psku. Mana lagi hyung yang membawa mobilku lagi (-_-)* lengkaplah penderitaanku.

Hyung .. hari ini kau membuatku tambah kesal saja.

Kampus sudah sepi lagi. Aku pulang naik apa nanti?

 

Tunggu dulu! Hei, dimana jam tanganku? Uh, aku lupa menaruhnya di laci mejaku.

Lebih baik aku pergi ke kelas untuk mengambilnya.

 

END Kyuhyun POV

 

-o0o-

Author POV

 

Di saat yang sama, Kyuhyun dan Seohyun berjalan ke kelas bersama melewati jalan yang berbeda.

 

“KAU?” ucap mereka bersamaan sambil menunjuk ke arah mereka masing-masing.

 

“Kenapa kau bisa disini?” tanya Seohyun.

 

“Ya, seharusnya aku yang bertanya padamu .. kenapa kau juga berada disini?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku ingin mengambil tasku, lalu .. kenapa kau disini?” ucap Seohyun.

 

“Aku ingin mengambil jam tanganku yang ketinggalan di laci mejaku .. Kenapa kau juga belum pulang?” ucap Kyuhyun.

 

“Aku tidak tahu unnieku dimana, kau kenapa juga belum pulang?” balas Seohyun.

 

“Hyungku juga tidak tahu kemana, hyungku yang membawa mobilku ..” jawab Kyuhyun sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.

 

“Oh. Aku ingin mengambil tasku dulu.” ucap Seohyun sambil melangkah masuk ke kelas.

 

“Ne, aku juga ingin mengambil jam tanganku.” jawab Kyuhyun yang juga masuk ke dalam kelas.

 

BUKK

 

”Argh .. sakit!” ringis Kyuhyun karena terbentur pintu.

 

“Kyuhyun-sshi, kau tidak apa-apa?” ucap Seohyun sambil membantu Kyuhyun berdiri.

 

“Aku baik-baik saja,  eh .. bisakah kau mengantarku ke UKS sebentar saja?” tanya Kyuhyun.

 

“Baiklah … tapi kau yang memberitahu dimana letaknya .” jawab Seohyun datar.

 

“Ne, tenang saja!” ucap Kyuhyun.

 

Sesampainya di UKS ..

 

“Kenapa cuman ada kita berdua disini?” tanya Seohyun.

 

“Itu karena sudah sore …” jawab Kyuhyun santai.

 

“Mwo? Apa yang kau bilang? Sudah sore?” sontak Seohyun kaget.

 

“Aku ingin pulang sekarang …” ucap Seohyun lagi sambil melangkah keluar.

 

“Kalau begitu, aku juga ingin pulang ..” ucap Kyuhyun yang lagi-lagi ikut-ikutan.

 

“MWO? Pagar kampus sudah dikunci?!” sontak Seohyun lagi ketika melihat pagar kampus yang tinggi itu sudah terkunci dengan rapi.

 

“Apa yang kau katakan?” ucap Kyuhyun sambil menggaruk kepalanya yang gatal.

 

“Aniyo! Aku pusing bicara denganmu ..” jawab Seohyun kesal.

 

“Apa yang kau katakan lagi?” ucap Kyuhyun sambil menggaruk kepalanya lagi.

 

“ANIYO!!” seru Seohyun kesal kedua kalinya.

 

“Eh, kenapa pagar kampus terkunci?” ucap Kyuhyun kebingungan.

 

“Aku sudah tahu .. pabo ..” jawab Seohyun yang masih mempancarkan emosinya.

 

“Lebih baik kita masuk ke dalam sekolah .. di sini dingin .. Kajja!” ucap Kyuhyun.

 

“Ne, baiklah.” ucap Seohyun.

 

*kita break dulu ya readers*

 

END Author POV

 

-o0o-

Yoona POV

 

Bagaimana ini?

Apa Seohyun masih di sekolah ya? Mungkin saja …

Ya sudahlah .. yang penting setelah pulang aku akan menjelaskan semua padanya, semoga saja dia memaafkanku.

 

“Ya, kita sudah sampai .. Ayo cepat turun!” ucap Donghae padaku.

 

“Ne, tunggulah sebentar ..” jawabku sambil memasang tas di pundakku dan keluar dari dalam mobil.

 

“Tempat apa ini?” ucapku.

 

“Masa kau tidak tahu? Ini Sungai Han ..” jawab Donghae.

 

Aku hanya membulatkan mulutku menjadi bentuk O.

 

“Untuk apa kita kesini? Bukankah kau berjanji mengajakku jalan-jalan?” tanyaku bingung.

 

“Huh. Pabo. Kita akan berjalan dari sini ..” jawab Donghae santai.

 

“Ma-maksud-mu ..” ucapku terpotong.

 

“Ne, kita akan berjalan kaki dari sini. Itu sehat kan? Lebih baik ayo kita mulai ..” jawab Donghae sambil menarik tanganku.

 

DEG

 

Perasaan ini muncul lagi.

Kenapa saat dia menarik tanganku, mencubit pipiku, aku merasakan jantungku berpompa sangat cepat? Padahal aku baru mengenalnya tadi pagi .. aneh sekali ….

 

“Hei! Kau jangan melamun! Ayo jalan!” ucapnya yang masih menarik tanganku.

 

“Ne, ne.” jawabku sambil mengekornya dari belakang.

 

END Yoona POV

 

-o0o-

Author POV

 

Donghae dan Yoona tetap berjalan di sepanjang jalan, meninggalkan mobil Donghae yang diparkir di dekat Sungai Han .. tanpa di sadari seseorang sedang mengikuti mereka dari jauh.

 

“Aku lelah .. kau jalan saja sendiri ..” ucap Yoona sambil memegang dadanya.

 

“Kalau begitu, cepat naiklah!” ucap Donghae sambil menawarkan punggungnya.

 

“Awas kalau kau menjatuhkanku ..” jawab Yoona sambil naik ke atas punggung Donghae.

 

“Ne, kau cerewet sekali.” ucap Donghae dengan nada mengejek.

 

PLAKK

 

Yoona menjitak kepala Donghae.

 

“Ya! Apa maksudmu, Donghae-ya?!” ucap Yoona kesal.

 

“Aww, sakit .. mianhae ..” jawab Donghae sambil menahan sakit di kepalanya.

 

“Cepat jalan!” ucap Yoona.

 

“Ne, baiklah ..” jawab Donghae sambil mempererat Yoona di punggungnya dan mulai berjalan di tengah rimbunnya pohon.

 

Baru separuh perjalanan, Donghae sudah berhenti karena lelah.

 

“Yoona-ah, kau berat sekali ..” ucap Donghae.

 

“Yoona-ah apa kau dengar?” ucap Donghae lagi.

 

“Huh. Anak ini!” ucap Donghae.

 

Donghae langsung menyandarkan Yoona yang tertidur dan berjalan pergi untuk mengambil mobilnya.

 

“Kau tunggu disini! Aku mengambil mobil dulu ..” ucap Donghae walau ia tahu kalau Yoona sedang tertidur.

 

Setelah Donghae pergi, sebuah mobil terparkir di seberang jalan pada tempat Yoona yang sedang terlelap.

 

TIT

 

Suara mobil ketika dikunci terdengar jelas di telinga Yoona meskipun mobil itu berseberangan dari tempatnya bersandar,  Yoona langsung terbangun dari tidurnya.

 

“Ya, dimana dia? Kenapa dia meninggalkanku disini?” ucap Yoona kesal.

 

“Hei, kau!”

 

Dengan otomatis, Yoona pun berbalik ke arah suara. Dilihatnya seorang yeoja, siapa yeoja itu? Yoona tidak tahu, tapi ia berusaha berpikir mengingat .. yeoja itu terasa familiar baginya. Ya! Dia ingat! yeoja itu yang pernah mengancamnya tadi siang. Kenapa dia bisa berada di sini?

 

“K-kau yang ta-di siang?” ucap Yoona sambil menunjuk ke arah yeoja itu.

 

“Ya, aku Park Minyoung .. kenapa kau mengabaikan peringatanku hah?!” ucap yeoja yang bernama Minyoung itu dengan nada tinggi.

 

“Maksudmu?” ucap Yoona masih bingung dengan perkataan Minyoung.

 

“Maksudku .. peringatan untuk menghindari Donghae!” ucap Minyoung lagi-lagi dengan nada tingginya.

 

“Memang apa urusanmu dengan Donghae? Aku tidak pernah melihatmu bersama Donghae, berbicara pun tidak ..” ucap Yoona mulai menantang Minyoung.

 

“Argh! Shut up! Yang penting kau tidak boleh bersamanya!” ucap Minyoung menahan emosinya.

 

“Kalau aku bilang aku menyukainya? Kau melarangku?” ucap Yoona.

 

“Apa yang kau katakan!? Cepat ulangi lagi!” ucap Minyoung yang sudah menjabak rambut Yoona yang sedang terurai *adegan ini tidak boleh ditiru -__-*

 

“Aku bilang aku menyukai Donghae!! Jadi kau mau melarangku?” teriak Yoona yang tidak sadar Donghae sudah membelakangi mereka berdua.

 

“Apa itu benar Yoona-ah?” ucap Donghae yang membuat mereka berdua tersontak kaget.

 

Tangan yang dipakai Minyoung untuk menjabak rambut Yoona otomatis terlepas dari rambut Yoona.

 

“Donghae-ya?” ucap Yoona kaget melihat kedatangan Donghae.

 

“Apakah yang kau katakan itu benar?” ucap Donghae lagi.

 

“Eh … nanti akan kujelaskan .. “ ucap Yoona

 

“Hei, aku ingin mendengarnya sekarang! Dan kau Minyoung .. jangan berani-berani mengurusiku lagi .. atau tidak akan kukeluarkan kau dari sekolah dengan alasan kau telah mengikutiku beberapa hari ini dan mengancam orang lain, kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan akhir-akhir ini? Jadi, kutekankan sekali lagi .. jangan pernah mengurusiku lagi!” ucap Donghae kasar.

 

“Mi-mianhae Donghae-ya …” ucap Minyoung sedikit ketakutan karena cara Donghae berbicara kasar.

 

“Lebih baik kau pulang ..” ucap Donghae.

 

“Annyeong, Yoona-sshi dan Donghae-ya ..” ucap Minyoung kaku sambil membungkuk rendah ke arah Yoona dan Donghae lalu menaiki mobilnya dan melaju pergi.

 

Sekarang tinggal Donghae dan Yoona yang menyendiri dengan pikiran mereka masing-masing.

 

END Author POV

 

-o0o-

Donghae POV

 

“Ayo kita pulang ..” ucapku sambil menarik tangannya.

 

“Ne.” ucapnya singkat.

 

Setelah kami berdua masuk, hanya keheningan yang kudapatkan. Aku tidak percaya Yoona menyukaiku, itu tidak mungkin .. Pasti dia hanya ingin membuat Minyoung emosi saja.

 

“Yoona-ah ..” ucapku sambil memberhentikan mobil di ujung jalan.

 

“Hmm? Kenapa kau memberhentikan mobilmu di sini?” ucapnya kebingungan.

 

“Sebenarnya … saranghae Yoona-ah .. tidak pernah aku menyukai seorang yeoja, ini pertama kalinya bagiku … jadi tolong, jawab aku .. apa yang kau katakan pada Minyoung itu hanya bohong atau kenyataannya …” ucapku sambil memegang jari jemarinya.

 

DEG

 

“Itu adalah ….. kenyataannya ..” ucapnya sambil tersenyum dan langsung memelukku.

 

DEG

 

Aku tidak percaya semua ini .. aku seakan bahagia! *lebay*

 

“Nado saranghae Donghae-ya!” bisik Yoona pada telingaku.

 

“Kau harus memanggilku oppa! Arraseo?” ucapku padanya.

 

“ANDWAE!! Aku tidak mau! Kau kan seumuran denganku! ” serunya.

 

Tiba-tiba timbul ide cermelang di otakku.

 

“Kalau kau tidak mau memanggilku oppa, aku akan menciummu!” ucapku.

 

“Baik! Coba saja kalau kau bisa!” ucapnya sambil menantangku.

 

CHU

 

Apa ini? Kenapa berbulu? Sebenarnya aku mencium apa?

Aku langsung membuka mataku dan melihat sebuah bantal yang kucium.

 

“Hahah, Donghae-ya! Sudah kubilang kau tidak akan bisa menciumku! Nyatanya kau mencium bantal … hahahh …” ujar Yoona di tengah tawanya.

 

“Dasar kau!” ucapku sambil melempar bantal yang kucium kepadanya.

 

“Ya! Berani sekali kau!” ucapnya sambil balas melempar bantalku.

 

“Lebih baik kita pulang ..” ucapku sambil memegang setir mobil.

 

“Ne. Tunggu dulu!! Aku baru ingat! Bisakah kau mengantarku ke kampus sebentar saja? Aku mau mengambil mobilku di kampus dan melihat dongsaengku di sana ..” ucap Yoona.

 

Mendengar kata dongsaeng, aku langsung mengingat Kyuhyun. Mungkin saja ia sedang kesal karena aku memakai mobilnya sekaligus tidak mengantarnya pulang. Hahah. Lebih baik aku pergi ke kampus bersama Yoona, siapa tahu dia masih di sana.

 

“Baiklah, sepertinya aku juga ingin melihat dongsaengku .. mungkin dia masih berada di kampus ..” ucapku.

 

“Gomawo, Donghae-ya!” ucap Yoona sambil menunjukkan senyumnya.

 

“Ne, chagi.” ucapku.

 

“Hei, kenapa kau memanggil chagi? Aku belum resmi menjadi pacarmu ..” ucap Yoona sambil mengerutkan dahinya.

 

“Baiklah .. apakah kau mau menjadi yeojachingu-ku Yoona-ah?” ucapku.

 

“Ne!” ujarnya dengan mantap.

 

“Berarti kita telah resmi pacaran .. kalau begitu …”

 

CHU

 

Aku mengecup bibirnya dengan lembut dan melepasnya.

 

“Kajja, kita pergi ke kampus!” ucapku.

 

END Donghae POV

 

-o0o-

 

Kyuhyun POV

 

Hahah. Aku hanya bertipu-tipu bodoh di depannya. Ternyata kalau dia sedang marah, lucu juga ya! Aku harus memanfaatkan hal ini. Sekarang di kampus tinggal kami berdua, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

 

“Ya, kau jangan cemberut seperti itu. Aku juga ingin pulang, bukan kau saja ..” ucapku.

 

“Huh. Buat apa aku berbicara denganmu?” ucapnya sambil mengerutkan dahinya.

 

“Hei, kau jangan seperti Seohyun-ah .. hanya kita berdua di sini …” ucapku.

 

“Ne, aku tahu.” ucapnya sambil membuka flip ponselnya.

 

“Ya, kau sedang apa?” ucapku sambil mendatanginya.

 

“Aku ingin mengirim pesan kepada Yoona unnie agar menjemputku ..” ucap Seohyun sambil menekan tombol-tombol keypad pada ponselnya.

 

“Oh, aku mau ke toilet dulu .. kau tidak apa kan?” ucapku.

 

“Ne.” ucapnya singkat tanpa menghilangkan pandangan dari ponselnya itu.

 

“Apakah kau tidak takut dengan gelap ?” ucapku meyakinkan.

 

“Eh .. iya .. tapi tidak apa, kau cepatlah ke toilet ..” ucapnya.

 

“Ne, aku pergi dulu.” ucapku.

 

Aku pun dengan langkah cepat keluar dari kelas meninggalkan Seohyun di dalam karena aku ingin cepat melaksanakan rencanaku .. heheh.

 

Dimana letak pintu itu? kemarin aku melihat pintu itu berada di sekitar sini ..

 

Ya! Disana!

Dengan cepat aku langsung menuju ke pintu kecil yang biasa didatangi para petugas kampus untuk mengantur nyala lampu kampus.

Aku membuka pintu itu, dan melihat banyak tombol yang tersedia di dalamnya.

Hmm .. kulihat tombol bertulisan koridor dalam hangul, aku pun langsung menekan tombol itu dan lampu koridor di tempatku mati.

 

Baiklah … aku harus menekan semua tombol ini dan Aku ingin melihat reaksinya saat aku sudah selesai.

 

Aku menekan satu persatu tombol yang berada di dalam pintu besi itu dengan menggunakan cahaya lampu ponselku.

 

Ya! Aku sudah selesai, sekarang aku harus melihat keadaan di kelas. Heheheh.

 

Perlahan-lahan kutapaki koridor sampai ke kelas.

Aku mulai mengintip dan melihat cahaya lampu ponsel Seohyun yang masih menyala di dalam ruangan kelas.

 

“Hiks …”

 

Suara apa itu? Kenapa terdengar suara samar-samar orang menangis? Mungkinkah Seohyun? Aku langsung mengarahkan mataku pada Seohyun yang masih memegang ponselnya dengan keadaan flip yang terbuka.

Suara itu memang berasal dari Seohyun, aku bisa mendengarnya jelas di telingaku.

 

Aku pun keluar dari tempat persembunyianku dan mendekatinya.

 

“Seohyun-ah, gwechanayo?” ucapku sedikit khawatir.

 

“Kyu-ah … a-aku takut de-ngan ge-lap … hiks …” ucapnya dengan isakan tangisnya.

 

Sepertinya dia ketakutan sampai setengah mati. Pabonya aku! Aku memang keterlaluan *emang kok kyuppa #PLAKK*

 

Tidak tahu kenapa, dengan reflek aku langsung memeluknya.

 

“Tenang … aku ada di sini ..” ucapku berusaha menenangkannya.

 

“Kyu-ah …. gomawo .. hiks ..” ucapnya sambil tersenyum di tengah isakan tangisnya.

 

DEG

 

Perasaan apa ini? Setiap kali aku melihat senyumnya, perasaan ini muncul ..

 

END Kyuhyun POV

 

-o0o-

Seohyun POV

 

“Kyu-ah …. gomawo .. hiks ..” ucapku sambil tersenyum padanya di tengah isakan tangisku.

 

“Ne, tenanglah …” ucapnya sambil masih memelukku.

 

Hangat. Hanya ini yang kurasakan saat ini.

Jujur .. aku telah terhanyut dalam suasana ini, aku sampai tidak bisa melepaskan diriku dari pelukannya.

 

“Kyu-ah, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” ucapku sambil melepaskan pelukannya.

 

“Hmm? Ne, boleh saja.” ucapnya sambil duduk di atas meja berhadapan denganku.

 

“Kau pernah menyukai seseorang?” ucapku yang membuatnya tersontak kaget.

 

“Kenapa kau menanyakan tentang hal itu?” ucapnya.

 

“Aniyo, cepatlah kau jawab!” ucapku.

 

“Ne, aku pernah menyukai seorang yeoja .. Yeoja itu begitu cantik …” ucap Kyuhyun sambil tersenyum-senyum sendiri.

 

Tidak tahu kenapa aku merasa sangat cemburu ketika Kyuhyun mengatakan tentang yeoja itu.

 

“Hei, kau melupakanku di sini .. jadi, kau masih menyukainya ?” tanyaku.

 

“Ne, begitulah.” ucapnya sambil tersenyum-senyum lagi.

 

Perasaan cemburu ini muncul lagi,

 

“Siapa gadis itu? Beritahu aku ..” ucapku membujuknya.

 

“Kalau itu rahasia ..” ucapnya sambil tersenyum evil.

 

“Huh. Kukira kau berbaik hati untukku. Ternyata tidak …” ucapku sambil mengerucutkan bibirku.

 

“Hahah .. kau lucu sekali!” sontaknya dengan tawa yang semakin lama semakin mengeras.

 

“Ya, Cho Kyuhyun! Diamlah!” ucapku kesal dibuatnya.

 

“Ne, baiklah. Kau jangan menangis lagi .. aku paling benci kalau seorang wanita menangis karenaku ..” ucapnya.

 

“Makanya jangan mengganggu wanita ..” ucapku menasehatinya.

 

“Kau seperti oemma-ku saja, selalu saja cerewet ..” ucapnya.

 

“Apa yang kau katakan? Coba ulangi lagi!” ucapku kesal.

 

“Heheh .. peace!” ucapnya sambil menunjukkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke wajahku.

 

“Ne, baiklah.” ucapku menyerah.

 

“Aku lapar ..” ucapnya sambil memegang perutnya.

 

“Ya, aku juga. Jadi bagaimana? Gerbang kampus dikunci ..” ucapku.

 

“Aku tahu! Bagaimana kalau kita memanjat?” usulnya.

 

“Mwo? Aku tidak bisa memanjat!” ucapku.

 

“Tenang … aku akan membantumu, Kajja! Bawa tasmu!” ucapnya sambil menarik tanganku.

 

“Ne, ne ..” ucapku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

 

“1 .. 2 .. 3!!”

 

Ya! Aku berhasil memanjat! Tapi bagaimana caranya turun? Aku takut dengan ketinggian.

 

“Cepatlah turun! Aku akan menangkapmu!” ucap Kyuhyun.

 

“Ba-baik-lah … AAAAAHH!!” ucapku ketakutan.

 

BRUKK

 

Aku terjatuh di atas tubuh Kyuhyun.

 

“Kyu-ah, gwechanayo? Mianhae .. jeongmal mianhae …” ucapku sambil melihat keadaan Kyuhyun.

 

“Aku baik-baik saja, kau ternyata berat juga ya?” ucapnya yang membuat telingaku memanas.

 

“Ya, apa yang kau katakan?” ucapku.

 

“Sudahlah .. lebih baik ayo kita cari makanan … aku lapaar.” ucapnya sambil berjalan mendahuluiku agar bisa menghindar dari amarahku.

 

“Ya, Cho Kyuhyun!!” seruku sambil mengejarnya.

 

-o0o-

“Makanan ini sungguh enak ..” pujiku kepada ajjhuma pemilik kedai yang telah kutempati dengan Kyuhyun.

 

“Gamsahamnida .. lain kali datang ke sini lagi ya,” ucap ajjhuma itu sambil tersenyum kepadaku dan pada Kyuhyun.

 

“Baiklah, lain kali kami akan datang … Annyeong.” ucap Kyuhyun sambil membungkuk.

 

Aku dan Kyuhyun langsung berjalan beriringan keluar dari kedai.

 

“Kau sudah kenyang?” tanya Kyuhyun padaku.

 

“Ne, kau?” ucapku singkat.

 

“Hmmm .. begitulah,” ucapnya.

 

TIT

 

Klakson mobil terdengar, aku langsung mengarahkan mataku ke sebuah mobil.

 

“Ya, hyung! Kenapa baru menjemputku?” ucap Kyuhyun yang berbicara dengan pengendara mobil itu, sepertinya itu kakaknya, Donghae oppa yang di Sulli pernah ceritakan padaku.

 

“Seohyun-ah!” suara Yoona unnie terdengar dari dalam mobil itu.

 

“Unnie?” ucapku bingung melihat Yoona unnie berada di dalam mobil itu.

 

Yoona unnie langsung keluar dari mobil untuk menghampiriku.

 

“Mianhae, Seohyun-ah. Tadi unnie lupa memberitahumu kalau unnie pergi dengan teman unnie .. Kau mau memaafkanku?” ucap Yoona unnie merasa bersalah.

 

“Ne, tidak apa-apa. Lebih baik kita pulang unnie, aku mengantuk ..” ucapku sambil tersenyum pada unnie.

 

“Baiklah, tapi unnie ingin mengambil mobil di kampus dulu .. tak apa kan?” ucap unnie.

 

“Ne, kita naik apa?” ucapku.

 

“Mobil itu ..” ucap unnie sambil menunjuk-nunjuk mobil yang tadi dinaiki unnie.

 

“Kajja!” ucap Yoona unnie sambil menarik tanganku.

 

Setelah masuk ke dalam mobil, unnie langsung menyuruh Donghae oppa untuk pergi ke kampus sebentar.

 

“Seohyun-ah, kenapa kau bisa bersama dongsaengku yang evil ini?” tanya Donghae oppa memulai pembicaraan di atas mobil.

 

“Ya, hyung! Apa yang kau katakan? Itu karena hyung yang lupa padaku dan meninggalkanku di kampus.” jawab Kyuhyun.

 

“Hei, aku bertanya pada Seohyun .. bukan kau!” ucap Donghae oppa sambil mengendarai mobil.

 

‘Adik dan kakak sama saja.’ batinku.

 

“Ya, kalian berdua!” lerai Yoona unnie.

 

“Ne, chagi.” ucap Donghae oppa.

 

Tunggu dulu! Chagi? Apa Yoona unnie berpacaran dengan Donghae oppa?

 

“Hyung, kau berpacaran dengan Yoona noona?” selidik Kyuhyun.

 

“Mwo? Kau tahu darimana?” sontak Donghae oppa.

 

“Tadi hyung memanggil Yoona noona dengan chagi ..” jawab Kyuhyun.

 

“Heheh ..” Donghae oppa hanya menggaruk-garuk kepalanya.

 

“Yoona noona, kusarankan berhati-hatilah dengan hyung-ku ini .. dia mesum!” terang Kyuhyun.

 

“Ya! Apa yang kau katakan? Cepat ulangi lagi!” ucap Donghae oppa.

 

“Sudahlah, kubilang jangan ribut!” ucap unnie mulai kesal.

 

“Ne, noona.” jawab Kyuhyun.

 

“Kita sampai!” seru Donghae oppa.

 

“Tapi bagaimana cara mengambil mobil di dalam? Gerbang kampus dikunci, tadi saja aku dan Kyu memanjat gerbang kampus ..” ucapku.

 

“Tenang, aku punya kunci cadangannya.” ucap Kyuhyun santai sambil mengeluarkan kunci dari kantong celananya.

 

“Ya, Cho Kyuhyun! Tadi kenapa kau tidak mengeluarkannya saat kita berdua di dalam kampus?” ucapku kesal.

 

“Waktu itu aku lupa, tapi sekarang aku baru ingat membawanya .. heheh ..” ucapnya tanpa rasa bersalah.

 

Donghae oppa dan Yoona unnie hanya geleng-geleng melihat tingkah kami berdua.

 

KLEK

 

Kyuhyun berhasil membuka gerbang kampus, Yoona unnie langsung masuk ke dalam untuk mengeluarkan mobil.

 

Hooamm .. aku mengantuk … kapan aku dan unnie akan pulang? Aku sangat-sangat ingin tidur ..

 

“Seohyun-ah! Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Kajja, kita pulang!” ucap Yoona unnie.

 

“Ne, unnie. Aku mengambil tasku dulu.” ucapku sambil mengambil tasku dan masuk ke dalam mobil unnie.

 

“Gomawo ~ kami pulang dulu .. Kalkayo!” ucap Yoona unnie.

 

“Ne, chagi! Jangan lupa menelponku!” ucap Donghae oppa sambil melambai pada unnie.

 

“Ne, noona!” ucap Kyuhyun dengan senyumnya.

 

Huh. Kenapa dia tidak menyapaku juga?

Ya, apa yang kupikirkan? Berharap dia menyapaku? Kenapa aku berpikiran seperti itu?

 

Setelah sampai di apartemen, aku langsung menghepaskan tubuhku ke ranjang. Aku benar-benar lelah.

 

-o0o-

“Yoona unnie, kajja kita pergi!” ucapku sambil menarik tangan unnie.

 

“Tumben kau semangat sekali? Baiklah, ayo kita pergi.” ucap Yoona unnie mengiyakan ajakanku.

 

Sesampainya di kampus, Donghae oppa sudah menunggu Yoona unnie di depan gerbang kampus.

 

“Akhirnya kau datang juga, chagiya.” ucap Donghae oppa berseri-seri.

 

“Ne! Ayo masuk!” ucap unnie sambil menggandeng tangan Donghae oppa.

 

Huh. Kenapa hanya aku saja yang tidak mempunyai pasangan? Tak apalah, yang penting aku punya Sulli!
Tunggu, tapi di mana Sulli? Mungkin saja dia ada di dalam gedung .. lebih baik aku masuk saja.

 

“Anak itu dimana? Kenapa aku tidak meliha ….”

 

BRUK

 

Seseorang menahanku di dinding. Sepertinya wajah orang itu dan wajahku sangat dekat, karena aku bisa merasakan nafas orang itu di wajahku.

 

“Huh, hampir saja …”

 

Suara ini ……. Cho Kyuhyun!!

 

Aku langsung membuka mataku dan melihat wajah Kyuhyun dalam jarak dekat,

 

DEG

 

Sekarang dia sedang menahanku sekaligus memelukku, tinggal 1 cm lagi aku bisa menyentuh hidungnya.

Aku tidak bisa melepaskan diriku, dia menahanku dengan kuat.

 

“Kyu-ah .. lepaskan …” ucapku memelas.

 

“Tunggu sebentar lagi, mereka masih mencariku ..” ucap Kyuhyun datar.

 

“Mereka? Siapa mereka?” ucapku bingung.

 

“Fansku.” ucapnya singkat.

 

“Sekarang …..” ucapnya yang masih terpotong.

 

“Apa?” ucapku bingung.

 

“Lari!” ucapnya sambil mengenggam tanganku sambil berlari.

 

Kami berdua berlari seperti dikejar setan … hei, tunggu dulu! kenapa aku harus terlibat dalam hal ini?

“Sampai kapan kita akan berlari?” ucapku sambil berlari.

 

“Sampai aku menyuruhmu berhenti.” jawabnya santai.

 

“Ya, kenapa aku harus terlibat!” ucapku kesal.

 

“Tidak usah banyak tanya, tunggu saja sampai aku menyuruhmu berhenti!” ucapnya sambil berlari.

 

Argh. Dasar evil!!! Aku seperti ingin menendangmu keluar!

 

“Berhenti!” serunya.

 

“Ne, aku tahu! Kau kira aku tuli?” ucapku kesal.

 

“Baiklah .. baik .. sekarang kau boleh pergi ..” ucapnya.

 

“Hei, kau tidak diajarkan berterima kasih pada orang lain?” ucapku.

 

“Ne, ne .. GOMAWO SEO JOO HYUN!” ucapnya terpaksa.

 

“Ya! itu namanya tidak ikhlas .. kau harus berterima kasih dengan ikhlas, cepat ulangi lagi!” ucapku.

 

“Huh. Gomawo Seohyun-ah ..” ucapnya.

 

“Bagus! Cheonmaneyo, Kyu-ah!” ucapku senang.

 

Haahahah. Tertipu!

Lebih baik aku kabur saja! Hahah.

Aku langsung berlari meninggalkan Kyuhyun dan mulai berjalan leluasa.

Sebenarnya Sulli dimana? Aku tidak melihatnya hari ini,

 

Tiba-tiba kulihat seorang anak kecil berdiri tepat di depanku, siapa anak ini? Kenapa dia bisa masuk ke dalam kampus?

 

“Namamu siapa?” tanyaku pada anak kecil itu.

 

“Namaku JooYoon.” ucapnya.

 

“Kenapa kau bisa di sini?” tanyaku lagi.

 

“Aku disuruh untuk memanggil noona .. orangnya menunggu noona di sana!” ucapnya sambil menunjuk lorong kampus yang belum kuketahui tempatnya.

 

“Oh, gomawo. Ini kuberikan permen ..” ucapku sambil mengambil lolipop dari dalam tas dan memberikannya.

 

“Gomawo, noona.” ucapnya sambil tersenyum dan berlari keluar.

 

Aku pun langsung berjalan ke arah lorong yang ditunjukkan anak kecil itu, tempat apa ini?

 

PUK

 

Sebuah benda keras mengenai kepalaku, dengan tidak sadar diri aku terjatuh dan pingsan.

 

-o0o-

Aku membuka kelopak mataku, tempat apa ini? Seperti sebuah gudang …

Tubuh dan lenganku terikat di sebuah kursi yang sekarang kududuki dengan kuat.

Aku tidak bisa bergerak. Aku sudah mencoba melepaskan ikatan itu .. tapi semua sia-sia.

Yang hanya bisa kugerakkan hanya kakiku. Siapa yang telah melakukan ini semua?

 

“Tolong!!” teriakku sekuat tenaga.

 

Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka, aku melihat seorang yeoja masuk ke dalam ruangan ini.
Di belakangnya keluar 2 orang yeoja yang sama sekali tidak kukenal.

Siapa mereka?
Mereka semua menatapku dengan tatapan sinis, terutama dengan yeoja paling pertama masuk ke dalam ruangan ini.

 

“K-kau sia-pa?” ucapku pada yeoja itu.

 

“Aku? Kau tidak perlu tahu siapa aku.” ucapnya sinis.

 

“Dan sekarang, aku ingin menanyakan sesuatu padamu .. kenapa kau harus bersama Kyuhyun hah?” ucapnya lagi dengan tatapan sinis padaku.

 

“Aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja, termasuk Kyuhyun. Kenapa? Kau ingin melarangku?” ucapku dengan berani.

 

Jujur .. aku tidak takut dengannya, kenapa aku harus takut? Aku sama sekali tidak bersalah terhadapnya.

 

“Ya! Apa yang kau katakan? Tentu aku akan melarangmu bersamanya, kau tidak pantas bersamanya!!” ucapnya yang lagi-lagi dengan sinis.

 

“Kalau aku bersamanya, apa ancamanmu? Membunuhku? Silakan!” ucapku.

 

“Apa?!” ucapnya sambil menampar pipi kiriku dengan kasar.

 

PLAK

 

“Lepaskan aku!!” seruku.

 

“Tidak, sebelum kau berjanji untuk tidak lagi mendekati Kyuhyun!!” ucapnya dengan nada tinggi.

 

“Andwae!!” seruku.

 

“Ya! Berani sekali kau!” ucapnya sambil menampar pipi kananku lagi dengan kasar.

 

PLAK

 

Aku hanya menahan sakit saat dia menamparku.

 

END Seohyun POV

 

-o0o-

Kyuhyun POV

 

Ya! Dimana anak itu? Kenapa dia langsung berjalan meninggalkanku? Awas kau Seohyun-ah!

Aku mulai berjalan ketika mendengar sebuah teriakan dari sebuah lorong di sampingku, terdengar jelas sekali ketika seseorang berseru,

 

“Lepaskan aku!!”

 

Hei, tunggu dulu!! Suara ini … suara ini … Seohyun!

 

Aku langsung mengendap-ngendap masuk ke dalam lorong itu dan melihat sebuah pintu yang terbuka lebar ..

 

“Tidak, sebelum kau berjanji untuk tidak lagi mendekati Kyuhyun!!” ucap seseorang.

 

Huh. Siapa lagi yang menyebut namaku?!

 

“Andwae!!”

 

Suara Seohyun terdengar di dalam pintu itu.

Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi,

 

Di ambang pintu, kulihat Seohyun terikat di sebuah kursi,

 

PLAK

 

Seorang yeoja menamparnya dengan kasar, berani sekali dia menampar Seohyun!

 

“Ya! Berani sekali kau!” ucap yeoja itu pada Seohyun.

 

Tunggu dulu, wajah yeoja ini seperti familiar bagiku .. Ya! yeoja itu Victoria!

 

“Cukup!!” seruku di ambang pintu.

 

Semua mata mengarah padaku.

 

“Kyu-ah? Kenapa kau bisa berada di sini?!” ucap Victoria kaget melihatku.

 

“Apa yang telah kau lakukan pada Seohyun?” ucapku.

 

“A-A-ku ….”

 

“Sudahlah! Lebih baik kau dan temanmu keluar dari sini!” usirku.

 

“Ne,” singkatnya sambil memberi tanda kepada kedua temannya untuk keluar.

 

Setelah mereka keluar, aku langsung melepaskan ikatan tali dari tubuh Seohyun.

 

“Kyu-ah …. gomawo ..” ucapnya sambil tersenyum padaku.

 

“Ayo keluar!” ucapku sambil menarik tangannya.

 

“Ne!” ujarnya mantap.

 

Apa aku harus mengatakannya sekarang? Nanti sajalah ..

 

“Kau mau pergi kemana?” tanyaku.

 

“Aku mau ke atap kampus, kau mau ikut?” ucapnya.

 

“Baiklah, kajja!” ucapku sambil menarik tangannya.

 

Setelah menaiki banyak tangga, kami telah sampai di atap.

Tempat ini sejuk sekali … aku bisa merasakan angin yang menerpa wajahku ..

 

Lebih baik aku mengatakannya sekarang sebelum terlambat,

 

“Seohyun-ah .. sebenarnya sebentar lagi aku dan hyung-ku akan berangkat ke Jepang,” ucapku.

 

“Lalu?” ucapnya sambil duduk di sebuah bangku panjang.

 

“Lalu tahun depan aku dan hyung-ku akan kembali …” ucapku melanjutkan.

 

“Oh.” raut wajahnya yang ceria tiba-tiba berubah menjadi pucat.

 

“Dan satu hal yang paling penting akan kukatakan kepadamu … kau mau menungguku sampai akhirnya tiba kan? Saranghae Seo Joo Hyun …” ucapku sambil duduk di sampingnya.

 

“Apa kau sakit Kyu-ah?” ucapnya sambil meraba-raba dahiku.

 

Aku langsung menyingkirkan tangannya dari dahiku,

 

“Aniyo, Saranghae Seohyun-ah .. kau mau menjadi yeojachingu-ku?” ucapku sambil menatapnya.

 

END Kyuhyun POV

 

-o0o-

Seohyun POV

 

“Ne, nado Saranghae Kyu-ah ..” ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

 

“Jadi, kau mau menungguku?” ucapnya.

 

“Pasti!” ujarku mantap.

 

CHU

 

Dia mencium bibirku dengan lembut, kali ini dia memberikanku sebuah ciuman tulus …

Aku lalu melepaskan ciuman itu, dan menatapnya ..

 

“Kajja kita turun, sebentar lagi kelas dimulai!” ucapnya.

 

“Tunggu dulu! Cepat beritahukan gadis yang kau sukai itu, yang kau pernah ceritakan kemarin malam ..” ucapku.

 

“Yeoja itu adalah yeoja yang sekarang berdiri di sampingku dan pernah kucium saat pertama kali aku melihatnya ..” ucap Kyuhyun dengan senyum evilnya.

 

“Siapa yeoja itu?” ucapku masih bingung.

 

“Uh, anak ini. Ya! itu kau chagi!” seru Kyuhyun masih dengan senyum evilnya.

 

“Ne, terserahlah .. yang penting aku sudah memilikimu!” ucapku.

 

“Saat aku pertama kali bertemu denganmu kau polos sekali .. tapi sekarang kau berubah drastis ..” ucapnya dengan nada mengejek.

 

“Ya, itu tidak penting ..” ucapku memotong.

 

“Kajja kita turun dari sini!” ucapnya sambil menggandeng tanganku erat.

 

“Tak apa kalau kita berpegangan tangan? Aku takut diserang para fansmu itu …” ucapku.

 

“Biarkan saja para fansku .. aku pasti akan melindungimu, ingat itu!” ucapnya percaya diri.

 

“Ne, baiklah!” ucapku sambil tersenyum.

 

-o0o-

Setahun berlalu setelah dia menyuruhku berjanji untuk menunggunya.

Kau tahu Cho Kyuhyun, aku sudah menunggumu … Sekarang waktunya kau harus menepati janjimu itu ..

 

Aku hanya menghela napas dan berdiri dari tempatku berbaring untuk mencari udara segar di luar.

 

“Unnie, aku keluar sebentar! nanti aku akan kembali ..” seruku pada unnie yang sedang menonton TV di ruang tamu.

 

“Ne!” seru unnie dari dalam.

 

Aku langsung menutup pintu apartemen, dan turun memakai lift.

 

Setelah sampai di lantai 1, aku langsung keluar dan melihat sebuah mobil hitam yang masuk ke dalam kawasan gedung ini.

 

Mobil ini … Seperti mobil Kyuhyun ..

 

Aku melihat seorang namja keluar dari mobil itu, namja itu adalah Donghae oppa!

Sepertinya Donghae oppa ingin menemui Yoona unnie .. Itu pasti!

Tapi, tunggu dulu! Dimana Kyuhyun?

 

Aku lalu menyapa Donghae oppa,

 

“Apakah Yoona ada?” tanya Donghae oppa.

 

“Ne, unnie sedang menonton TV di ruang tamu.” ucapku.

 

“Oh, baiklah. Kyuhyun sedang menunggumu di mobil ..” ucap Donghae oppa.

 

“Hmm? Ne, gomawo oppa.” ucapku sambil menyingkir agar Donghae oppa bisa masuk ke dalam gedung.

 

Ya, kenapa dia tidak keluar? Malah menyuruhku mendatanginya di mobil.

Aku langsung berjalan menuju mobil dan mengetuk kaca mobil itu.

 

“Ya, Kyu-ah .. cepatlah keluar!” ucapku.

 

Jendela mobil terbuka lebar .. wajah Kyuhyun mulai nampak, tidak terkecuali dengan senyum evilnya itu,

 

“Baik .. baik .. aku akan keluar, chagi.” ucapnya sambil mengangkat tangannya seperti ditangkap oleh seorang polisi wanita.

 

“Cepatlah! Kalau kau tidak keluar, aku akan kembali ke apartemen …” ucapku sambil berjalan meninggalkan mobil.

 

“Ne, ne, baiklah!” serunya sambil keluar dari mobil dan mengejarku dari belakang.

 

Dia langsung menggandeng tanganku dan menarikku ke mobil.

 

“Kajja! Hari ini adalah hari kencan kita yang pertama!” ucapnya sambil tersenyum ke arahku.

 

“Ne!” ujarku sambil balik tersenyum padanya.

END

Yes ! Akhirnya end juga nih FF :D  FFnya panjang gak ?

Jelek banget FFnya (-__-) Mianhae, ini karena author gak ada ide ..

Jangan lupa like / commentnya ya !

Author lagi ngebuat FF Two-Shoot + One-Shoot nih .. jadi tunggu aja ya :) Ada usulan FF ? Comment ya !

Sekian –

Gomawo sudah mau membaca FF ini ^^

BYE READERS !

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.